Upsus Pajale Terhambat Berkembangnya OPT di Lahan Pertanian

JUMAT, 22 JULI 2016

LAMPUNG — Peran Babinsa (Bintara Pembina Desa) dalam upaya pendampingan petani jagung, padi, kedelai di pedesaan di Kabupaten Lampung Selatan saat ini masih terus dilakukan mulai dari proses pendampingan masa tanam hingga pendampingan saat paska panen. 


Upaya tersebut dilakukan oleh Babinsa masing masing Komando Rayon Militer (Koramil) dalam upaya mendukung produksi pangan nasional berupa padi dan jagung meski di beberapa wilayah pertanian saat ini mulai muncul Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) diantaranya wereng pada tanaman padi dan busuk buah, jamur dan penggerek batang pada tanaman jagung.
Dampak dari munculnya OPT di lahan pertanian tersebut diakui oleh Babinsa Koramil 421/03 Penengahan, Koptu Sudarwanto, berimbas pada menurunnya produktifitas tanaman jagung dan padi tanpa tanaman kedelai di wilayahnya. Beberapa lahan petani di Desa Klaten, Desa Banjarmasin, Desa Gandri yang berada di bawah pendampingannya sekitar puluhan hektar sebagian terserang OPT yang berdampak menurunnya produksi jagung dibanding masa tanam normal.
“Pada musim sebelumnya tingkat curah hujan kurang namun hasilnya cukup lumayan namun pada masa tanam bulan ini datangnya hujan dan panas berimbas pada munculnya organisme pengganggu tanaman” terang Koptu Sudarwanto saat berbincang dengan Cendana News, Jumat (22/7/2016)
Sudarwanto sebagai Babinsa sekaligus pemilik lahan jagung yang dikelola sang adik mengaku produktifitas buah jagung tidak maksimal akibat hama patah leher, busuk batang, dan buah mengeluarkan bubuk meski sudah berisi padahal usia tanaman masih berkisar 60-80 hari.
Kualitas buah yang menurun tersebut secara kasat mata bahkan terlihat dengan patahnya batang jagung akibat saat masa pertumbuhan turun hujan lebat kemudian pada saat selanjutnya muncul panas. Beberapa lahan jagung petani semula bisa menghasilkan sebanyak 5 ton perhektar bahkan masa panen kali ini hanya bisa menghasilkan sebanyak 3 ton perhektar.
Salah satu penyuluh pertanian Kecamatan Penengahan, Puji Rahayu, mengungkapkan dengan adanya serangan OPT tersebut berimbas pada hasil pertanian jagung warga bahkan tak hanya jagung serangan hama wereng juga menimpa area persawahan yang ditanami padi. Ia mengaku akan segera melakukan pengecekan ke sejumlah wilayah yang lahan pertanian padi dan jagung terkena serangan OPT.
“Butuh penanganan khusus agar petani tidak rugi terlalu besar dan masih bisa menikmati hasil panen apalagi mayoritas penduduk adalah petani” ungkap Puji.
Terkait menurunnya produksi jagung, Koptu Sudarwanto selaku Babinsa mengakui faktor alam yang berimbas pada penurunan produksi jagung tetap akan dilaporkan ke pimpinan. Ia bahkan telah berupaya melakukan kordinasi dengan para penyuluh untuk ikut mengsukseskan kegiatan (Upsus) peningkatan produksi tiga komoditas diantaranya padi, jagung dan kedelai (Pajale) dalam upaya pencapaian swasembada berkelanjutan.
Ia bahkan mengaku babinsa hanya berperan sebagai penggerak bagi para petani dan sebagai fasilitator diantaranya saat pemberian bibit jagung dan padi serta pengawasan distribusi pupuk dan penyaluran alat dan mesin pertanian. Selain itu dalam kegiatan Upsus juga mengawal gerakan perbaikan jaringan irigasi,sistem tanam serentak, dan pengendalian OPT.
“Upsus juga berperan dalam mempercepat penerapan tekhnologi peningkatan produksi padi dan jagung serta kedelai dan jika musim panen kali ini menurun maka akan dievaluasi” ungkapnya.
Evaluasi tersebut diantaranya dengan melakukan kerjasama dengan petani, penlukuh, serta Babinsa dalam mencari solusi terbaik peningkatan produksi tanaman pangan yang terus digenjot oleh pemerintah dalam upaya swasembada pangan.
Pola tanam tidak serentak, pemilihan masa tanam yang kurang tepat dan penggunaan obat obatan pembasmi OPT dan pengelolaan lahan pertanian menurut Sudarwanto akan menjadi evaluasi bagi pihak pihak terkait dalam Upsus Pajale agar pada masa tanam selanjutnya memperoleh hasil maksimal. Sudarwanto juga mengakui kekhawatiran warga dengan adanya lahan pertanian yang tergusur jalan tol Sumatera tetap memiliki dampak psikologis dan ekonomis yang tetap harus diatasi lebih dari sekedar target pencapaian hasil pertanian yang maksimal.
Sekitar 60 persen lebih lahan terdampak jalan tol Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi besar seksi I menurut tim pelaksana Proyek Tol diantaranya PT Pembangunan Perumahan melalui Humasnya,Yus Yusuf, diakui sebagian besar merupakan lahan pertanian produktif berupa lahan pertanian jagung dan padi. Meski demikian PT PP telah bekerjasama dengan Kementerian PUPR dan BPN memberikan ganti rugi lahan pertanian serta tanam tumbuh terdampak lahan tol tersebut.(Henk Widi)
Lihat juga...