Sate Ayam Ponorogo Tukri Sobirun: Dari Soekarno hingga Jokowi

JUMAT 16 DESEMBER 2016

PONOROGOKetika mencari makanan khas Ponorogo dari internet tentu yang keluar pertama adalah sate Ponorogo, dan yang paling terkenal adalah Depot Sate Ayam Tukri Sobikun. Terletak di Jalan Kawu Gang 1 Nomor 43, Kabupaten Ponorogo, usaha sate ayam ini sudah ada sejak zaman Belanda. Puluhan kursi dan meja panjang tersusun rapi di dalam depot, tampak beberapa karyawan berjaga menunggu pelanggan datang.
Proses pembuatan sate Tukri.
Salah satu karyawan Tukri, Yusuf Bachtiar (21 tahun) menjelaskan usaha kuliner sate ini memang turun temurun. Meski usaha keluarga, cita rasa dan khas Sate Tukri tidak pernah berubah sejak generasi pertama, yakni bumbu kacangnya tanpa menggunakan penyedap dan potongan daging ayamnya besar-besar.
“Selain itu, resep bumbunya hanya keluarga saja yang tahu. Karyawannya hanya bertugas memasak saja, jadi cita rasa sate Tukri tetap terjaga,” jelasnya kepada Cendana News, Jumat (16/12/2016).
Teknik yang digunakan dalam memasak sate Tukri yakni daging ayam yang sudah bersih dialupi atau dibakar setengah matang, kemudian dicelupkan ke gula khusus yang direbus tanpa air sebanyak tiga kali sembari dibakar bolak-balik agar tidak gosong.
Ditanya bagaimana menjaga kesegaran daging ayam yang hendak di sate, Bachtiar menerangkan setiap hari mengambil daging ayam dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Jenangan.
“Sate Tukri ini mampu bertahan dua hari tanpa masuk lemari pendingin, karena dimasak dengan gula berulang kali,” ujarnya.
Bumbu kacang yang dimasak seperti bumbu kacang pada umumnya seperti kacang tanah, cabai merah besar, cabai rawit dan gula pilihan. Inilah yang membuat beda, karena pemilihan gula dan pembuatan bumbu hanya diketahui oleh pihak keluarga Tukri saja.
“Setiap hari Sate Tukri mampu menjual 10 ribu tusuk, bahkan saat masa liburan bisa berkali lipat,” tuturnya.
Yang menjadi daya Tarik utama bagi para pelanggan, menurut Bachtiar adalah ukuran sate yang besar dan juga bumbu kacangnya. Kalau di warung sate lainnya, ukuran satenya lebih kecil. Meski awalnya hanya sebuah warung kecil, kini warung Tukri berubah menjadi depot dan dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap seperti musholla, toilet dan tempat parkir yang luas.
“Di sini tidak pernah ada hari libur, buka setiap hari mulai pukul 05.00-20.00 WIB, dengan total karyawan 33 orang, 13 orang jaga depan dan 20 orang memasak di dapur,” tandasnya.
Selain itu, sate Tukri Sobikun tidak pernah libur. Setiap hari buka meskipun hari libur panjang seperti Idul Fitri maupun Natal dan tahun baru. Karena menurut pengalaman sebelumnya, tiap hari libur depot ini menjadi kunjungan wisatawan terutama luar Ponorogo. Bahkan pernah waktu liburan menurut Bachtiar, ada pelanggan yang meminta paketan sate untuk dikirim ke Papua.
“Yang bisa kami kirim jauh, sate daging dan kulit kalau jeroan ayam tidak tahan dan satu lagi bumbunya kering, jadi bisa tahan lama satenya,” tuturnya.
Proses pembakaran sate Tukri.
Sejarah Sate Tukri Sobikun: Mbah Suro Semin
Usaha sate milik Tukri Sobikun ini merupakan usaha turun temurun keluarga, berawal dari Mbah Suro Semin mempunyai banyak saudara dan ada diantara mereka yang sudah punya keahlian kuliner sate ayam. Salah satunya adalah Eyang Sate, mungkin disebut begitu karena dia penjual sate. Lalu Mbah Suro yang merupakan kakek buyut Tukri Sobikun mulai belajar mengolah sate dari Eyang Sate yang saat itu menetap di Ngawi. Usai belajar, ilmu memasak sate ia praktekkan dan mulai berjualan di Pasar Legi Songgolangit, Ponorogo. Awalnya Mbah Suro hanya mampu menjual 2-3 ekor ayam dengan menggunakan angkringan keliling.
Selanjutnya karena usia yang semakin menua, Mbah Suro menurunkan ilmu mengolah sate kepada anaknya, Sobikun. Saat dipegang Sobikun ini satenya mulai berkembang perlahan, setiap hari mampu menjual 5 ekor ayam. Bahkan prestasi terbesarnya, pernah diundang ke Jakarta karena salah satu istri Presiden pertama Republik Indonesia (RI), Ir. Soekarno berlangganan Sate Sobikun.
Setelah sekian lama menjalani usaha ini Sobikun menurunkan ilmunya kepada anaknya Tukri, dari sinilah perkembangan pesat sate khas Ponorogo milik Tukri Sobikun melejit. Pada 1977, yang awalnya hanya berjualan di emperan Pasar Legi banyak pelanggan yang mulai tertarik dengan sate Tukri Sobikun dan menjadi makanan khas Ponorogo.
Karena merasa banyak pelanggan yang mengenal sate miliknya, pada  1991 Tukri pun memutuskan membuka warung di rumahnya. Karena ingin fokus dengan warung miliknya, tahun 1993 Tukri memutuskan menutup warung yang ada di Pasar Legi.
Perubahan besar terjadi saat dua kali Susilo Bambang Yudhoyono mampir dan makan malam di depot milik Tukri. Bahkan Joko Widodo juga pernah makan di sini. Kini Tukri sudah tiada digantikan oleh putri keduanya, Emi Listiani. 
Bumbu kacang sate Tukri.
 Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Charolin Pebrianti
Lihat juga...