25 Rektor dari 8 Negara ASEAN Bahas Kolaborasi Antar Pendidikan Tinggi Bidang Iptek di Malasyia

SENIN, 19 DESEMBER 2016
SURABAYA — Sebanyak 25 Rektor dari 8 Negara ASEAN dan Jepang, menghadiri ASEAN University Presidents Forum  di Penang, Malaysia, Senin (19/12/2016). Forum ini merupakan pertemuan antar rektor yang diinisiasi oleh Toyohashi University of Technology, bekerja sama dengan University Sains Malaysia (USM).
Suasana Forum University Presidents di Malasyia. (Foto: Ist).
Forum Rektor ini membahas tentang upaya meningkatkan kolaborasi internasional antara pendidikan tinggi dalam bidang sains dan teknologi. Isu utama yang dibahas dan dikerjasamakan terbagi dalam dua isu. Pertama, tantangan dalam perencanaan Strategi Globalisasi Universitas. Kedua, tantangan dalam mobilisasi dan kerjasama Internasional untuk dosen dan mahasiswa di masing-masing negara.
Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Datuk Dr. Asma Ismail, Rektor USM sebagai tuan rumah menyatakan, telah terjadi perubahan yang sangat masif dalam pendidikan tinggi, karena dunia yang terus berubah.  “Perubahan pertama membawa dampak terhadap mobilisasi mahasiswa dan dosen antara universitas di dunia, terutama ASEAN dan Jepang. Perubahan kedua adalah terjadinya masifikasi pendidikan tinggi setiap negara, bahkan relatif tanpa batas negara”, ungkap Prof. Asma Ismail, dalam siaran pers Humas ITS, Senin (19/12/2016).
Prof. Asma Ismail menjelaskan, perubahan pertama, yaitu mobilisasi mahasiswa terutama di antara negara-negara di Asia, terjadi karena perubahan kekuatan ekonomi dunia yang secara perlahan bergeser dari Amerika ke Asia. Dalam hal ini dipimpin oleh India dan China sebagai super power baru di masa depan. “Namun, Asia dan ASEAN tetap menjadi sangat menarik untuk dikunjungi dan dijadikan tempat belajar,” tegasnya.
Perubahan kedua, lanjut Prof. Asma Ismail, ialah masifikasi pendidikan tinggi yang memberi dampak, bahwa pemerintah tidak akan mampu lagi menyelenggarakan pendidikan tinggi tanpa bantuan pihak swasta. Karena itu, bagaimana melakukan harmonisasi antara pemerintah dan swasta agar proses kualitas proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
“Karena itu, forum ini penting untuk membahas adanya acuan yang dapat disepakati bersama di ASEAN agar dapat menjamin kualitas pendidikan tinggi yang lebih baik,” tandasnya.
Sementara itu, perwakilan rektor dari Indonesia, salah satu pimpinan universitas yang diundang adalah Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc., ES., Ph.D., sebagai Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Dalam forum ini, Rektor ITS Prof. Joni Hermana melontarkan usulan pentingnya sinergi resource sharing agar keterbatasan anggaran dan peralatan laboratorium di setiap perguruan tinggi dapat diatasi. “Sinergi ini sangat diperlukan untuk kemudahan pengembangan masing-masing universitas ke depan,” kata Joni.
Tidak hanya itu, Joni juga menyampaikan pentingnya memperkuat kerjasama antar univesitas yang berkelanjutan. “Beberapa konsep dan alternatif jejaring antara Perguruan Tinggi lintas negara dan level negara perlu terus dilanjutkan,” tegasnya.

Jurnalis : Nanang WP / Editor : Koko Triarko / Foto : Istimewa

Lihat juga...