SELASA 6 DESEMBER 2016
JAKARTA—Rukodaya Sugiarti yang berkedudukan di Jalan Cengkir, Pondok Kelapa, Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, selain mendapat julukan ” Apartemen Lele ” saat ini, sepertinya suatu saat bisa mendapat julukan baru dengan komoditas budidaya berbeda, misalnya lidah buaya.
|
Lidah buaya dengan wadah pot plastik di balkon Rukodaya Sugiarti.
..
|
Rukodaya Sugiarti yang sebagian besar diisi kolam-kolam ikan lele sederhana mulai dari lantai satu hingga lantai tiga, juga dihiasi dengan tanaman lidah buaya yang coba dibudidayakan dengan tekun oleh Sugiarti bersama anak-anak buahnya. Sekali lagi dengan aksinya menanam lidah buaya ini, ia coba bertutur kepada semua orang bahwa tinggal di kota besar bukan menjadi penghalang untuk bercocok tanam.
Memanfaatkan keterbatasan lahan adalah konsep awal Sugiarti baik untuk budidaya ikan lele maupun budidaya lidah buaya. Memilih budidaya lidah buaya bukan tanpa alasan, karena bagi Sugiarti tanaman lidah buaya menjanjikan prospek pasar tersendiri. Segmennya bisa dibentuk dari awal dari sisi minuman ringan menyegarkan dan sebagai obat alternatif penyakit tertentu contohnya gangguan pada pencernaan seperti lambung.
“Saya melihat celah di situ, bahwa selain untuk minuman segar, maka sari lidah buaya bisa pula mengatasi gangguan pencernaan pada lambung. Untuk minuman segar maka kami biasa membuat es lidah buaya untuk di jual melalui bazaar maupun acara tertentu lainnya. Untuk mengatasi gangguan lambung maka biasanya isi lidah buaya harus digerus sampai habis untuk kemudian dicampur madu lalu diminum,” Sugiarti mengawali penjelasannya.
Saat karyawan Sugiarti bernama Nono membawa Cendana News berkeliling melihat kolam-kolam lele, maka itu juga sekaligus melihat dari dekat tanaman-tanaman lidah buaya yang sedang dikembangkan Rukodaya Sugiarti.
Menaiki tangga dari garasi tempat kolam yang menampung indukan jantan lele menuju lantai dua, maka dari bawah sudah terlihat pucuk-pucuk lidah buaya dari balik undakan tangga teratas. Dan sesampai kami diatas maka hamparan lidah buaya yang dibudidayakan menggunakan kantong plastik maupun pot-pot kecil sebagai wadahnya langsung menjadi sasaran dokumentasi.
Bibit-bibit lidah buaya didapatkan Sugiarti pertama kali dari sebuah road show atau pameran tanaman di Bogor. Ia memborong bibit lidah buaya dengan harga cukup ekonomis yakni satu juta rupiah. Seperti biasa, sebelum membeli bibit maka Sugiarti sudah mempersiapkan infrastruktur. guna mengembangkan lidah buaya berupa wadah-wadah plastik maupun pot kecil sekaligus tempat-tempat yang memaksimalkan lahan sempit yang dimiliki Sugiarti.
Menurut Nono, sebenarnya lebih aman memelihara dan merawat lidah buaya di dalam rumah karena aman dari kerusakan baik oleh tangan-tangan nakal yang mencabutinya sembarangan maupun hal lainnya jika ditanam di luar pagar rumah. Selain itu, dengan menempatkannya di dalam rumah maka dapat lebih terkontrol perawatannya.
Selesai dari lantai dua tempat kolam lele dan hamparan lidah buaya tersebut, maka Nono kembali menawarkan kami melihat lantai dua di rumah sebelumnya tempat kolam indukan lele betina berada. Kami pun mengikuti langkah Nono sambil pikiran ini menebak-nebak apa yang akan kami temui diatas sana nanti.
