SABTU, 23 JULI 2016
SOLO — Ada catatan menarik dari Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dalam kunjungannya di Karanganyar, Jawa Tengah, dalam acara silaturahmai dengan masyarakat. Salah satunya mengenai kesenjangan sosial (gini rasio) di Indonesia yang menurutnya kian mengkhawatirkan.
Selama perjalanan Reformasi sejak 1998, bangsa Indonesia menurut Zulkifli sudah banyak kemajuan di berbagai lini. Ironisnya, kesenjangan sosial di Indonesia juga semakin jauh, dengan ditandai dengan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui kesenjangan sosial yang hampir menembus angka 0,50 persen.
“Survei terakhir, kesenjangan sosial ini 1 persen orang terkaya menguasai lebih dari 50 persen kekayaan negara. Ini kesenjangannya sudah sangat jauh. Bayangkan jika kesenjangan ini terus terjadi dan jauh, dapat menyulitkan bangsa kita,” ujar Zulkilfi kepada awak media di sela-sela pemberian sembako bagi ratusan warga miskin di Gedung DPD PAN Karanganyar, Sabtu siang (23/7/16).
Menurut Zulkifli, tingginya kesenjangan sosial harus diperangi Pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Pemerintah diminta memberikan keleluasaan kepada masyarakat miskin untuk dapat produktif. Yakni dengan memberikan kebijakan yang memudahkan rakyat untuk berusaha, mengenyam pendidikan dan kebijakan pro rakyat lainnya.
“Kesenjangan ini harus kita antisipasi dengan kebijakan yang menjadikan rakyat jadi produktif. Kebijakan yang berpihak kepada mereka. Termasuk pendidikan,” terangnya.
Ditambahkan, di Era saat ini semuanya terbuka, dan memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin berkiprah di Indonesia. Diskriminasi berdasarkan latar belakang, sosial, agama, pangkat, golongan menurutnya sudah tidak ada lagi.
“Anak petani bisa menjadi pejabat, anak pemulung bisa menjadi anggota DPR, warga kecil bisa jadi Bupati. Oleh karena itu, walaupun susah anak wajib sekolah,” tekan politisi PAN tersebut.
Dikhawatirkan, warga miskin dan tidak mempunyai pekerjaan menikah dengan sesama warga miskin, dan mempunyai anak miskin. Anak warga miskin itu juga menikah dengan anak warga miskin lainnya, sehingga menimbulkan mata rantai kemiskinan yang semakin panjang.
“Bagaimana memutus rantai kemiskinan ini, sekolahkan anak-anak kita. Saya dulu jika tidak disekolahkan mak saya di Lampung, mesti jadi begal. Bagaimanapun kondisinya kita harus mendidik anak-anak kita agar pintar dan dapat memperbaiki taraf hidup kedepannya,” pungkas Zulkifli. (Harun Alrosid)