Permintaan Arang Meningkat Pembuat Kopra Manfaatkan Limbah

SABTU, 03 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Para pembuat kelapa kopra sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng mulai melirik hasil turunan dari limbah sisa berupa batok/tempurung. Pemanfaatan tempurung salah satunya ditekuni oleh Ngatiran (40) bersama sang anak, Joni (20) yang sehari hari merupakan pemilik usaha pembuatan kopra di Desa Kalirejo Kecamatan Palas. 
Mengumpulkan arang yang telah jadi

Hasil dari penjualan kopra yang saat ini cukup menguntungkan diakuinya ditambah dengan penjualan dan permintaan arang kelapa (coconut shell charcoal) sebagai bahan baku pembuatan briket arang dan kebutuhan lain. Ia mengakui permintaan akan arang tempurung kelapa mulai meningkat menjelang akhir tahun terutama dari beberapa pedagang kecil, serta pengepul yang akan mempergunakan arang kelapa untuk perayaan malam tahun baru dengan tradisi bancakan atau bakar ikan, daging bersama.

Sebagai pembuat kopra sekaligus pembuat arang ia mengungkapkan dalam sekali pembuatan arang ia mampu memproduksi sekitar 400-500 kilogram yang diperoleh dari batok kelapa yang dikumpulkan selama hampir sepekan. Setelah batok kelapa yang dicungkil untuk diambil daging kelapa yang akan menjadi kopra selanjutnya batok kelapa yang telah terkumpul dijemur dan diangkut ke lokasi pembakaran.
“Lokasi pembakarannya sekitar dua kilometer dari sini karena harus jauh dari pemukiman sebab kalau dekat akan sangat mengganggu lingkungan dengan udara yang pekat serta mengganggu pernapasan,”terang Ngatiran saat ditemui Cendana News di Desa Kalirejo Kecamatan Palas, Sabtu (3/12/2016).
Ngatiran bahkan harus mempergunakan mobil yang dimodifikasi menggunakan pagar kayu agar mampu memuat tempurung kelapa (batok) limpah pembuatan kopra ke lokasi pembakaran. Proses pembakaran dilakukan pada lubang sedalam satu meter yang telah disiapkan untuk membakar sekitar satu ton bahan tempurung kelapa yang dibakar dengan kayu. Sebanyak 1 ton arang kelapa kering yang dibakar rata rata hanya bisa menghasilkan beberapa ratus kilogram arang kelapa. Pembuatan arang juga disiasati menunggu jumlah yang banyak agar proses pembakaran lebih efesien dan tidak menghabiskan banyak kayu bakar.
Setelah arang kelapa dibakar, selanjutnya arang akan dipendam selama dua hari untuk menghilangkan panas dan lapisan yang digunakan untuk memendam arang tersebut akan dibongkar untuk proses selanjutnya. Puluhan karung arang yang menjadi hasil pembakaran tersebut dikumpulkan di ruangan khusus yang akan diambil oleh pengepul arang menggunakan kendaraan truk yang dibelinya dengan hanya seharga Rp100ribu permobil L300. Harga yang lumayan dalam pembuatan arang tempurung kelapa mencapai Rp4.500 hingga Rp5.000 perkilogram diakuinya cukup menjanjikan untuk menambah penghasilan disamping usahanya sebagai pembuat kopra.
Limbah tempurung kelapa yang berlimpah di wilayah Lampung Selatan diakuinya tidak membuatnya kesulitan mendapatkan bahan baku. Ia bahkan mengambil tempurung kelapa dari wilayah lain dengan menggunakan kendaraan untuk dibawa ke lokasi pembakaran arang kelapa. Usaha yang belum banyak ditekuni orang tersebut membuat ia optimis masih akan bertahan dan modal sebesar Rp500ribu pada tahap awal untuk pembelian dan operasional saat proses pembuatan arang tahap pertama diakuinya sudah mampu menghasilkan omzet sekitar Rp2juta. Berawal dari memperoleh penghasilan tambahan dari membuat arang kelapa tersebut Ngatiran terus mengembangkan pembuatan arang tempurung kelapa.
Arang yang dihasilkan dari pemanasan dan pembakaransuhu tinggi tersebut ungkap Ngatiran ditampung oleh para pengepul. Berdasarkan keterangannya beberapa manfaat arang buatannya yang akan diolah lebih lanjut diantaranya dimanfaatkan dalam bidang kosmetik dan kecantikan, penjernih air (water purifier), penghilang bau dan pelembab ruangan,bahan bakar terbarukan melalui pembuatan briket arang.
“Kalau menurut pengepul yang saya kirimi arang kelapa ini di ekspor melalui Pelabuhan Panjang ke luar negeri sementara saya hanya sebagai penyetor atau penyuplai,”ungkap Ngatiran.
Kendaraan pengangkut batok kelapa bahan arang

Suplai arang yang sudah dimasukkan dalam karung karung tersebut diakuinya dijual dengan harga Rp50ribu perkarung dengan ukuran sekitar 100 kilogram. Sementara untuk permintaan lokal satu karung dijualnya dengan harga Rp30ribu yang sebagian dibeli oleh para penjual sate, pemilik rumah makan di sekitar pantai untuk barbeque serta keperluan lain dan sebagian oleh kaum ibu rumah tangga. Ia mengakui peluang tersebut sengaja diambilnya setelah melihat nilai jual yang cukup tinggi meski merupakan limbah dari hasil membuat kopra.

Sebagai salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Lampung Selatan, Asisten Bidang ekonomi pembangunan Setdakab Lampung Selatan Erlan Murdiantono bahkan mengaku petani harus terus mengembangkan perkebunan kelapa. Ia bahkan mengakui varietas kelapa puan Kalianda (KPK) menjadi peluang besar bagi para pekebun kelapa, selain itu jenis kelapa yang lain diantaranya hibrida, gading juga masih cukup menjanjikan. Selain bisa dijual dalam kondisi muda, tua dan limbah pengolahan kelapa saat menjadi kopra pun bisa dimanfaatkan untuk pembuatan arang dan briket kelapa.
“Potensi Lampung Selatan sangat besar tinggal bagaimana petani bisa mengelolanya dan pemerintah sangat mendukung pemberdayaan ekonomi kreatif yang berbasis produk unggulan lokal,”ungkap Erlan Murdiantono yang juga mantan Kepala Dinas Perkebunan tersebut.
Ia bahkan menganjurkan setiap petani melakukan penanaman pohon kelapa di kebunnya masing masing sebab selama ini sudah banyak pohon kelapa yang ditebang untuk bahan bangunan. Sosialisasi dengan memberikan bibit gratis dan penyuluhan tata kelola kebun kelapa yang baik pun telah diberikan melalui dinas perkebunan. Ia berharap petani memanfaatkan kelapa mulai dari akar hingga sisa limbah berupa serabut kelapa dan batok kelapa menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...