Bumbu Dapur Naik, Pedagang Tradisional Mengeluh Daya Beli Menurun

KAMIS 3 NOVEMBER 2016
LAMPUNG—Pedagang di sejumlah pasar tradisional Kecamatan Ketapang, Kecamatan Penengahan mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang masih belum mengalami penurunan. Salah satu pedagang di pasar tradisional Desa Blambangan, Kecamatan Penengahan, Surti (45) bahkan menyebut kenaikan bumbu dapur tak tanggung tanggung hampir mencapai sekitar 50 persen. 

Seorang pedagang yang punya usaha penggilingan bumbu dapur di Lampung



Pedagang itu mengungkapkan saat ini beberapa komditas masih bertahan dengan harga relatif murah,  di antaranya tomat. Sementara harga sebagian besar barang dagangan pedagang mengalami kenaikan seperti bumbu dapur.

Akibat kenaikan harga tersebut Surti mengaku mengakibatkan permintaan berkurang akibat permintaan dan daya beli menurun terutama oleh para ibu rumah tangga (IRT).

Omzet yang menurun pun menjadi imbas dari merangkaknya harga kebutuhan dapur yang dijual di pasar tradisional tersebut. Konsumen yang biasanya membeli dalam jumlah banyak akibat mahalnya harga memilih membeli dalam jumlah sedikit untuk bisa menyiasati pembagian uang belanja.

“Kami paham banyak konsumen yang akhirnya membeli sedikit karena harganya memang mahal.  Berbeda dengan saat harga murah konsumen membeli kebutuhan dapur dalam jumlah besar agar bisa distok,”ungkap Surti saat ditemui Cendana News di pasar tradisional Blambangan, Kamis (3/11/2016).

Ia menerangkan kenaikan harga bumbu dapur tersebut biasanya disebabkan oleh banyaknya permintaan akibat banyak warga yang melakukan hajatan atau kegiatan besar. Namun kenaikan bumbu dapur dalam sepekan terakhir lebih disebabkan akibat berkurangnya pasokan dari sejumlah petani yang biasa melakukan penjualan ke para pedagang di pasar.

Surti mengaku barang kebutuhan pokokdidatangkan dari beberapa tempat, seperti  Gisting, Tanggamus, sebagian wilayah Lampung Timur dan Lampung Barat. Selain faktor tersebut kondisi cuaca akhir akhir ini diduga menjadi penyebab mahalnya harga kebutuhan pokok.

Bumbu dapur seperti bawang putih, cabai besar, cabai kecil naik dari kisaran Rp10 ribu hingga Rp15 ribu perkilogram. Akibatnya Surti hanya mampu menjual maksimal sebanyak 15 kilogram dalam sehari. Padahal dalam kondisi normal dirinya mampu menjual bawang dan cabai merah hingga mencapai 40 kilogram.

Tomat relatif murah, tetapi cabai merah naik.

Hal yang sama diakui penggiling bumbu, Samsul, yang memiliki usaha penggilingan bumbu. Bahan bahan yang mahal membuatnya menjual bumbu dapur yang sudah digiling naik menjadi Rp500 perkilogramnya yang biasa dijual dengan sistem plastikan.

Samsul beruntung masih banyak konsumen yang membawa bumbu dapur dari rumah dengan hanya memintanya menggiling. Sementara harga kelapa yang sebelumnya hanya Rp2000 perbutir kini naik menjadi Rp3000 perbutir sehingga saat dijadikan ampas sudah naik menjadi Rp4000 perbutir.

Cabai Picu Inflasi di Bandarlampung
Kondisi naiknya harga komoditas diantaranya cabai merah mendorong inflasi sebesar 0,58 persen pada perioode Oktober 2016. Komoditas yang memberikan pengaruh dalam

Inflasi menurut Kepala Badan Statistik (BPS) Provinsi Lampung,Yearne Irmaningngrum, di antaranya pengaruh tukang angkut dengan andil sebesar 0,35 persen dan cabai merah 0,29 persen. Sementara bawang putih menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen, tomat sayur 0,06 persen.

“Inflasi di kota Bandarlampung menempati peringkat ke-8 dari 82 kota yang diamati perkembangan harganya dari 82 kota, 48 kota mengalami inflasi sedangkan 34 kota mengalami deflasi,”ungkapnya.

Ia bahkan menyebut harga cabai merah yang melambung dan terjadi sejak bulan Oktober memberikan andil yang mengakibatkan inflasi. Tarif yang tinggi dalam penggunaan jasa tukang angkut juga membuat biaya lebih membengkak dan penyedia jasa tyersebut mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...