Melewati kolam indukan lele betina, kami menaiki tangga sempit menuju lantai dua. Sesampai diatas, maka dihadapan kami ada kamar-kamar layaknya kamar kos namun disini sebagai mess atau rumah tinggal bagi para karyawan Rukodaya Sugiarti. Tapi kejutannya bukan itu, melainkan tanaman lidah buaya yang mengisi setiap sudaut sempit sampai balkon-balkon lantai dua yang membuat kami kagum. Lidah buaya yang subur, gemuk dan siap dipanen kapanpun tampak begitu segar dan terawat
dengan baik.
Kami sempat mengajak karyawan Rukodaya lainnya di lantai dua yang kebetulan sedang beristirahat. Mereka rata-rata menceritakan bagaimana begitu tekun bahu membahu bersama Ibu Sugiarti merawat lidah buaya yang ada di rumah ini karena sama-sama meyakini usaha serta kerja keras selama ini bisa membuahkan hasil suatu saat nanti. Sulit rasanya berbincang-bincang dengan tidak mengambil dokumentasi jika berada di tempat seperti ini, sehingga kami semua terlibat perbincangan akrab dengan pengambilan gambar yang terus kami lakukan.
Sekitar lima menit kami berada di lantai dua untuk berbincang dan mengambil dokumentasi, tiba-tiba Nono sudah menghilang. Kami mengira ia turun, namun saat kami hendak menuruni tangga, seorang karyawan Rukodaya berkata bahwa Nono sudah lebih dahulu ke lantai tiga dan meminta kami mengikutinya. Apalagi ini ya? pikir kami penasaran.
Ternyata Nono membawa kami ke sebuah “surga” di dunia ini yaitu berdiri di puncak lantai tiga sebuah bangunan, beratapkan cerahnya langit Jakarta ditemani hamparan lidah buaya nan hijau. Dari atas tempat ini, kami dapat melihat seluruh gedung pencakar langit sepanjang Jalan Pramuka Jakarta Timur sampai Apartemen Pramuka dengan warna-warni gedungnya sebagai ciri khas. Terpaan angin segar membuat kami terduduk sambil kembali mengambil dokumentasi tanaman lidah buaya
yang ada di sini.
“Ibu paling suka kesini mas, katanya tenang dan damai. Ya tentu sambil merawat lidah buaya ini sekaligus itu dipojok beliau coba menanam pohon jeruk bali,” terang Nono sambil tangannya menunjuk kepojok balkon.
Selain lidah buaya, dalam perjalanan kami dari lantai demi lantai Rukodaya maka turut pula kami menyaksikan tanaman cabai dan jeruk nipis. Selesai menikmati tempat favorit Sugiarti diatas maka Nono memberikan sinyal bahwa perjalanan sudah selesai dan sudah saatnya kami kembali ke ruang tamu menemui Ibu Sugiarti. Yah, dengan berat hati kamipun menuruti Nono, walaupun hati ini masih ingin menikmati suasana yang jarang kami nikmati di Jakarta ini.
Benar saja, di ruang tamu sudah menunggu Sugiarti dengan secangkir kopi hangat untuk kami. Ini tandanya kami harus mempersiapkan perekam suara untuk sebuah perbincangan menarik mengenai lidah buaya dan sebatang pohon jeruk bali yang tadi kami temukan di balkon lantai tiga.
“Sebenarnya untuk lidah buaya ini adalah pertarungan sengit bagi saya. Mengapa demikian? karena saya ingin memanfaatkan situasi di mana belum banyak orang di Jakarta yang menyadari bahwa budidaya lidah buaya di pekarangan rumah maupun memanfaatkan lahan sempit yang ada itu menjanjikan sesuatu ke depannya,” papar Sugiarti kepada Cendana News.
Pertarungan sengit bagi Sugiarti untuk lidah buaya bukan sekedar perjuangan membudidayakannya saja, akan tetapi disaat tiba musim panen ia kesulitan pula memasukkan ke supermarket yang ada di Jakarta.
“Bayangkan mas, saya wirausahawan kecil-kecilan, mencari untung kecil juga yang penting lancar, masa lidah buaya saya dihargai enam ribu rupiah per batangnya. Padahal mereka menjual itu rata-rata 15-20 ribu di pasar swalayan. Ya saya bilang saja, lebih baik saya amalkan lidah buaya saya daripada jadi korban kalian,” cerita Sugiarti sambil tetap tersenyum.
