Danu, Sang Pemegang Cuk di Keroncong Kurmunadi

SENIN 19 DESEMBER 2016

SURABAYA— Mendengar kata keroncong, mungkin untuk sebagian orang akan langsung diidentikan dengan musik yang ketinggalan zaman. Apalagi mengenai penikmat dan pemain musik keroncong, pasti akan langsung mengarah pada kaum orang tua. Tetapi pandangan-pandangan miring itu akan terbantahkan saat mengenal satu Grup Musik Keroncong asal Surabaya. Orkes Keroncong Kurmunadi nama grupnya.
Danu saat unjuk kebolehan memainkan instrumen Cuk.
Grup keroncong yang berkomposisikan kaum muda ini dipelopori lelaki yang bernama lengkap Sigit Aji Syafi’I, seorang mahasiswa lulusan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa)  Jurusan Seni Drama Tari Musik (Sendratasik). Dibentuk awal 2012 lalu, saat Sigit masih menginjak semester lima. Pada saat itu pula Sigit menerima  mata kuliah keroncong. Dari situ, muncul gagasan dibenak Sigit untuk membuat grup keroncong.
Grup keroncong Kurmunadi ini, memiliki 10 personil, 8 orang pemegang instrumen dan 2 orang sebagai vokalis. Dalam musik keroncong,  Instrumen keroncong yang paling menonjol yakni Cak, Cuk dan Cello.Instrumen  Cuk dimainkan oleh salah satu personil kurmunadi yang bernama Danu Hisa Kumala.
Lelaki yang lebih akrab disapa Danu ini, juga merupakan lulusan FBS Unesa Jurusan Sendratasik. Ia mengaku mulai bergabung dalam grup keroncong Kurmunadi sudah sejak tahun 2012 saat ada acara festival keroncong di Surabaya. Lelaki asal trenggalek ini menceritakan, awalnya memang dirinya suka dengan musik keroncong. Apalagi dalam dirinya mengalir darah seniman dari sang ayah yang juga pegiat musik keroncong di daerah Trenggalek.
“Kebetulan memang waktu kuliah ada mata kuliah keroncong. Dari situ muncul ketertarikan untuk belajar lebih terkait musik keroncong,” ujar Danu saat ditemui dikontrakannya, Rabu, (14/12/2016) di Daerah Lidah Kulon Gang 3 Nomor 25.
Danu menambahkan, walaupun sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sudah diajari musik keroncong oleh sang ayah, tapi minatnya untuk menekuni belajar musik keroncong masih kecil. Karena Danu saat masih SMA lebih tertarik menekuni musik modern. “Karena dulu saya lebih seneng ngeband.  Ngak tertarik sama keroncong,” kata Danu.
Yang membuat akhirnya Danu jatuh hati untuk menekuni belajar musik keroncong adalah rasa kebanggaan terhadap musik keroncong yang harus tetap dilestarikan. Menurut Danu musik keroncong merupakan musik yang original dari kehebatan musikalitas nenek moyang terdahulu.
“Okelah alat-alatnya mungkin transformasi dari alat-alat Eropa. Tapi murni pola-pola, Ritme, Melodi, semuanya yang buat adalah nenek moyang kita. Dari situ saya berpikir bahwa musik keroncong ini adalah musik yang harus tetap terus dilestarikan,” ujar Danu.
Hebatnya musik keroncong itu, imbuh Danu, dulu musik di Indonesia itu hanya ada musik pentatonik, musik-musik karawitan, gamelan dan lainnya. Tapi musik keroncong itu bisa hadir dengan jenis musik diatonik yang diolah dengan rasa lokal masyarakatnya. Selain sibuk dengan Grup Kroncong Kurmunadi, sekarang Danu juga sibuk menyelesaikan studi masternya di Unesa mengambil Pendidikan Seni Budaya. Selain itu, ia juga disibukan menjadi guru privat musik bagi siswa-siswa mulai dari tingkat SD hingga menengah.
Danu mengaku selama ini tidak ada kendala terkait dirinya disibukkan dengan berbagai agenda pribadinya. “Saya kan juga pasti mengatur waktu. Senin sampai Rabu saya gunakan untuk selain Kurmunadi. Selebihnya saya pasti siap untuk Kurmunadi,” tandasnya.
Ditanya terkait album ketiga Kurmunadi yang sedang digarap, Danu mengaku sedang menyiapkan satu lirik lagu khusus yang masih dirahasiakan judul lagunya. “Semoga diberi kelancaranlah dalam penggarapan album ketiga Kurmunadi ini,” harap Danu dengan nada penuh optimis.
Sigit menunjukkan kebolehannya memainkan Instrumen Cak saat ditemui di basecamp Kurmunadi.
 Jurnalis: Nanang WP/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nanang WP/Dokumentasi Kurmunadi
Lihat juga...