SABTU, 30 JULI 2016
BANDUNG — Tas pada umumnya digunakan untuk mengatongi barang-barang keperluan. Anehnya, walaupun fungsinya sama namun harganya berbeda-beda, ada yang hanya puluhan ribu bahkan puluhan juta. Hal tersebut mungkin saja karena pengaruh dari proses pembuatan dan bahan yang digunakan. Atau bisa juga karena diprodukai oleh merek terkenal.

Di Jawa Barat, tas tradisional yang secara tampilan boleh diadu dengan tas modern manapun, diantaranya tas kaneron, kepek, kamuti dan koja. Selain itu, Keempat tas tradisional asal Jabar ini ramah lingkungan, lantaran terbuat dari bahan-bahan dari alam.
Misalnya saja kamuti yang terbuat dari pelepah daun gebang, kaneron dari rotan, koja dari kayu teureup, dan kepek dari kulit sarai sejenis aren.
Kreatifitas bangsa ini memang sudah teruji sejak dulu kala. Buktinya, walaupun hanya menggunakan bahan-bahan tersebut namun bisa disulap menjadi barang yang memiliki nilai dan fungsi.
Rupanya tas tradisional ini pun cukup digemari oleh generasi muda saat ini. Hal tersebut disampaikan Indra Hermawan (36), Pemilik Distro Galura 99, di Jalan Laswi Kota Bandung, Sabtu (30/7/2016)
“Yang beli tas-tas tradisional ini anak muda juga banyak, bahkan sekarang ini stok di sini hampir habis,” ujar Indra.
Ia biasa memesan kepada pengrajin di Baduy, Jawa Barat dan kawasan Pantai Selatan seperti Ciamis, Jawa Barat untuk dijual kembali. Karena pengerjaannya tak mengandalkan mesin, menurutnya, para pengrajin pun kesulitan jika mendapat pesanan yang banyak.
“Misalnya saya pesan dua kodi tapi yang datang cuma lima tas, karena ini kan hand made, pengrajinnya juga tergantung keinginan saat membuatnya. Ini kan dianyam,” bebernya.
Indra baru saja menjual tas jenis koja kepada pembeli di Singapura. Ia sampaikan, Warga Negara Asing (WNA) asal Singapura tersebut membeli lantaran tas koja ini ramah lingkungan.
Untuk satu tas tradisional khas Jawa Barat ini ia banderol dari mulai Rp. 150 – 250 ribu.
“Dia beli sampai 200, katanya buat dijual lagi,” tukasnya.
[Rianto Nudiansyah]