Abdul Mubarok Semai Bibit Tanaman untuk Lestarikan Lingkungan

KAMIS 5 JANUARI 2017
LAMPUNG—Usianya masih belia tapi soal bibit tanaman pemuda ini cukup mumpuni dan mengetahui secara mendetail semua jenis bibit tanaman yang ditanam, dirawat,dan dibudidayakan di areal sawah milik sang ayah,Komarudin (40). 
Abdul Mubarok (18) berada di lokasi persemaian pohion mahoni berusia 3 bulan yang dibudidayakannya.
Abdul Mubarok (18) lulusan salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Desa Rawi Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan ini tak lazimnya anak anak seusianya yang masih senang bermain melainkan justru sibuk mengurus bibit bibit tanaman baik pohon buah buahan,pohon produksi perkebunan serta beragam jenis pohon lain yang sudah hampir punah.
Bersama sang ayah yang juga aktif dalam penyediaan bibit berbagai jenis tanaman mulai dari penyiapan media tanam menggunakan polybag,pupuk serta tanah yang  digunakan sebagai media persemaian bibit. Sebuah lokasi khusus pun disiapkan untuk penyiapan bibit dengan menggunkan jaring sebagai pagar untuk melindungi sengatan langsung sinar matahari.
Selain beberapa bibit tanaman produksi ditanam di polybag yang berada di dekat rumah bersama sang ayah Abdul juga mempersiapkan beragam bibit tanaman di areal persawahan yang sekaligus dijadikan pusat pembibitan. Beberapa jenis bibit yang disiapkan diantaranya gaharu (Aquilaria moluccensis), Gandaria (Bouea macrophylla), Lada (Piper nigrum), Pala (Myristica fragrans), Kenanga (Cananga odorata).
“Awalnya saya sengaja membantu ayah tapi melihat potensi bibit dan keprihatinan akan lingkungan yang mulai banyak kurang pohon saya justru ikut tertarik dan mulai mengembangkan bibit berbagai tanaman”ungkap pemuda asal Desa Rawi Kecamatan Penengahan Abdul Mubarok saat dikonfirmasi Cendana News di kebun pembibitan yang dikelolanya,Kamis (5/1/2017).
Bibit pohon jabon sisa yang sebagian sudah ditanam tetap tumbuh meninggi di lokasi persemaian.
Beberapa ribu bibit yang sudah disebar ke beberapa petani di wilayah Lampung Selatan untuk pohon penghijauan dan pohon untuk pelestarian lingkungan pedesaan di antaranya pohon mahoni untuk ditanam di sepanjang jalan desa serta upaya melestarikan tanaman di kawasan hutan bersama kelompok pecinta alam. Selain diberikan secara cuma cuma sebagian bibit tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya pala,cengkeh,kakao dijual dengan harga berkisar Rp3 ribu hingga Rp5 ribu setiap bibitnya.
Berangkat dari ketertarikan akan pelestarian lingkungan Abdul Mubarok juga mengaku kerpihatinan terkait sudah semakin langkanya beberapa tanaman sudah langka.
“Saya melakukan proses pembibitan ini selain untuk pelestarian lingkungan juga agrobisnis karena selepas sekolah dan juga memasuki kuliah saya bisa mempergunakan waktu luang untuk memproduksi bibit,”ungkap Abdul Mubarok.
Saat ini ia di persemaian yang dimiliknya masih tersedia ribuan bibit berumur sekitar 6 bulan yang siap dibagikan kepada para petani dan pekebun di kawasan sekitar hutan lindung Gunung Rajabasa diantaranya jenis tanaman mahoni,bayur,jabon dan juga tanaman petai.
