SENIN 19 DESEMBER 2016
BANDUNG—Sudah sewajarnya para musisi memainkan alat musik atau bernyanyi hingga menghasilkan karya jempolan dan laik jual. Namun luar biasa jika andil pula melestarikan musik khas Indonesia, seperti semangat yang diusung Keroncong Tujuh Putri (KTP).
![]() |
| Keroncong Tujuh Puteri (KTP) sehabis sebuah pertunjukkan. |
Kelompok musik ini dihuni jebolan Fakultas Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang dibentuk tepat pada hari Kartini, 21 April 2014 lalu. Adapun personelnya adalah Gina (cak), Rachma (vokal), Intan (contra bass), Lisa (cello), Marsha (gitar), Prilia (cuk) dan Tria (vokal/flute).
Dewasa ini boleh dibilang telinga generasi muda lebih akrab mendengarkan musik ala Electronic Dance Music (EDM) juga K-pop, J-pop, indie pop, indie rock dan genre lainnya. Lantas apa yang membuat tujuh mojang ini optimis bersaing di jalur keroncong?
“Kita yakin karena saingannya pun belum cukup banyak. Berbeda dengan genre jazz, pop, r&b (rhythm and blues) dan lain-lain. Apalagi kita personilya semua wanita dan masih muda, itu jarang,” ujar gitaris KTP, Marsha.
Sebagai genre musik peninggalan Portugis yang bermetamorfosis di Indonesia, keroncong memiliki pola ritmik khas dan unik. Karena itu KTP merasa perlu mengenalkannya kepada penikmat musik muda.
Terlebih sejauh ini sebagian masyarakat masih memiliki paradigma bahwa keroncong adalah aliran musik yang ketinggalan zaman. Melalui karyanya, KTP ingin membuktikan, bahwa musik jenis ini mampu lintas generasi.
“Misi kita yaitu ingin melestarikan musik dari Indonesia yaitu keroncong. Dan tentunya untuk generasi muda agar ikut mengenal dan mencintai jenis musik ini,” katanya.
Untuk bisa menyetuh anak muda atau masyarakat moderen, mau tak mau diperlukan inovasi. Menurutnya perkembangan jadi kunci agar musik keroncong ini tidak punah. Dengan syarat, tidak meninggalkan ciri khas musik tersebut. Memang, mojang yang karib disapa Mano ini menyampaikan, masih ada penikmat musik keroncong yang tidak bisa menerima adanya perkembangan itu.
“Di mata kita keroncong sekarang sudah mengalami banyak perkembangan dan tidak mengacu kepada pakem-pakem. Contoh, kita membawakan lagu moderen dengan rasa keroncong,” tuturnya.
Selain lagu keroncong asli dan langgam, KTP juga getol mencover lagu-lagu yang sedang nge-top. Sebut saja lagu “Kau Adalah” milik Isyana Sarasvati, “Could It Be” milik Raisa. Juga lagu asing, salah satunya “Problem” yang ditenarkan Ariana Grande. Sementara lagu keroncong yang biasa KTP bawakan yaitu “Keroncong Kemayoran” yang sempat dipopulerkan oleh Helen Sparingga. Selain itu ada pula tembang ciptaan Maladi yang juga dinyanyikan Sundari Soekotjo yaitu “Di bawah Sinar Bulan Purnama”.
“Sejauh ini sambutan anak-anak muda sangat bagus. Mereka antusias melihat kita membawakan lagu-lagu moderen yang kita bawakan dengan cara musik keroncong. Walaupun tidak jarang kita dipandang sebelah mata saat mereka tahu kita membawakan lagu keroncong. Tapi setelah kita membawakan lagu mereka antusia juga,” kata dia.
Disinggung soal pentas paling berkesan, Mano mengaku saat berkesempatan manggung di helatan 50 tahun Sundari Soekotjo. Sebelumnya, KTP juga pernah berkolaborasi dengan salah satu maestro keroncong tersebut, di acara Kedjora 2016.
Namun ada harapan dari KTP yang selama dua tahun dibentuk ini belum tercapai. Apa itu?
“Ya pastinya pengen mentas di luar negeri dong,” ucapnya.
![]() |
| Marsha yang karib dipanggil Mano. |
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudiansyah/Dokumentasi KTP
