Buruh Serabutan di Lampung, Cara Yatini Menafkahi Anaknya

KAMIS, 22 DESEMBER 2016
LAMPUNG — Pekerjaan tetap yang sulit diperoleh dengan jenjang pendidikan yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), membuat Yatini (35), memutuskan mencari pekerjaan informal yang bisa menghasilkan uang bagi anak-anaknya. Pekerjaan di sebuah tempat pembuatan furnitur milik Safrudin (39) di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, ditekuni Yatini saat pemilik usaha furnitur tersebut mendapat banyak pesanan untuk pribadi maupun sekolah. Menghaluskan, mengecat yang masuk dalam proses penyelesaian (finishing) merupakan tugas Yatini bersama beberapa ibu lain yang dilakukan sebagai pekerjaan tambahan saat pekerjaan lain belum diperoleh. Memiliki tiga orang anak di antaranya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan dua di Sekolah Menengah Pertama (SMP), membuatnya harus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya dengan pekerjaan suami yang hanya sebagai buruh bangunan lepas. Setiap hari, Yatini bahkan dengan cekatan menyelesaikan sekitar 10-15 kursi dan beberapa furnitur lain sebelum dikirim ke pemesan barang-barang keperluan rumah tangga di antaranya meja kursi, lemari, kotak sampah, serta keperluan untuk ruang sekolah.

Yatini sedang bekerja mengecat pada usaha furnitur.

“Saya setiap hari bekerja di sini kalau pesanan sedang banyak. Namun kalau sedang sepi pekerjaan lain sebagai buruh tanam padi, tanam jagung juga saya kerjakan yang penting halal,” ungkap Yatini saat ditemui sedang menyelesikan pekerjaan mendempul dan mengecat beberapa kursi yang harus diselesaikannya, Kamis (22/12/2016).

Dalam sehari dengan mengerjakan secara telaten dan penuh ketelitian, ia berhasil menyelesaikan beberapa kursi yang akan diupah oleh sang pemilik usaha furnitur dengan Rp 2.500 per kursi dan sekitar Rp 5.000 untuk meja. Pekerjaan yang diselesaikan dalam sehari, diakuinya bisa menghasilkan uang sekitar Rp 60 ribu bahkan lebih yang relatif lebih besar dibandingkan dengan pekerjaanya sebagai buruh tanam yang hanya diupah sekitar Rp 4.500 per hari. Meski dengan upah yang relatif lumayan, namun ia mengakui, pekerjaan tersebut harus dikerjakan sempurna dan tidak boleh asal-asalan. Setiap pekerjaan yang dianggap tidak bagus akan diminta untuk disempurnakan terutama dalam proses pendempulan dan pengecatan.

Proses pendempulan dilakukan bersama pekerja lain yang juga perempuan sebelum proses pengecatan dilakukan. Proses pendempulan merupakan upaya untuk menghilangkan beberapa lubang atau cacat pada kayu sebelum dicat sehingga furnitur yang dihasilkan betul-betul sempurna. Tidak membuat kecewa konsumen sebab konsumen yang mendapatkan hasil furnitur yang dikerjakan dengan baik akan berlangganan untuk membuat furnitur pada usaha tersebut.

“Harus rapi meski terlihat sederhana namun dikerjakan dengan telaten. Sebab kalau belum bagus diminta mendempul ulang dan mengecat ulang agar lebih rapi dan upahnya lumayan daripada menganggur,”ungkapnya.

Upah yang bagi Yatini cukup tersebut akan digunakan untuk membeli keperluan dapur di antaranya beras, bumbu, maupun sayuran. Sementara sebagian digunakan untuk keperluan sekolah anak-anaknya yang masih membutuhkan biaya sekolah. Keterbatasan untuk memperoleh pendapatan membuat sang anak yang duduk di bangku SMA pun ikut membantunya bekerja dengan menjadi tukang cuci mobil di tepian Jalan Lintas Sumatera. Yatini pun tak malu harus mengerjakan pekerjaan yang sebagian dikerjakan laki-laki tersebut untuk membantu keluarga.

Pekerja perempuan dengan upah harian sibuk di bidang furnitur.

Sebagai seorang ibu, dirinya pun berharap yang terbaik bagi anak anaknya di antaranya bisa menempuh pendidikan yang lebih baik dari dirinya yang hanya lulusan SMP. Sementara itu, saat dirinya ditanya tentang makna hari ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember, ia mengaku, tidak mengetahui jika hari ini diperingati sebagai hari ibu. Ia bahkan hanya mengaku berpikir untuk masih bisa memperoleh pekerjaan lain jika pekerjaan pembuatan furnitur sedang sepi permintaan. Namun di akhir tahun ini ia mengaku, masih bisa membantu proses finishing furnitur akibat banyaknya permintaan dari banyak keluarga yang akan merayakan Natal.

“Beberapa kursi dan meja dipesan warga yang akan merayakan Natal. Hari ini dikirim semoga konsumennya puas dengan hasil yang dikerjakan terutama untuk pengecatannya,” ungkap Yatini.

Sementara itu, Safrudin sang pemilik usaha furnitur mengungkapkan, Yatini merupakan sosok yang telaten dan bekerja dengan rapi. Ia mengaku sengaja memilih pekerja untuk proses finishing dengan tenaga kerja perempuan supaya menghasilkan furnitur yang rapi dan bagus karena pekerjaan wanita cenderung rapi dan telaten. Selain memberi upah untuk target pengerjaan yang dibebankan kepada para pekerjanya, Safrudin juga kerap memberi bonus tambahan terutama saat mendapat proyek proyek pengerjaan furnitur dalam jumlah banyak. Sebab, ia yakin, dengan ketelatenan dan hasil yang bagus merupakan buah karya para ibu yang membantunya.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...