Mahasiswa ITS buat Biofuel dari Limbah Plastik

JUMAT, 9 DESEMBER 2016

SURABAYA — Sri Utami, mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) berhasil mengolah limbah plastik kemasan minuman, menggunakan sari enceng gondok menjadi biofuel. Produk ini bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk masa yang akan datang. Karya inovatif mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS ini merupakan hasil pengamatan yang dilakukan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Perempuan yang akrab disapa Tami ini juga mendapati ITS sendiri belum mempunyai pengolahan sampah kemasan botol air mineral. Dari sanalah, Tami bersama empat anggota timnya tergerak menciptakan alat yang dapat mengolah limbah sampah menjadi bahan bakar minyak. Keempat anggotanya: Regia Puspitasari, Putu Adhi Rama Wijaya, Tri Wahyuning Eka PS, dan Ratri Puspita Wardani.

Sejumlah mahasiswa ITS yang berhasil mengolah limbah plastik kemasan minuman menggunakan sari enceng gondok menjadi biofuel. Produk ini bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk masa yang akan datang.

“Awalnya limbah plastik dicacah menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian cacahan tersebut diproses dengan metode pirolisis,” terang perempuan kelahiran Malang 14 Agustus 1995 berdasarkan siaran pers Humas ITS, Jumat (9/12/2016).

Pirolisis merupakan proses dekomposisi bahan anorganik melalui proses pemanasan.

“Hasil dari proses pirolisis ini adalah liquid fuel atau bahan bakar minyak,” imbuhnya. Liquid fuel katanya, yang nantinya dikomposisikan dengan hasil fermentasi bioetanol dari enceng gondok menjadi bahan bakar minyak yang beroktan tinggi.

“Kita komposisikan sedemikian rupa agar mirip dengan nilai oktan bensin. Yaitu 90 persen bioetanol dan 10 persen liquid fuel,” jelas Tami selaku ketua tim.

Putu Adhi sedang mengambil enceng gondok untuk diproses.

Tidak tanggung-tanggung, inovasinya ini sudah berhasil memboyong dua piala di dua ajang Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berbeda. Yaitu Lomba KTI Bio Fest yang diselenggarakan Departemen Biologi Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) dan Lomba KTI Environment Festival Departemen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, belum lama ini.

Tentang keberhasilannya dalam lomba karya tulis ini, Tami menegaskan, ide menulis hakikatnya bisa muncul dari mana saja. Terutama dari lingkungan sekitar. Namun seringkali sebagian orang berasumsi membuat karya tulis ilmiah itu sulit. 

“Sangat disayangkan bila kita mengatakan sulit, tapi belum pernah mencoba untuk menulis,” tutur mahasiswa yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Riset dan Teknologi Himpunan Mahasiswa (Hima) Departemen Teknik Kimia ITS ini.

Ke depannya, Tami sangat berharap dapat mempresentasikan karya terbaiknya ini di konferensi internasional.

“Target terdekat adalah ajang Call for Paper di Hokkaido Jepang,” tutup Tami dengan nada optimistis.

Jurnalis: Nanang WP / Editor: Satmoko / Foto: Nanang WP

Lihat juga...