Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan, Ajak Warga Desa Bentuk KRPL

SENIN, 19 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Keberadaan lahan pekarangan yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat terus disosialisasikan aparat desa untuk lebih bermanfaat. Menurut Kepala Desa Pasuruan, Kartini, selama ini masyarakat terutama ibu rumah tangga belum banyak yang memanfaatkan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga sebagai satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga. Kartini mengaku, telah mengajak kaum perempuan untuk terus memaksimalkan fungsi pekarangan di antaranya untuk tanaman sayuran, tanaman obat keluarga (toga) serta tanaman hiasan berupa bunga.

Tanaman obat keluarga di lahan milik warga.

Sebagai lahan percontohan, Desa Pasuruan bahkan telah melakukan proses penanaman beberapa jenis tanaman yang berada di areal tanah bengkok (tanah milik desa) untuk penanaman beberapa jenis sayuran dan tanaman obat. Tanah bengkok yang selama ini terbengkelai dan tidak digunakan tersebut, sebagian ditanami sere, jahe, kunyit, laos, serta beberapa jenis tanaman bumbu lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Contoh di kebun desa tersebut menjadi model bagi pengembangan kawasan rumah pangan lestari (RPL) yang akan diterapkan oleh setiap rumah dengan memanfaatkan pekarangan yang ada.

“Kami beri contoh apa saja tanaman yang bisa dikembangkan, jika tidak ada lahan yang lebih luas lagi bisa memanfaatkan sisa-sisa plastik, kertas semen sebagai media tanam, atau jika mampu bisa membeli pot,” ungkap Kepala Desa Pasuruan, Kartini, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (19/12/2016).

Kumpulan dari rumah-rumah yang telah menerapkan pemanfaatan lahan pekarangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi tersebut, juga didukung dengan pemberian bibit secara gratis di antaranya bibit jahe, lengkuas, serta berbagai bibit tanaman lain termasuk sayur-sayuran. Ia berharap, langkah tersebut bisa membentuk Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan serta gizi keluarga, diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, peletarian tanaman pangan untuk masa depan, maupun peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lokasi berbagai jenis tanaman obat bisa dimanfaatkan untuk rekreasi.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut, ungkap Kartini, dilakukan dengan proses menjual sebagian hasil tanaman yang ditanam di pekarangan di antaranya jenis jahe, lengkuas, dan sere yang banyak dibeli  pengepul. Sebagai contoh warga yang menanam tanaman sere biasa dibeli dengan harga Rp 1.000 per ikat, sementara lengkuas dibeli Rp 30 ribu per umpun. Berbagai tanaman yang ditanam bahkan bisa memberi sumber pemasukan bagi warga dan bisa dipergunakan untuk keperluan rumah tangga.

Pengembangan kawasan rumah pangan lestari tersebut, menurut Kepala Bagian Kesejahteraan Sosial Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Ahmad Rodhi, secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Warga yang memanfaatkan pekarangan, ungkap Ahmad Rodhi, juga bisa melakukan penanaman tanaman obat keluarga (Toga) di pekarangan yang dimilikinya.

“Selain bisa ditata sedemikian rupa menjadi taman, manfaat pekarangan yang ditanami tanaman obat keluarga bisa dimanfaatkan karena sebagian tanaman obat juga menjadi bumbu dapur,” ungkap Ahmad Rodhi.

Fungsi KRPL tersebut, ungkapnya, di antaranya terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan, meningkatkan kemampuan masyarakat akan budidaya tanaman obat, buah, dan sayuran. Selain itu bisa menjaga kelestarian dan keberagaman sumber pangan lokal, mengembangkan usaha ekonomi produktif keluarga untuk menopang kesejahteraan keluarga, dan menciptakan lingkungan lestari serta sehat.

Ia berharap, gerakan atau upaya untuk memanfaatkan lingkungan pekarangan bisa dilakukan masyarakat bukan saat akan ada perlombaan. Pemanfaatan pekarangan tersebut, ungkapnya, bisa diterapkan sebagai kebutuhan yang bisa mengurangi pengeluaran uang belanja, khususnya para ibu rumah tangga karena sayuran, bumbu dapur,  dan kebutuhan sebagian lainnya masih bisa dipenuhi dari pekarangan. Gerakan tersebut seharusnya ada di setiap desa hingga ke setiap kepala keluarga untuk membentuk kawasan rumah pangan lestari.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...