Titiek Soeharto : Idhul Fitri Sarana Mempersempit Perbedaan yang Tidak Prinsipil

RABU, 6 JULI 2016
CATATAN KHUSUS—Pada malam takbir, Selasa (5/7/2016), menjelang Hari Raya Idhul Fitri 1437, melalui semua akun media sosialnya, Titiek Soeharto memberikan salam hangat kepada seluruh warga Indonesia yang beragama Islam baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. 

Atas nama pribadi dan Keluarga Besar Cendana, Titiek Soeharto menyampaikan selamat merayakan Idhul Fitri 1437 H. Ia menjelaskan, bahwa selain merupakan hari besar keagamaan, Idhul Fitri dengan segala  tradisi yang melekat pada masyarakat Indonesia, dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi perinteraksian sosial, agar terhindar dari pola-pola perinteraksian sosial yang saling merugikan. 

“Idhul Fitri mengajarkan untuk sigap mengevaluasi dan mengakui kesalahan, untuk kemudian melakukan perbaikan-perbaikan jika memang melakukan kesalahan,” jelasnya.
Titiek Soeharto juga menyampaikan, sebagai bangsa besar dengan segala kemajemukannya, persatuan dan kesatuan nasional merupakan modal yang harus dihadirkan dan harus selalu perbaharui dalam pembangunan peradaban bangsa Indonesia. 

“Momentum Idhul Fitri ini hendaknya dapat kita jadikan sebagai sarana mempersempit perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil. Hendaknya realitas kemajemukan yang kita miliki justru menjadi sarana perekat solidaritas kebangsaan demi kemajuan bersama,” demikian jelasnya.

Kemajuan bangsa Indonesia memerlukan fokus segenap elemen bangsa untuk bekerja keras, bahu membahu mewujudkan cita-cita nasional bangsa berdasarkan Pancasila sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

Idhul Fitri mengajak dan mangajarkan kepada bangsa Indonesia untuk memperbaharui perinteraksian sosial yang tidak produktif, dengan jalan saling memaafkan semua kekhilafan dan kemudian bekerja keras memperbaiki kesalahan-kesalahan. 
“Kearifan kita untuk membenamkan ego perpecahan merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan bangsa kita,” lanjutnya.
Ia menambahkan, Idhul Fitri juga mengajarkan ketahanan keluarga, unit terkecil dalam masyarakat kita. Budaya mudik memberi pelajaran untuk menghormati orang-orang tua, sesepuh-sesepuh, dan keluarga-keluarga. 
“Ketika ketahanan keluarga kuat, masyarakat kita akan kuat dan seterusnya ikatan kebangsaan kita juga akan kuat,” tegasnya.
Khusus kepada para pemudik, Titiek Soeharto menyampaikan selamat bertemu keluarga. Tak ketinggalan, ia pun menitipkan salam atas nama pribadi dan keluarga besar untuk semua keluarga Indonesia di manapun berada. 
“Semoga para pemudik dalam lindungan Yang Maha Kuasa dan selamat dalam perjalanan hingga kembali ke rumah masing-masing,” pungkasnya.
Selamat Idhul Fitri, mohon maaf lahir batin. Semoga ampunan, bimbingan dan perlindungan-Nya tercurah pada segenap bangsa Indonesia. Semoga seluruh rakyat Indonesia, segenap bangsa, diberi ketahanan, kesehatan, keselamatan, lahir batin,  oleh Allah SWT. (Gani Khair)
Lihat juga...