RABU, 13 JULI 2016
LARANTUKA — Ayah Laurensius Lagadoni Koten yakni Mikael Pati Koten mengaku terkejut saat aparat Kodim 1624 Flotim mendatangi rumahnya di dusun Baowolo desa Laton Liwo kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur, Senin (11/7/2016).
![]() |
| Mikael Pati Koten, ayah dari Laurensius Lagadoni Koten salah seorang WNI yang disandera bersama camat Tanjung Bunga. |
Mige sapaannya mengira dirinya akan ditangkap tentara dan sempat berpikir kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga dirinya dicari aparat keamanan. Saat ditanyakan apakah dirinya ayah dari Laurens Koten, Mige pun mengakuinya.
“Saya sempat takut dan mengira akan ditangkap tentara. Saat diberitahukan anak saya disandera teroris saya langsung menangis,” ujarnya.
![]() |
| Ayah Laurens Koten bersama isteri dan anak dari Emanuel Arakian Maran. |
Mige yang ditemui wartawan di rumahnya Selasa (12/7/2016) mengakui, Laurens merupakan anak sulung dari istri pertamanya yang berasal dari desa Nobo kecamatan Ile Bura.
Laurens sebutnya, sudah belasan tahun merantau ke Malaysia. Sesampainya di Malaysia Laurens tidak memberi kabar dan kebetulan keluarga di Nobo berada bersama dengannya di Malaysia sehingga Mige pun memperoleh nomor telepon anaknya.
“Saya telepon dan dia kabari bahwa akan pulang ke kampung. Sekitar bulan Agusutus 2015 dia pulang bersama istri dan ketiga anaknya,” jelasnya.
Setibanya di desa Laton Liwo,anak pertama dan kedua Laurens disekolahkan di SDK Kotenwalang sementara anak bungsu bersama istrinya pulang ke Malaysia
“Tanggal 9 Juny 2016 anak saya pulang dan membawa istri dan ketiga anaknya ke Toraja untuk melihat orang tua istrinya,” tuturnya.
Rencananya tanggal 14 July 2016 beber Mige, istri Laurens dan kedua anaknya akan ke desa Laton Liwo supaya anaknya bisa bersekolah disini.
“Kalau bisa Presiden Jokowi selamatkan anak saya, biar dia pulang tidak bawa uang juga tidak apa-apa,” ungkapnya menahan haru.
Dandim 1624 Flotim Letkol Inf. Dadi Rusyadi, SE mengatakan, dirinya memerintahkan Danramil 01 Larantuka mencari ke kecamatan Tanjung Bunga karena disini tidak ada sinyal handphone dan televisi.
“Tadi kami menempuh perjalanan 3 jam lebih dan saya bersama pak camat datang untuk memastikan bahwa benar ketiga sandera dan keluarganya berasal dari desa ini dan ternyata betul,” sebutnya.
Nanti ke depannya kata Dandim Rusyadi, informasi terkait ketiga sandera akan diinfomasikan melalui Babinsa karena di desa Laton Liwo tidak ada informasi.
“Saya datang memberikan kekuatan moril, dan keluarga saya minta terus berdoa agar korban bisa kembali ke desa Laton Liwo dengan selamat karena pemerintah sedang mengupayakan pembebasan sandera,” pungkasnya.(Ebed de Rosary)
