Bencana Tanah Gerak, 31 Rumah Warga di Ponorogo Retak

SELASA, 6 DESEMBER 2016
PONOROGO—Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo termasuk dalam status darurat akibat tanah gerak. Pasalnya sudah ada 31 rumah warga yang mengalami retak bahkan 6 Kepala Keluarga (KK) memutuskan mengungsi demi keselamatan.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo, Heri Sulistyono menjelaskan, pihaknya tengah menunggu rekomendasi relokasi warga dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung.

“Karena kondisinya memang mengkhawatirkan dan warga harus secepatnya direlokasi,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (6/12/2016).

Rumah warga yang perlu segera diperbaiki.

BPBD mengklaim sudah meminta PVMBG turun sekali lagi menyelidiki pergerakan tanah di Tugurejo. Namun hingga kini belum ada jawaban. Padahal sudah dihubungi sejak dua minggu lalu dan belum ada tindak lanjut.

Terkait kebijakan relokasi, Heri mengaku BPBD telah berkoordinasi dengan camat setempat dan Dinsosnakertrans. Hasil koordinasi, realisasi relokasi warga terdampak di Tugurejo diupayakan melalui Dinsosnakertrans. Namun, tetap harus mempunyai dasar yang kuat. Dasar tersebut, hasil rekomendasi dari PVMBG.

Tenda pengungsian yang disiapkan BPBD Ponorogo.

“Dengan diberlakukannya status darurat, artinya warga seharusnya memang mengungsi dari rumah. Bagi yang kerusakannya parah dan berbahaya jika ditinggali, mereka harus relokasi,” terangnya.

Selain keenam KK yang sudah mengungsi, puluhan warga setempat lainnya diminta terus mengungsi mulai sore atau setiap kali hujan lebat turun. Pasalnya sama seperti yang terjadi di Talun, Ngebel, tanah di Tugurejo terus mengalami pergerakan.

“Pengamatan terakhir Minggu (4/12/2016) lalu, kembali ada pergerakan susulan meski tidak hujan,” ujarnya.

Akibat kejadian ini, BPBD memasang tiga tenda jika sewaktu-waktu diperlukan warga untuk mengungsi. Satu tenda bisa menampung 30 orang.

“Tidak semuanya mau mengungsi. Tenda yang ada tidak semua dimaksimalkan penggunaannya,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Lihat juga...