Syahbandar Himbau Nahkoda Kapal Roro Perhatikan Kondisi Cuaca

SELASA, 26 JULI 2016

LAMPUNG — Aktifitas pelayaran di lintasan Selat Sunda dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak dan sebaliknya sedikit mengalami gangguan selama beberapa hari terakhir dengan kondisi perairan di Selat Sunda yang cukup ekstrim. Perubahan cuaca pada siang hari dan saat malam hari bahkan mengakibatkan gelombang tinggi setinggi 2 meter yang menggangu pelayaran kapal kapal roll on roll off (Roro) terutama kapal kapal berukuran kecil di bawah 5.000 gross ton. Meski demikian pelayanan pelayaran kapal roro di Selat Sunda masih berjalan normal seperti biasanya.

Meski kondisi pelayaran normal, kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni,Agustinus Aruan,menerangkan secara prosedural setiap kapal yang akan berlayar harus mendapat persetujuan dari KSOP dan sejauh ini belum ada penghentian operasi kapal di Selat Sunda. Ia menghimbau kepada seluruh nahkoda kapal roro untuk melakukan koordinasi dengan stasiun kontrol kapal yang ada di pelabuhan Bakauheni dan pihak KSOP.
“Selain memperhatikan kondisi gelombang yang ada di perairan Selat Sunda melalui pengumuman prakiraan cuaca nahkoda juga tetap harus berkoordinasi dengan KSOP karena dalam kondisi cuaca ekstrim keselamatan kapal harus diutamakan” ungkap kepala KSOP Agustinus Aruan saat dikonfirmasi media Cendana News, Selasa (26/7/2016)
Selama beberapa hari terakhir berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) cuaca ekstrim terjadi terutama pada malam hari sementara saat siang hari kondisi cuaca cukup normal. Berdasarkan prakiraan cuaca ekstrim masih akan terjadi di perairan Selat Sunda dengan kecepatan angin mencapai 25 knot perjam dan gelombang mencapai ketinggian 1,5-2 meter dan berpotensi mengganggu saat olah gerak kapal.
“Kondisi alun gelombang di tepian dermaga berpotensi mengganggu olah gerak kapal terutama saat akan sandar dan di alur masuk sehingga nahkoda harus lebih berhati hati” ungkapnya.
Selain berpotensi mengganggu pelayaran di Selat Sunda, sejumlah nelayan di perairan pesisir Kalianda yang berada di Way Muli, Kalianda dan Rajabasa terpaksa meminggirkan perahunya untuk menghindari hembasan ombak ke batu karang. Sejumlah nelayan bahkan sengaja tidak melaut selama beberapa hari terakhir dan memilih melakukan aktifitas lain sembari menunggu kondisi cuaca membaik.
“Sementara kita menarik perahu ke darat dan melakukan perbaikan pada bagian kapal kayu milik kita karena takut bahaya jika nekat melaut” ungkap Nasir salah satu nelayan di Way Muli.
Ia bahkan sementara waktu melakukan aktifitas memperbaiki jala ikan miliknya karena tidak mau mengambil resiko dengan kondisi cuaca yang ekstrim. Meski demikian sejumlah nelayan masih tetap nekat melaut dengan mencari ikan di sejumlah teluk Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi yang terlindung dari terjangan angin dan ombak kencang.(Henk Widi)
Lihat juga...