RABU, 13 JULI 2016
LARANTUKA — Margaretha Hading Hurit istri Theodorus Kopong Koten salah satu WNI korban penyanderaan kelompok teroris di Filipina mengakui, sebelum disandera Sabtu (9/7/2016) suaminya sempat menelpon dan berbicara dengannya Rabu (7/7/2016).
![]() |
| Istri korban penyanderaan Theodorus Kopong Koten Margaretha Hading Hurit bersama kedua anaknya. |
Theodorus menyampaikan bahwa mereka sedang libur lebaran dan hari Jumat (8/7/2016) atau Sabtu (9/7/2016) baru mulai melaut mencari ikan. Theodorus bekerja pada kapal ikan milik juragan Malaysia.
“Makanya saat Danramil sampaikan suami saya disandera saya heran tidak yakin dan tidak percaya karena baru tiga hari lalu berbicara dengannya,”ungkap Margaretha, Selasa (12/7/2016).
![]() |
| Warga yang berkerumun di rumah Tehdorous Kopong Koten korban mendengarkan informasi dari Dandim 1624 Flotim. |
Ditambahkannya, sehari sebelum suaminya ditangkap dirinya merasa malas beraktifitas dan perasaan bercampur aduk. Selama seharian dirinya merasa gelisah dan tidak tenang.
Margaretha yang pernah bekerja di Malaysia tahun 2010 sampai 2013 menjelaskan, suaminya sebelumnya pernah merantau ke Malaysia tahun 2010 dan kembali tahun 2015. Tanggal 4 Januari 2016 suaminya kembali berangkat ke Malaysia guna mencari nafkah untuk menyekolahkan kedua anak mereka.
Theodorus merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Ayahnya bernama Bernadus Besi Koten dan ibu (Alm) Katharina Koti. Menurut sang istri Theodorus memiliki sifat pendiam dan penurut dan sangat menyayangi kedua anaknya.
“Saya dan anak-anak meminta kepada pemerintah supaya suami saya cepat dipulangkan dengan selamat. Kami orang susah dan hidup terpencil,”pungkasnya.
Data yang diterima Cendana News dari kepala desa Laton Liwo dan Danramil 01 Larantuka menyebutkan, korban Emanuel Arakian Maran lahir 19 Desember 1970 agama Katholik dan bekerja sebagai petani.
Emanuel beralamat di desa Laton Liwo RT 006 RW 003 Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur yang mempunyai istri bernama Yasinta Pusaka Koten dan seorang anak bernama Bernadus Beda P. Maran yang berumur 13 tahun dan duduk di kelas 1 SMP.
Korban kedua bernama Laurensius Lagadoni Koten, lahir 21 Juli 1982 beragama Katholik dan beralamat di desa Laton Liwo RT 006 RW 003, kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur.Laurens sapaannya memiliki isteri yang berasal dari Toraja bernama Resiana Piter dan memiliki 3 orang anak.
Selanjutnya korban ketiga bernama Theodorus Kopong Koten kelahiran 25 Nopember 1970,beragama Katholik dan beralamat di desa Laton Liwo RT 001 RW 001 kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur. Theodorus mempunyai istri bernama Margareta Hading Hurit dan dua orang anak yakni Lukas Liku Koten (13) dan Katrina Mutang Koten (10).
Ketiga korban penyanderaan ini masih mempunyai hubungan keluarga atau masih bersaudara dan berasal dari satu desa yaitu desa Laton Liwo. Mereka berangkat bersama sama ke Malaysia pada tanggal 04 Januari 2016 menumpang kapal Pelni dari pelabuhan laut Larantuka.(Ebed de Rosary)