Namun Sugiarti tidak patah arang, ia mulai membina rekanan lain untuk budidaya lidah buaya. Akhirnya tetangganya bernama Endang menyambut tawaran Sugiarti dengan komitmen bahwa ia mau belajar dan serius bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan sempit yang ada di rumahnya.
” Kamu tahu sekarang bagaimana mas? lah dia maju sekarang. Bahkan sampai sudah buat perusahaan berupa CV sekarang ini. Itu awalnya dia buat kuliner, lalu kami bawa ke kelurahan, kecamatan dan kantor wali kota. Dan sampai sekarang setiap di sana ada acara apapun baik besar maupun kecil selalu memakai jasa Ibu Endang untuk menyediakan kue-kue tradisional. Disamping itu, dia berhasil juga mengembangkan lidah buaya serta cabai rawit di rumahnya,” lanjut Sugiarti.
Dengan mengembangkan binaan dibawahnya, maka Sugiarti yakin suatu saat bisa mengembangkan budidaya lidah buaya lebih besar ke depannya secara bersama-sama. Namun tetap kendala memasukkan komoditas ke Supermarket yang begitu sulit karena kebijakan harga yang kurang adil tersebut masih dicari penawarnya oleh Sugiarti dan Endang. Saat ini pertarungan Sugiarti untuk lidah buaya masih sebatas membuat es lidah buaya dalam bazaar, acara tertentu lainnya sekaligus berusaha menghasilkan bibit-bibit bagus lidah buaya demi melayani permintaan bibit lidah buaya dari masyarakat walau masih belum banyak.
Omzet penjualan lidah buaya memang masih tergantung acara pameran maupun bazaar yang diikuti, namun jika rutin mengejar keikutsertaan di tiap acara setiap bulannya maka hasilnya bisa lumayan untuk ukuran Rukodaya Sugiarti yang baru mulai melakukan budidaya lidah buaya. Bahkan jika rata-rata satu galon es buah lidah buaya bisa menghasilkan Rp500 ribu di berbagai acara, maka baru-baru ini dalam sebuah acara pameran di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan maka perhari Rukodaya Sugiarto mendapat pemasukan kotor sebesar Rp3,5 juta dari penjualan es lidah buaya. Artinya tetap ada prospek bagus jika dikelola dengan baik.
Saat ditanya mengenai tempat favoritnya di balkon lantai tiga tempat tanaman lidah buaya, Sugiarti kembali melemparkan senyum. Ia mengakui itu adalah tempat favoritnya, karena merasa damai jika berada di sana. Dan karena merasa damai itulah timbul ide lain yakni menanam pohon jeruk bali. Tapi masih tahapan coba-coba berhadiah menurut Sugiarti.
Harapan kedepan Sugiarti bahwa lidah buaya dapat berhasil dibudidayakan walau dengan keterbatasan lahan yang dimilikinya bersama Ibu Endang rekannya. Kendala pastinya ada dan setiap usaha juga memiliki kendala masing-masing. Akan tetapi selama niat, semangat dan keteguhan hati tetap ada maka pertarungan sengit macam apapun mampu dimenangkan.
“Prinsip saya jelas dari awal sama seperti ketika berjuang untuk budidaya ikan lele dan rias pengantin, bahwa tidak ada yang tidak bisa jika semua dijalani dengan niat dan kerja keras,” pungkas Sugiarti.
Luar biasa Ibu yang satu ini. Prinsipnya begitu kuat dan keteguhan hatinya bagai batu karang. Bahkan ia mampu menggerakkan tetangganya untuk ikut bersama-sama bercocok tanam dengan kendala sempitnya lahan yang ada. Namun Sugiarti dan Endang perlahan mampu keluar dari kesulitan walau tetap ada beberapa kendala masih diperjuangkan jalan keluarnya. Bagaimana dengan ibu-ibu yang lainnya? Mau mencoba untuk bercocok tanam di rumah? sepertinya banyak ibu-ibu di Jakarta yang memiliki kapasitas tersebut hanya belum mendapatkan kesempatan.
Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw