Muskitnas dan Rekam Sejarah Dunia Kedokteran Tanah Air

RABU, 26 OKTOBER 2016

JAKARTA — Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) berkedudukan di Jalan Abdul Rachman Saleh Raya No.26 Jakarta Pusat. Posisinya yang tersembunyi di antara megahnya bangunan tinggi seperti RSPAD Gatot Subroto, kawasan pusat perbelanjaan Atrium Plaza, dan beberapa hotel berbintang di sekitarnya tidak membuat area Muskitnas kehilangan sentuhan suasana tempo dulu. Malahan suasana Muskitnas terkini yang masih dikelilingi pemukiman penduduk tenang seperti Jalan Kwini, ditambah keadaan gedung yang masih sama seperti aslinya tetap menyisakan aroma suasana tempo dulu yang cukup kental.
Monumen Peringatan 125 Tahun Pendidikan Dokter Di Indonesia di Museum Kebangkitan Nasional
Gedung Muskitnas dulunya adalah bekas sekolah kedokteran bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten) yang didirikan Belanda untuk orang-orang pribumi dari seluruh Nusantara. Itulah sebabnya gedung Muskitnas memiliki area yang sangat luas karena juga diperuntukkan sebagai asrama bagi para siswa sekolah kedokteran selama kurang lebih sepuluh tahun di STOVIA.
Karena perkembangan STOVIA sangat pesat, maka area yang begitu luas ternyata menjadi tidak memadai lagi untuk melakukan kegiatan belajar mengajar sekaligus asrama bagi para siswa. Oleh karena itu pada tahun 1920 kegiatan belajar mengajar beserta asrama dipindah ke Jalan Salemba Raya yang sekarang ini dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sedangkan gedung STOVIA beralihfungsi menjadi tempat pendidikan Asisten Apoteker dan pendidikan setingkat SMP serta SMA dijaman itu.
Dari gedung STOVIA ini tercatat lahir begitu banyak tokoh-tokoh nasional gerakan kemerdekaan, perhimpunan Boedi Utomo, persatuan-persatuan gerakan pemuda seperti Trikoro Dharmo (Jong Java), Jong Ambon, dan Jong Minahasa.
Museum Kebangkitan Nasional, Jalan Abdul Rachman Saleh No.26, Jakarta Pusat
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia mulai tahun 1942 hingga 1945 maka gedung STOVIA tidak lagi menjadi tempat pendidikan kedokteran, melainkan dimanfaatkan tentara Jepang sebagai tempat penampungan tentara Belanda sebagai tawanan perang.
Atas pertimbangan begitu banyaknya peristiwa sejarah yang terjadi di gedung STOVIA serta begitu istimewanya gedung ini dalam sejarah perjalanan kemerdekaan Indonesia, maka di era pemerintahan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto tepatnya tanggal 20 Mei 1974, gedung STOVIA diresmikan sebagai Gedung Kebangkitan Nasional. Dalam perkembangannya maka sekarang gedung ini dikenal sebagai Museum Kebangkitan Nasional disingkat Muskitnas.
Bahkan tidak cukup sampai diresmikan sebagai Gedung Kebangkitan Nasional saja, karena pada 12 Desember 1983 Presiden Soeharto kembali menetapkan Gedung Kebangkitan Nasional sebagai Benda Cagar Budaya Nasional. Hal ini dilakukan mengingat kondisi gedung sejak dibangun pertama kali hingga tahun 1982 tetap kokoh sesuai bentuk aslinya. Konsekuensi penetapan sebuah bangunan atau area sebagai Benda Cagar Budaya Nasional adalah gedung tidak boleh dirombak dari bentuk aslinya melainkan harus dijaga, dirawat, dipelihara serta dilestarikan selamanya.
Berbicara mengenai STOVIA, sama saja dengan berbicara tentang bagian sejarah dunia kedokteran di Indonesia. Dari sini dapat dilihat bahwa perjuangan tidak harus dengan angkat senjata saja, akan tetapi dengan menjadi tenaga medis yang berjuang untuk kesehatan rakyat juga merupakan sebuah perjuangan. Bahkan bagaimana seorang tenaga medis yang tanpa pendidikan militer harus berjibaku dengan peluru saat masa perjuangan fisik demi merawat mereka yang terluka, mengobati rakyat yang sakit karena penderitaan di masa perang, sampai terkadang diintimidasi oleh pihak musuh untuk turut merawat tentara mereka yang terluka adalah perjuangan yang teramat luar biasa.
Masih di era pemerintahan Presiden Soeharto atau akrab disapa Pak Harto maka kembali dibangun sebuah monumen yang akhirnya ditempatkan di dalam Gedung Kebangkitan Nasional untuk mengenang jasa para dokter serta mahasiswa kedokteran yang telah berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan maupun perkembangan ilmu kedokteran bagi masyarakat Indonesia.
Nama para Dokter dan Mahasiswa yang berjasa dalam pembinaan bangsa dan perkembangan ilmu kedokteran Indonesia
Monumen itu diberi nama ” Monumen Peringatan 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia ” yang diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 10 November 1976 atau lebih kurang dua tahun setelah peresmian Gedung Kebangkitan Nasional.
Di Monumen ini turut pula diukir 93 nama dokter dan mahasiswa kedokteran yang berjasa dalam pembinaan bangsa Indonesia serta dalam bidang ilmu kedokteran sejak tahun 1851 hingga 1976. Nama-nama yang terukir di monumen tersebut dapat dikenali oleh masyarakat Indonesia saat ini sebagai nama-nama dari berbagai rumah sakit, nama jalan, serta nama akademi perawat di seluruh Indonesia.
Didalam benak masyarakat zaman sekarang terutama para generasi muda pastinya akan bertanya di dalam hati masing-masing, mengapa ada nama Rumah Sakit Dr.Sardjito, Rumah Sakit Achmad Mochtar, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, atau nama Jalan seperti Jalan Latumeten, dan Jalan Abdulrachman Saleh. Jika memang ingin mengetahuinya maka dapat mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional serta melihat ukiran nama di monumen tersebut sekaligus mendapatkan literatur sejarah dari petugas museum.
” Butuh perhatian, waktu, dan kejelian jika ingin meneliti sejarah sebelum diabadikan di museum. Dan di era Pak Harto banyak sekali museum didirikan, itu tandanya ia ingin masyarakat atau generasi penerus belajar atau terinspirasi dari para pendahulunya,” tutur Sujiman, Kepala Seksi Penyajian dan Layanan Edukasi Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional menyimpan begitu banyak literatur sejarah mulai dari penyebab pemerintah kolonial Belanda membangun lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia sebagai daerah jajahan, mulai berseminya gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dari para siswa binaan sekolah-sekolah Belanda tersebut, lahirnya tokoh-tokoh nasional baik yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional maupun yang namanya hanya tercatat di museum sebagai bunga perjuangan, serta terbentuknya organisasi-organisasi maupun perhimpunan pemuda untuk mengusir penjajah dari muka bumi Indonesia.
Presiden Soeharto merupakan satu-satunya pemimpin di negeri ini yang sangat memperhatikan betapa pentingnya sebuah museum dalam perjalanan suatu bangsa atau suatu negara. Museum dalam arti bukan sebagai tempat menyimpan benda sejarah semata, melainkan sebuah museum yang menginspirasi masyarakat.
Dan perjuangan para dokter serta mahasiswa kedokteran era 1851 hingga 1976 yang diabadikan di Museum Kebangkitan Nasional merupakan jawaban kepedulian seorang pemimpin akan betapa penting arti sejarah bagi rakyatnya di kemudian hari.
Kiri : Gedung Stovia tempo dulu; Kanan : Gedung Stovia sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional
Sejak diresmikannya ” Monumen Peringatan 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia “, hingga hari ini belum ada yang bisa menghimpun data sejarah terkait perjuangan para dokter maupun mahasiswa kedokteran selepas era 1976. Baik yang berjasa terhadap pembinaan kesehatan masyarakat maupun perkembangan ilmu kedokteran.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...