Koleksi Baju Jersey Lokal Wujud Kecintaan pada Tim Sepak Bola Indonesia

JUMAT, 21 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA — Karena kecintaannya, seorang dosen Teknik Arsitektur di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Dimas Wihardyanto mengoleksi lebih dari 500 jersey atau kaos pemain sepak bola Indonesia yang dikaguminya. Kendati minim prestasi, ia tetap mencintai tim lokal yang menurutnya menyimpan banyak cerita.
Kecintaan terhadap olahraga sepak bola memang ada kalanya di luar jangkauan nalar biasa. Seorang suporter bahkan rela membela mati-matian tim idolanya, kendati tak mengenal secara pribadi pemain-pemainnya. Begitulah euforia sepak bola di seluruh dunia
Sementara itu ada pula pengagum yang kemudian dengan segala daya dan upaya, bahkan juga pengorbanan materi yang tidak sedikit memburu baju-baju jersey dari seorang pemain yang diidolakannya.
Dimas Wihardyanto (34), hanya satu saja dari sejumlah penggila klub sepak bola tanah air yang mewujudkan kecintaan yang dalam terhadap klub lokal Indonesia dengan mengoleksi baju jersey dari pemain-pemain yang diidolakan.
Ditemui di kediamannya, Jumat (21/10/2016), Dimas menuturkan, kesukaannya memburu baju jersey sudah dilakukannya sejak masih duduk di Kelas II Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta pada 1997 silam. Baju pertama yang diperolehnya sebagai koleksi adalah baju milik Hartono, pemain belakang Persatuan Sebak Bola Surabaya (Persebaya).
Saat itu, kata Dimas, Hartono menjadi pemain idolanya karena kemampuannya mempertahankan lini belakang. Orangnya tinggi besar, keras, dan menjadi pemain yang saat itu menurutnya sangat menonjol.
“Hartono itu satu angkatan dengan Hendro Kartiko, Anang Maruf, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro dan Uston Nawawi. Saat itu Persebaya bertanding melawan PSIM di Yogyakarta”, ujarnya.
Setelah hampir 19 tahun mengoleksi baju-baju jersey, Dimas mengaku masih terus ingin mengoleksi baju-baju jersey dari Tim Nasional saat ini. Dimas bahkan mengaku di musim laga Federasi Sepak Bola Asean (Asean Football Federation/AFF) tahun ini ia sangat ingin bisa memiliki baju seragam merah putih milik Andik Vermansyah, pemain tengah Tim Nasional Garuda Indonesia asal Surabaya.
Dimas mengakui, dunia sepakbola di Indonesia memang belum sepenuhnya bisa memuaskan. Bahkan, begitu sering terjadi karut-marut, yang membuatnya sangat merasa kecewa. Menurutnya, seringkali usai pertandingan terdengar cerita miring yang membuat perjuangan para pemain seolah menjadi tidak berarti.
“Saya sangat berharap sepak bola Indonesia bisa seutuhnya profesional. Karena saya yakin, pada dasarnya potensi kita sangat luar biasa. Hanya saja kita belum bisa mengolahnya dengan baik,” ujarnya.
Kini, di usianya yang ke-34 tahun, Dimas masih belum lelah berburu baju jersey. Bahkan ia berharap 500 lebih koleksi baju jersey miliknya akan bisa dirawat kelak oleh putranya yang kini baru berusia 2 tahun. Sedikit pun Dimas tak pernah ingin menjual koleksinya itu, kendati pernah ada salah satu baju jersey koleksinya ditawar seharga Rp. 15 Juta.
Bagi Dimas, baju-baju jersey itu adalah saksi dari sekian banyak cerita gegap-gempitanya bintang-bintang sepak bola tanah air. Tidak hanya itu, cara memperoleh baju jersey pun menjadi kenangan tersendiri yang tidak akan pernah terlupakan.
Dimas mengatakan, ada salah satu baju jersey yang diperoleh dengan menukarnya dengan beras 10 Kilogram. Baju itu adalah milik Marcelo Braga, pemain Persatuan Sepak Bola Sleman (PSS) di tahun 2005. Bahkan, baju itu didapatkan ketika sedang berada di Lampung untuk mendampingi sejumlah mahasiswanya yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana pada tahun 2014.
“Waktu itu ada bapak-bapak sedang menyadap getah karet memakai kaos Marcelo Braga, yang didapatnya dari anaknya yang sedang kuliah di Yogyakarta dan menjadi tetangganya Marcelo. Saya tukar kaos itu dengan beras dan bapak-bapak itu mau,” kenang Dimas.
Sementara itu, koleksi baju jersey milik Dimas yang paling tua berasal dari tahun 1986 yang dahulu merupakan kepunyaan almarhum Iswadi Idris. Ada bercak kotor-kotor bekas jatuh pada kaos itu, namun masih layak dikenakan. 
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Lihat juga...