Merawat Tradisi di Kampung Sewangi Kalimantan Selatan

Sabtu, 10 Desember 2016
BANJARMASIN — Denyut ekonomi perkampungan padat penduduk di bantaran anak Sungai Alalak, semakin riuh menjelang siang. Bising putaran gerinda terus menderu di tengah ketukan palu yang beradu keras memukul-mukul lempengan kayu. Di bawah naungan atap terpal yang terbentang, Ahmad Nur sibuk menggosok dinding jukung menggunakan amplas.
Perahu tradisional, jukung
Ia sudah dua pekan menggarap jukung pesanan seorang pemancing. Dalam hitungan hari ke depan, Ahmad bakal melego jukung sepanjang tujuh meter yang dibalut kombinasi warna merah, putih, dan biru itu seharga Rp. 4,5 Juta. Ahmad tak sendiri. Di Desa Pulau Sewangi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, puluhan showroom skala rakyat pembuatan perahu tradisional jukung tersebar di sana. Warga desa menyulap pelataran rumah atau bantaran sungai menjadi bengkel pembuatan jukung.
Pamor perahu jukung buatan Desa Pulau Sewangi memang tersohor sejak puluhan tahun silam. Kata Ahmad, perajin mendapat kemahiran mengolah jukung secara turun temurun.
“Saya bikin jukung sudah sejak 1980-an. Dulu orang tua bekerja bikin jukung, jadi saya ikut-ikutan saja,” ujar Ahmad, ketika disambangi Cendana News, Jumat (9/12/2016).
Perajin biasanya melego jukungnya tanpa mesin motor tempel. Harga jual ini menyesuaikan dimensi panjang, lebar, dan bahan baku kayu badan jukung. Semakin panjang dan lebar badan jukung, kata Ahmad, maka harga jualnya pun makin meroket. Jukung sepanjang 8 dan 6 Meter, misalnya, masing-masing dilepas seharga Rp 5,5 juta dan 3,5 juta per unit dengan bahan baku kayu meranti atau bangkirai.
Adapun jika berbahan baku kayu ulin, harga jukung semakin mahal. Bila jukung ingin melaju kencang, Ahmad menyarankan konsumen membeli mesin motor menyesuaikan panjang dan bobot badan jukung.
“Jukung sepanjang tujuh meter biasanya pakai mesin kekuatan 9 HP (Horse Power/tenaga kuda -red). Kalau sudah dipasang mesin, namanya klotok,” jelas Ahmad, sembari mengimbuhkan, jika kayu ulin bisa bertahan hingga 50 tahunan. Sedangkan kayu meranti atau bangkirai ketahanannya hanya 5 tahun. Kalau sudah keropos, biasanya ditambal sendiri.
Kebetulan, si pembeli jukung buatan Ahmad, Sahdan, sedang menengok jukung pesanannya. “Untuk mancing saja, daripada sewa klotok,” kata warga kawasan Pasir Mas, Kecamatan Banjarmasin Barat, itu.
Sayangnya, Ahmad melihat pesanan jukung terus menyusut seiring gencarnya pembangunan infrastruktur jalan dan modernisasi moda transportasi darat di Kalimantan Selatan. Walhasil, sebagian perajin memilih banting haluan menjadi buruh bangunan atau pekerja kasar lainnya.
Dalam lima tahun belakangan, Ahmad merasakan juragannya hanya menjual rata-rata sebanyak 10 unit jukung dalam setahun. Pembeli jukung biasanya pada periode Agustus-Desember setelah musim panen padi.
“Kami bikin jukung dulu, tidak menunggu pesanan. Ada juga yang pesanan, tapi umumnya bikin dulu,” ujar dia.
Perajin jukung lainnya, Anang Ilmi, sepakat dengan omongan Ahmad. Namun, Anang sedikit beruntung lantaran bisa melego rata-rata 15 unit jukung setiap tahun, di tengah lesunya penjualan jukung seiring gempuran moda transportasi darat, seperti motor dan mobil. Anang pun berkukuh melestarikan usaha warisan, lantaran menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.
Menekuni usaha warisan semenjak tahun 1970, Anang tak tergoda alih profesi kendati keuntungan makin menipis. Kendati penjualan jukung cenderung seret, ia enggan melepas jukung yang tak sesuai harga penawaran. Anang memproduksi jukung dalam beragam ukuran.
Satu jukung sepanjang 10 Meter dengan polesan warna hijau dan merah berbahan kayu meranti, menurut Anang, sejatinya diminati oleh calon pembeli. Namun, ia enggan melego karena calon pembeli hanya berani menebus Rp 10,5 Juta, masih di bawah harga penawaran sebesar Rp. 11,5 Juta. 
Apabila bahan baku kayu ulin, Anang bakal melepas jukung buatannya sebesar Rp. 20 Juta. Pembeli jukung kebanyakan seorang nelayan dan petani. “Biaya produksi jukung panjang 10 Meter dengan kayu meranti atau bangkirai sebanyak Rp. 7,5 Juta. Saya mengolah dulu, kalau ada yang beli baru dijual,” kata Anang Ilmi, membuka secuil resep produksinya.
Ihwal sejarah jukung, Anang punya cerita menarik ketika diundang oleh periset asal Negara Denmark untuk menghadiri seminar perahu tradisional pada 1990 di Jakarta. Saat itu, ia dan seorang kawannya yang berkesempatan hadir di seminar tersebut. “Kami diberitahu, bahwa jukung salah satu perahu kuno,” kata Anang Ilmi.
Perajin jukung Desa Sewangi memperoleh kiriman bahan baku kayu dari Kalimantan Tengah. Tahapan awal proses pembuatan jukung lewat kerongkong alias bagian dasar badan perahu. Kayu utuh yang semula berbentuk gelondongan, harus dibakar agar memperlunak batang utama kayu ketika membentuk kerangka dasar badan jukung.
                                                                                                                                             
Menurut Anang, perajin mengambil kerongkong dari daerah Manusup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Lantaran kerongkong ibarat fondasi jukung, perajin harus kembali menghaluskan kerongkong menyesuaikan ukuran badan jukung yang dibuat.
Tak ingin sebatas membuat jukung, sebagian warga tertarik mendiversifikasikan atau mengkreasikan usaha dengan mengolah miniatur jukung sebagai cinderamata. Usaha sampingan ini sekedar menopang pembuatan jukung dan klotok. Miniatur jukung semakin ciamik setelah ditambahi pernak-pernik adat budaya banjar.
                                                                                                                                 
“Pembuatan miniatur jukung hias lebih rumit, karena bentuknya kecil dan detil manusia serta makanannya harus dikerjakan teliti agar hasilnya bagus,” kata seorang perajin miniatur jukung, Imansyah, yang biasa memasarkan miniatur jukung buatanya dengan menitipkannya kepada pedagang pasar terapung di Kota Banjarmasin.
Imansyah menjual jukung hias seharga Rp. 50.000, Rp. 75.000, dan Rp. 100.000, sesuai ukuran dan tingkat kesulitannya. Pelancong lokal yang kebetulan berkunjung ke Pulau Sewangi kerap membeli miniatur ini. 

Jurnalis : Diananta P. Sumedi / Editor: Koko Triarko / Foto : Diananta P. Sumedi

Lihat juga...