JUMAT, 9 DESEMBER 2016
SOLO — Letak geografis wilayah Jawa Tengah yang banyak berada di dataran tinggi dan perbukitan membuat wilayah ini rentan ancaman bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menyebut, jika lebih dari 70 persen Kabupaten/Kota masuk rawan bencana. Meski penanganan korban longsor di Karanganyar telah selesai, ancaman terhadap bencana di kabupaten lereng Gunung Lawu itu masih tinggi. Hal ini ditegaskan Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Sarwo Pramana pasca bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Karangpanan beberapa waktu lalu.
![]() |
| Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Sarwo Pramana mengimbau masyarakat di Jawa Tengah waspada terhadap ancaman bencana yang masih tinggi. |
“Jawa Tengah memiliki kerentanan yang tinggi dengan bencana. Banyak daerah yang berada di perbukitan dan pegunungan membuat wilayahnya rawan akan longsor,” ucap Sarwo kepada awak media, Jumat (9/12/16).
Dikatakan, wilayah Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Banjarnegara merupakan daerah paling rawan longsor di Jawa Tengah. Dua wilayah itu, menurutnya, selalu terjadi longsor setiap memasuki musim hujan.
“Dalam sehari, di dua kabupaten itu terdapat 5-6 kali longsor, meskipun ukurannya kecil. Hanya prigi atau tebing kecil,” jelasnya.
![]() |
| Simulasi penanganan bencana yang digelar BPBD Jateng. |
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memperkirakan, musim hujan ini akan berlangsung hingga Maret 2017 mendatang. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember-Januari.
“Untuk itu, daerah rawan longsor maupun banjir diminta untuk meningkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.
Sejumlah daerah yang juga diwaspadai tingkat kerawananannya Wonosobo, Pekalongan, Kebumen, Pemalang, dan Temanggung. Ini dikarenakan sejumlah daerah itu mempunyai hampir kesamaan, karena tanahnya rawan longsor.
Disebutkan Sarwo, ESDM merilis terdapat 2.064 desa di Jawa Tengah yang masuk rawan longsor. Jumlah itu mencakup 70 persen dari wilayah Jawa Tengah yang termasuk daerah rawan.
Guna antisipasi, BPBD Jateng sudah mendirikan 115 titik Posko Siaga Bencana. Jika cuaca buruk, warga daerah rawan bencana mengungsi ke Posko yang sudah didirkan.
”Kami juga sebar nomor tanggap darurat di setiap Posko agar setiap ada kejadian bisa langsung mengontak langsung. Kami juga minta alat komunikasi tradisional seperti kentongan dihidupkan lagi sebagai upaya antisipasi dini,” tandas Sarwo.
Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid
