SABTU, 30 JULI 2016
SUMENEP — Pederitaan petani garam di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dari tahun ke tahun rupanya semakin memprihatikan. Pada musim kali ini, keberadaan cuaca yang sangat tidak memungkinkan membuat mereka kebingungan. Ditambah dengan kebijakan gudang milik PT. Garam yang kini tidak lagi membeli garam rakyat, sehingga mereka terpaksa menjual dengan cara diecer.
“Kalau sekarang nasib petani garam sangat memprihatinkan, apalagi saat ini kondisi cuaca tidak memungkinkan, sehingga petani belum bisa menggarap lahan garam akibat masih sering turun hujan. Bahkan garam hasil panen sebelumnya masih banyak belum terjual, harganya sangat anjlok, jika dipaksakan petani akan merugi,” kata Syamsuri (32), salah seorang petani garam Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sabtu (30/7/2016).
Disebutkan, bahwa saat ini banyak petani mulai resah, selain kondisi cuaca yang sangat tidak memungkinkan hingga menghambat proses produksi garam, ditambah gudang yang biasa beli garam sudah tidak lagi membelinya dengan alasan garam rakyat hasil petani kualitasnya jelek. Bagi mereka agar bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, solusi terakhir menjual hasil garam dengan cara diecer kepada warga yang membutuhkan.
“Jadi berhubung harga garam saat ini hanya senilai Rp. 400.000 per tons, para petani enggan menjualnya, sehingga garam di desa ini banyak yang tidak terserap. Tetapi kalau mereka sudah memiliki kebutuhan mendesak untuk bisa mendapatkan uang terpaksa menjual dengan cara diecer,” jelasnya.
Mereka hanya bisa berharap kondisi harga garam serta kondisi cuaca segera normal seperti pada musim sebelumnya, supaya para petani yang bermata pencaharian terhadap produksi garam tersebut dapat memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya.
[M. Fahrul]