Tabur Puja: Tantangan, Solusi dan Format Kemandirian Posdaya

SABTU, 10 DESEMBER 2016
JAKARTA — Tak ada manusia yang hidup di dunia ini tanpa dihinggapi masalah. Namun perlu diingat dan dipahami, jika tidak ada masalah tanpa solusi. Itulah yang diyakini oleh Koperasi Sistem Usaha Damai Sejahtera (Sudara Indra) sebagai mitra Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) dalam upaya pembinaan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), melalui Program Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja).
Heri Haryadi, SE  dan DR. Moch. Soedarmadi, MKM.
Kendala atau masalah bagi Koperasi Sudara Indra dilihat sebagai sebuah tantangan. Penyaluran dana dalam bentuk simpan pinjam kepada masing-masing Posdaya selama ini berjalan lancar baik pencairan maupun pengembaliannya. Namun, di lapangan ada kalanya ditemukan tidak semua kegiatan Posdaya terintegrasi dengan baik. Artinya, tidak semua aspek pembangunan yang dicanangkan Yayasan Damandiri dari aspek Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan Lingkungan dapat disatukan.
“Usaha berjalan dengan baik, artinya roda ekonomi rakyat berputar, namun tidak berimbang jika kesehatan, pendidikan dan tata kelola lingkungan sekitarnya tidak berjalan bersamaan. Ini tantangan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya,” ungkap Ketua Koperasi Sudara Indra, DR. Moch. Soedarmadi, MKM, saat ditemui di ruang kerjanya, pekan ini.
Melihat kendala sistemik yang terjadi, mempelajari bagaimana kendala tersebut mengemuka, tidak serta-merta membuat pengurus Koperasi Sudara Indra melihatnya dari satu sisi saja. Karena itu, diambil sebuah kebijakan atau terobosan berupa pengalihan marjin keuntungan Koperasi dari program Tabur Puja sebesar 4 Persen untuk disumbangkan bagi kegiatan-kegiatan Posdaya di luar kegiatan pemberdayaan ekonomi.
Contoh proses integrasi beragam aspek pembangunan yang coba dibangun melalui sumbangan tersebut berupa pengadaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang menangani kesehatan masyarakat, pengadaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), penguatan komunitas Bank Sampah di masing-masing Posdaya, pengadaan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) untuk memenuhi kebutuhan rohani masyarakat, khususnya pemeluk Agama Islam, dan Tempat Pengolahan Sampah sebagai bentuk kepedulian masyarakat akan kebersihan dan pelestarian lingkungan.
“Semua ini bagai sebuah lingkaran bagaimana masyarakat bergotong-royong serta peduli antara satu sama lain. Tantangan harus dihadapi bersama, sehingga nantinya menjadi sebuah solusi untuk semua orang,” tambah Soedarmadi.
Penelitian serta keputusan Yayasan Damandiri untuk mengembangkan Posdaya sesuai perkembangan zaman juga turut membawa perubahan sekaligus solusi. Yayasan Damandiri ingin membentuk masyarakat yang mandiri dalam menjalankan usahanya masing-masing. Karenanya, digulirkan sebuah program baru bernama Posdaya Tabur Puja Mandiri sejak Juni 2016, dengan sasaran yang dimandirikan adalah Posdaya yang sudah ada terlebih dahulu. Dari keputusan ini, turut pula memunculkan solusi dalam mencari atau membentuk Posdaya baru di daerah baru.
Dalam Posdaya Tabur Puja Mandiri, seluruh Posdaya yang ada diarahkan untuk melakukan seluruh proses pengajuan dan pembayaran kredit sampai dengan konsultasi secara online dengan sistem komputerisasi, yang disiapkan oleh Yayasan Damandiri bersama Koperasi Sudara Indra. Melalui Program Posdaya Tabur Puja Mandiri, ke depan diharapkan pihak yayasan maupun koperasi hanya menjadi pengawas saja. Namun, proses awal menuju kemandirian tetap dilakukan oleh koperasi.
“Sejauh ini, dari 40 Posdaya binaan kami, sudah 33 Posdaya yang berhasil menjadi Posdaya Tabur Puja Mandiri. Masih tersisa 7 Posdaya lagi yang harus kami proses. Jika semua sudah rampung, kami bisa dengan leluasa mencapai target awal untuk melengkapi jumlah Posdaya di Jakarta menjadi 50 kelompok. Jadi, dengan memandirikan Posdaya yang sudah ada juga menjadi solusi bagi kami untuk fokus membentuk Posdaya yang baru,” terang Heri Haryadi, Manager Tabur Puja, Koperasi Sudara Indra.
Harapan besar ke depan untuk Program Tabur Puja adalah Tabur Puja Yayasan Damandiri bisa secara perlahan mencapai tujuan mengentaskan kemiskinan. Peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat turut pula meningkatkan aspek kesehatan serta pendidikan dari masyarakat itu sendiri. Pertimbangannya adalah ekonomi masyarakat yang stabil dan kuat akan membuat mereka mampu membayar untuk mendapatkan pendidikan yang memadai serta mendapat penanganan kesehatan yang baik pula.
Di samping itu, pola berpikir masyarakat juga akan semakin maju. Mereka akan sadar terhadap pelestarian lingkungan, memiliki empati maupun simpati terhadap sesamanya dan masyarakat, dan akan semakin tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Selain itu, berkurangnya kemiskinan ikut meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia atau IPM dari masyarakat itu sendiri. Indikator dari IPM sudah jelas, yakni kemajuan masyarakat dari aspek kesehatan, kewirausahaan juga pendidikan,” ungkap Soedarmadi.
Tokoh pendidikan bangsa Indonesia, Ki Hajar Dewantara memiliki tiga semboyan yang digunakannya dalam dunia pendidikan, yakni ing ngarsa sung tuladha (yang di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (yang di tengah memberi semangat), tut wuri handayani (yang di belakang memberi dorongan/semangat).
Jika diterjemahkan dalam sistem pemberdayaan masyarakat melalui program baru bernama Posdaya Tabur Puja Mandiri dari Yayasan Damandiri yang dijalankan Koperasi Sudara Indra, maka ing ngarsa sung tuladha dapat diartikan koperasi yang pada awalnya menjadi motor penggerak terdepan Posdaya, memberikan contoh kepada Posdaya tentang semua yang harus dilakukan jika ingin sukses.
Ing madya mangun karsa dapat diartikan, setelah menjadi penggerak, otomatis membuat Posdaya bersama koperasi untuk bersama-sama maju dalam satu kesatuan utuh. Saat mereka sudah bisa berjalan sendiri, tiba saatnya koperasi hanya menjadi pemantau gerak maju posdaya, dengan kata lain tut wuri handayani.
Teori atau semboyan Ki Hajar Dewantara tersebut ternyata memiliki kemiripan juga dengan tiga kalimat dalam teori manajemen modern, yaitu management for the people, management with the people dan akhirnya ditutup dengan management by the people. Kesimpulan dari semua itu adalah semangat gotong-royong dan kepedulian antar sesama. Dan, dengan kebersamaan itu pula setiap kendala, masalah, tantangan atau apa pun istilahnya, dapat diatasi dan dicarikan solusinya.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...