Tingkatkan Kualitas Pekerja Furniture Modernisasi Alat dan Keahlian

SABTU, 23 JULI 2016

LAMPUNG — Kebutuhan akan properti dan bangunan perumahan termasuk di dalamnya furniture dan mebel  semakin meningkat dengan keinginan akan kualitas yang baik seiring kemajuan tekhnologi dan kebutuhan masyarakat akan hunian yang layak. Selain hunian layak perkembangan sektor perumahan yang juga bernuansa estetika dan fungsional oleh masyarakat membuat pekerja di sektor pertukangan atau pengrajin kayu terus melakukan inovasi baik kemampuan, alat, cara promosi serta mencari model-model baru yang digemari masyarakat. 

Salah satu pemilik usaha pembuatan furniture dan mebel, pintu, meja, kursi, almari serta kebutuhan untuk perumahan dari kayu di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Samsul (35) merupakan salah satu wirausahawan muda yang menyadari akan perkembangan tersebut terutama dengan adanya persaingan antar para pemilik usaha furniture, jasa tukang kayu yang memiliki keahlian yang cukup mumpuni untuk bisa bersaing dengan pemilik usaha sejenis lain.
Samsul mengakui persaingan di dalam usaha pembuatan furniture dan keperluan perumahan bahkan di lingkup kecamatan dalam bisnis usaha kerajinan kayu dalam pembuatan furniture semakin memacunya untuk meningkatkan keahlian dan penggunaan alat modern untuk kualitas hasil karya yang bagus. Ia bahkan mengakui sebagai seorang lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan pertukangan dan bangunan ia telah memiliki modal keahlian cukup meski tetap harus berimprovisasi dengan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen.
“Masyarakat terutama keluarga muda saat ini cenderung memiliki referensi furniture dari internet terutama tipe rumah minimalis dan sebagai tukang saya dan karyawan harus bisa memenuhi keinginan mereka terutama ini soal pelayanan dan mutu hasil produk” ungkap Samsul yang juga langsung menangani pembuatan daun pintu rumah minimalis di bengkel kayu miliknya saat dijumpai Cendana News, Sabtu (23/7/2016)
Samsul mengaku keinginan pelanggan juga merupakan gambaran akan kualitas bahan bangunan yang saat ini diinginkan masyarakat khususnya dalam penggunaan kayu. Sebagai langkah mengantisipasinya ia banyak belajar dari internet dan mulai mempelajari banyak model pembuatan kusen, mebel, pintu, serta alat-alat rumah tangga yang digemari masyarakat. Konsep minimalis dalam pembuatan rumah bahkan berpengaruh besar terhadap jenis dan ukuran kusen yang diinginkan konsumen. Semua permintaan tersebut sebagian besar bisa dipenuhi olehnya dan beberapa pekerja yang bekerja di bengkel kayu miliknya.
Permintaan soal desain dan jenis kayu yang dipilih diakui oleh Samsul selama hampir lima tahun lebih dirinya berprofesi sebagai tukang kayu berhasil dipenuhinya diantaranya jenis pintu dan jendela minimalis dan pemilihan penggunaan kayu berkelas yang tumbuh di Sumatera. Beberapa kayu berkelas yang dipergunakan diantaranya kayu meranti, cempaka, medang, merbau serta kayu jenis lain lengkap dengan permintaan model terkini.
“Ayah saya masih bekerja sebagai tukang kayu dan saya sebagai anak mewarisi keahlian ini, perbedaan model sangat terasa saat ini dan juga penggunaan alat yang dulu bahkan tanpa listrik kini semua alat menggunakan listrik untuk mengolah kayu menjadi kebutuhan sebuah rumah,” ungkapnya.
Sebagai langkah memodernisasi alat pertukangan ia bahkan menggunakan alat potong, alat pelubang, alat penghalus serta berbagai alat lain untuk menghasilkan kualitas bahan rumah diantaranya pintu, jendela, kursi dan kebutuhan lain. Meski harus mengeluarkan modal puluhan juta namun dengan kecepatan, ketelitian dan hasil yang berkualitas membuat dirinya tak merasa rugi bahkan justru alat modern membantunya mempercepat proses pengerjaan.
Ia juga mengaku berusaha memasarkan hasil karyanya melalui jejaring sosial Facebook yang terbukti ampuh menarik minat pembeli sehingga selain mengunggah karyanya di Facebook ia juga memasang banner contoh model pintu minimalis sebagai pilihan konsumen. Sebagian karyanya selain pesanan dari wilayah lokal sebagian juga dijual ke wilayah Pulau Jawa dengan jenis kayu berkelas yang laku di pasaran untuk perumahan elit.
Penggunaan tekhnologi, memasarkan menggunakan jejaring sosial di internet dan dalam waktu dekat ia akan membuat web pemasaran produknya membuatnya yakin usaha pembuatan mebel dan kebutuhan rumah tangga berbahan kayu masih tetap bisa bersaing. Pembuatan pintu dan berbagai jenis mebel dengan harga mulai Rp100ribu-Rp5juta bahkan lebih, bahkan tetap diminati oleh konsumen. Samsul yakin dengan usaha yang dibarengi dengan kemauan untuk belajar dan mengembangkan model terbaru akan membuatnya mampu bersaing setidaknya di wilayahnya dengan pengrajin lainnya.
“Konsumen tentunya memiliki minat dan keinginan yang berbeda beda makanya saya harus selalu berinovasi dengan permintaan konsumen yang beragam terhadap furniture dan mebel serta bahan bangunan dari kayu”ungkapnya.
Sementara itu Kepala Desa Pasuruan, Kartini, mencatat sektor usaha ekonomi kreatif di desa yang dipimpinnya terbilang cukup banyak diantaranya pertukangan pembuatan furniture, mebel serta usaha kerajinan makanan olahan berbahan hasil perkebunan. Khusus untuk usaha mebel dari sekitar 8 dusun tercatat sebanyak 50 pemilik usaha furniture.
“Sebagian masih usaha kecil dan memenuhi kebutuhan lokal tapi puluhan lainnya ada yang sudah kirim ke luar daerah berupa bahan-bahan balken dan ada yang sudah dalam bentuk jadi,” ungkap Kartini.
Selain mendukung warganya dalam pengembangan ekonomi kreatif tersebut ia mengakui Desa Pasuruan juga akan membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Simpan Pinjam yang akan memberikan kesempatan kepada wirausahawan untuk mengembangkan usahanya dengan sistem peminjaman dan pengembalian yang mudah. Selain itu pengembangan usaha pembuatan paving blok dan batako akan segera dikerjakan untuk meningkatkan perekonomian di desa tersebut. Banyaknya warga yang memiliki usaha furniture diakui Kartini menjadi potensi yang terus akan dijaga untuk kemajuan desa.(Henk Widi)
Lihat juga...