Balikpapan Tolak Taksi Online”

JUMAT 9 DESEMBER 2016

BALIKPAPAN — Pengusaha dan sopir angkutan kota maupun taksi argo meter menolak keberadaan taksi beraplikasi online di Balikpapan, menyusul keberadaan taksi online ini hadir pada bulan Juli 2016. Penolakan itu terungkap dalam dialog antara Pengusaha, Sopir Angkutan Kota dan taksi berargo meter bersama Komisi III DPRD dan Dinas Perhubungan maupun Polres Balikpapan, di ruang rapat DPRD Balikpapan, (9/12).
Dialog Organda, pengusaha angkutan kota dan taxi argo meter bersama Komisi III DPRD serta Dishub Balikpapan.
Ketua Organda Balikpapan menegaskan keberadaan taksi online membuat kegiatan angkot dan taxi berargo meter terganggu, dan jumlah penduduk di kota minyak ini berbeda dengan kota lain seperti DKI Jakarta.
“Kami sangat terganggu keberadaan taksi online ini. Jumlah angkot dan taksi berargo meter masih bisa mengakomodir kebutuhan angkutan di kota Balikpapan,” katanya mewakili pengusaha dan sopir angkutan darat saat dialog bersama DPRD Balikpapan, Jumat (9/12/2016).
Dia menyebutkan jumlah angkutan kota di Balikpapan ada 1.800 dan 85 unit taksi berargo meter. “Penolakan keberadaan taksi online ini sudah final, intinya tidak bisa kami terima tak bisa dirubah maka DPRD dan Dishub harus mengakomodir aspirasi kami. Kami pengusaha angkot dan taksi memiliki izin yang resmi dan mengikuti aturan yang ada,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Kasi Teknis dan Penyelenggara Angkutan Dishub Balikpapan Mahendra Candra mengaku keberadaan taksi online tersebut izinnya tidak sesuai dengan peruntukannya. Karena untuk beroperasi taksi online harus mengikuti peraturan aplikasi online.
“Terus terang saja izinnya taksi online ini tidak sesuai dengan peruntukkannya. Izinnya yang ada dikami itu konsultan manajemen jadi tidak boleh itu digunakan dalam aplikasi online,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Balikpapan Andi Arif Agung mengatakan persoalan taksi online ini berbeda dengan daerah lain. Apalagi di daerah lain seperti di DKI Jakarta menggunakan sistem sewa untuk taksi online-nya. Dan jumlah penduduk yang sangat jauh berbeda dengan kota besar Jakarta.
“Ini menyangkut persaingan usaha angkutan. Mudah-mudahan ini menjadi bahan evaluasi dalam memberikan ataupun memperbaiki pelayanan angkutan darat ke masyarakat,” ujarnya.
Jurnalis: Ferry Cahyanti/Editor: Irvan Sjafari/Ferry Cahyanti

Lihat juga...