Selain tanaman mahoni, Abdul Mubarok juga menyiapkan ribuan jenis bibit tanaman sengon, tanaman petai, tanaman cengkeh, kopi coklat serta beberapa tanaman endemis Kalianda diantaranya tanaman Gayam, Medang, merbau, Damar mata kucing, Babulang, Kecapi, Namnam, Raman, Loba Lobi, cermain, Seungkuk, Rukum dan tanaman lain. Beberapa tanaman khas tersebut bahkan menurut Abdul Mubarok bahkan menjadi nama daerah yang hingga kini masih dipertahankan.
Ia mengaku prihatin jika mengunjungi beberapa desa di kaki Gunung Rajabasa maka akan banyak ditemui nama nama desa di Lampung berasal dari nama tanaman dan nama daerahnya masih ada tapi tanamannya tidak ada lagi, seperti Gayam, Kecapi, merbau Mataram yang hingga kini masih ada. Namun di beberapa desa tersebut nama nama pohon dan tanaman yang digunakan sebagai nama desa sudah tak bisa ditemukan lagi karena punah dan digunakan sebagai bahan bangunan.
Abdul Mubarok bersama sang ayah mengaku selain tetap membudidayakan dan membuat bibit beragam tanaman langka dan tanaman yang banyak ditanam masyarakat karena tanaman tanaman tersebut merupakan tanaman khas wilayah hutan Lampung. Bersama kelompok pecinta alam Gunung Rajabasa  ia bahkan melakukan penanaman berbagai jenis tanaman di sekitar register I Way Pisang .
Kini meski sebagian bibit tanaman yang dibudidayakan telah habis sebagian karena diambil oleh para petani untuk dijual pada tahap penanaman selanjutnya ia telah menyiapkan bedengan bedengan khusus sebagai media semai yang baru. Beberapa ribu polybag bahkan telah disiapkan untuk menyemai tanaman buah buahan dan jenis tanaman kayu keras lainnya.
“Saya kerjakan semua ini disela sela menunggu waktu untuk masuk kuliah karena saya ingin masuk ke jurusan kehutanan tapi masih menunggu tahun depan”ungkap Abdul Mubarok.
Menyiapkan persemaian buah pinang sebelum dipindah ke polybag.
Selain menekuni usaha pembibitan ia juga aktif dalam kegiatan pemuda pecinta alam dengan melakukan konservasi sejumlah pantai dan juga kawasan hutan yang dipadukan dengan kegiatan wisata. Menggunakan konsep berpetualang sambil berwisata dan menanam ia bahkan telah mengajak komunitas pemuda melakukan penanaman di kawasan Register I dengan menanam bambu,pinang dan aren di sepanjang daerah aliran sungai. Kegiatan kegiatan yang diakuinya belum bisa dimanfaatkan pada saat ini juga sekaligus memberinya kesempatan untuk mengajak anak anak muda mencintai lingkungan.
“Ada komunitas yang setiap akhir bulan mengunjungi daerah yang kami rencanakan sebelumnya dengan membawa bibit tanaman terakhir di wilayah pantai untuk menanam mangrove”ungkap Abdul Mubarok.
Selain itu ia juga tetap mengajak anak anak muda seusianya untuk mulai mencintai menanam pohon dengan mengajak para orangtua memanfaatkan lahan yang ada. Sebab menurut Abdul Mubarok seperti diajarkan sang ayah menanam pohon menjadi salah satu upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan sebagai investasi masa depan baik jangka panjang maupun jangka menengah.
Penanaman pohon untuk jangka menengah diantaranya jenis pohon Pala yang banyak dikembangkan dengan masa tanam sekitar 6 tahun sudah bisa dipanen buahnya dan harga satu kilo buah pala mencapai Rp70 ribu perkilo. Meski masih cukup muda kepedulian Abdul untuk membantu pelestarian lingkungan dengan menyiapkan bibit berbagai jenis tanaman ditunjukkannya dengan terus memproduksi bibit baik karena adanya permintaan maupun saat tidak ada permintaan.
Bibit pohon bayur di persemaian yang akan dikirim untuk penghijauan Gunung Rajabasa.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...