Segarnya Es Cendol Khas Kudus Buatan Wardoyo di TMII Jakarta

SABTU, 24 DESEMBER 2016

JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah (TMII), selain menjadi tempat wisata budaya bagi keluarga, juga menyajikan deretan kuliner Nusantara di setiap sisi jalan yang dilalui pengunjung. Salah-satunya, minuman segar tradisional Es Cendol, khas dari Kudus, Jawa Tengah.
Wardoyo, Pedagang Es Cendol Khas Kudus di TMII Jakarta.
Wardoyo adalah pria asal Desa Papringan, Kudus, Jawa Tengah, yang setiap hari berdagang es cendol khas Kudus di TMII. Menurutnya, cendol atau dawet itu aslinya hanya cendol, gula merah, susu dan santan. Namun, karena perkembangan selera masyarakat, akhirnya es cendol kerap ditambahi bahan lain seperti buah alpukat, tape dan lainnya. Dan, untuk membuatnya menjadi lebih segar bisa ditambah es batu.
Cendol khas Kudus dibuat dari sagu aren. Cara membuatnya cukup sederhana. Saring terlebih dahulu sagu aren dan didihkan air secukupnya. Ketika air mulai mendidih, masukkan perlahan sagu aren ke dalam air mendidih tersebut sambil terus diaduk-aduk agar tercampur rata. Hasil campuran tersebut akan menggumpal padat kenyal. Setelah sagu aren menggumpal kenyal, lalu disaring dan jadilah cendol khas Kudus.
“Selesai disaring, cendol yang masih panas disiram-siram air matang yang adem atau dingin, sampai cendol tersebut tidak panas lagi,” jelas Wardoyo.
Cendol khas Kudus, dibuat dari Sagu Aren.
Selesai dengan cendol, buat gula merah untuk pemanis cendol. Butuh dua gayung air untuk merebus 10 kilogram gula merah. Gula merah dan air direbus hingga matang dan kental. Kemudian, setelah menyiapkan gula merah, lalu menyiapkan santan. Wardoyo biasa menghabiskan 6-8 buah kelapa untuk membuat santan secara tradisional.
“Saya tidak pernah menggunakan santan yang sudah jadi di mini market atau di pasar, karena rasanya berbeda dengan santan yang dibuat sendiri secara tradisional. Dan, itu bisa mempengaruhi rasa dari cendol itu sendiri,” lanjut Wardoyo.
Setelah cendol, gula dan santan siap, siapkan satu kaleng susu kental manis untuk menambah sensasi rasa manis cendol berikut es batu. Dengan demikian, Es Cendol khas Kudus sudah siap disajikan.
Untuk berdagang cendol di TMII, Wardoyo mengeluarkan modal untuk membuat cendol sebesar kurang-lebih Rp. 400.000 setiap hari. Jumlah modal itu adalah untuk 6 toples cendol khas Kudus, dua jerigen kecil gula merah, dua kaleng susu kental manis, dua toples santan, serta sudah termasuk pula tambahan berupa buah alpukat, tape dan lain-lainnya. Wardoyo menjual es cendolnya seharga Rp. 10.000 per gelas. Jika dagangannya laris dan habis terjual, ia bisa membawa pulang uang antara Rp. 900.000 hingga Rp. 1 Juta.
Gula merah cendol khas Kudus.
“Perbedaan cendol Kudus dengan cendol daerah lain adalah saat yang lain membuat cendol dengan mencampur sagu aren dengan tepung beras, kami tidak mencampurnya dengan tepung beras. Jadi, es cendol khas Kudus menurut saya benar-benar minuman ringan, karena tidak membuat kenyang. Artinya, hanya sebatas melepas dahaga sambil bersantai menikmati angin sepoi-sepoi di siang hari. Rasanya juga sangat ringan di tenggorokan dan lebih alami,” ujar Wardoyo.
Harapan Wardoyo, ke depan usahanya bisa berkembang sekaligus membuat es cendol khas Kudus lebih akrab di masyarakat, khususnya warga Jakarta. Liburan Natal dan Tahun Baru 2016 ini, TMII banyak mengadakan acara gebyar budaya, dan es cendol khas Kudus milik Wardoyo bisa dijadikan salah-satu pilihan melepas dahaga di pinggir danau arsiplan TMII dengan ditemani semilir angin danau di siang hari.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...