Sempat Jual Motor Untuk Sekolah, Tamar Gagas Rumah Baca Jalosi Sanak Negeri

SELASA, 26 JULI 2016

SEKITAR KITA — Dusun Tegalsari 2 Pekon Air Lubang Kecamatan Air Naningan berada 40 kilometer dari kota Kecamatan Talangpadang dengan akses jalan utama merupakan jalur masuk ke bendungan Batu Tegi yang merupakan bendungan terbesar di Asia Tenggara dan menjadi sumber pengairan lahan pertanian beberapa kabupaten di Lampung dan sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk kebutuhan pasokan listrik. 

Meski jauh dari pusat kota. Namun, di sebuah lingkungan perkebunan kopi coklat dan lada di tempat sederhana sekaligus tempat tinggal bagi keluarganya, seorang pemuda di desa tersebut menggagas sebuah rumah belajar bagi anak-anak yang tinggal di sekitar rumah.
Belajar menggunakan alas tikar, terpal dan tempat seadanya dilakukan oleh pemuda asal Dusun Tegalsari 2 Pekon Air Lubang Kecamatan Air Naningan Kabupaten Tanggamus Lampung bernama Tamar Widadi (25)  bersama puluhan anak usia sekolah dasar (SD) di desanya. Lokasi belajar bahkan masih menggunakan ruang tamu dengan beberapa buku yang ditempatkan di salah satu ruangan akibat belum dibangunnya tempat yang bisa menampung sebagian anak-anak belajar di rumah baca jalosi sanak negeri.
“Sementara anak-anak belajar di ruang tamu dengan tikar apalagi saat musim hujan sementara saat cuaca baik kadang kadang menggelar terpal agar anak-anak bisa membaca dan belajar” ungkap Tamar saat dikonfirmasi media Cendana News, Selasa (26/7/2016).
Sang ayah yang mendukung langkah Tamar membentuk rumah baca bagi anak-anak usia sekolah di desa tersebut juga diungkapkan dengan akan menyediakan lahan khusus bagi anaknya untuk membangun rumah baca. Meski demikian keterbatasan dana untuk proses pembangunan memaksanya untuk memanfaatkan ruang tamu rumah sebagai lokasi anak-anak belajar.
Gagasan membentuk Rumah Baca Jalosi Sanak Negeri,menurut Tamar bermula dari kondisi di tempat tinggalnya yang sebagian besar rumah menggunakan jalosi. Jalosi merupakan lubang angin pada pintu atau jendela rumah yang berguna untuk jalan angin di dalam rumah. Jalosi Sanak Negeri dipilihnya dengan tujuan memberikan ilmu meski dengan keterbatasan kepada anak-anak negeri atau desanya yang berada di sekitar kawasan bendungan Batu Tegi yang menjadi sumber bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Ia mengaku kisah perjalanan hidupnya untuk belajar dan mengenyam pendidikan merupakan sebuah motivasi untuk membuat rumah baca sekaligus rumah belajar. Ia mengaku sempat akan putus sekolah sesaat setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga terpaksa berhenti selama setahun dan tidak melanjutkan sekolah akibat keterbatasan biaya dengan pekerjaan sang ayah yang hanya sebagai petani kopi dan ibu pedagang sayur.
Ia bahkan mengaku setelah lulus SMA bukanlah perkara mudah untuk masuk ke perguruan tinggi idamannya di kota Metro sesuai dengan keinginannya menjadi seorang guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Meski kini sudah lulus dan menunggu saat wisuda ia harus menjual motor kesayangannya untuk membiayai kuliah selama 4 tahun di kabupaten lain.
“Keprihatinan perjalanan pendidikan saya inilah mendorong agar anak-anak di desa saya bisa belajar dan mengenyam pendidikan yang baik meski berada di pelosok yang jauh dari kota” ungkapnya.
Setelah ia menyelesaikan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi di Metro ia mengaku ingin melakukan hal positif di desanya dengan sedikit ilmu dan pengalaman di kota. Bermodalkan sebanyak 20 buah buku yang ia beli di kota akhirnya ia mengajak berkumpul sekitar 10 anak-anak di desanya saat awal bulan puasa Ramadhan untuk membaca buku sembari menunggu saat berbuka puasa.
Langkahnya mendapat bantuan dari kegiatan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Lampung yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mendukung kegiatan belajar sehingga jumlah anak yang berkumpul bisa menjadi berjumlah sekitar 80 anak namun sempat menurun drastis hanya belasan anak setelah mahasiswa KKN kembali.
Kegiatan utama rumah baca Jalosi Anak Negeri menurut Tamar adalah membaca selain membaca anak anak juga mendapat pelajaran menari,berpuisi,drama,pidato. serta membuat benda benda bernilai seni tinggi. Selain menjadi rumah baca,Tamar mengaku selanjutnya akan melakukan pemberdayaan bagi kaum wanita dan remaja putri di desanya dalam bidang kewirausahaan dengan melakukan pengolahan buah mengkudu menjadi kopi mengkudu.
Selain kegiatan tersebut, ia mengaku akan melakukan kegiatan bermanfaat bagi warga di desanya diantaranya pengolahan limbah kako menjadi pupuk organik dan bahan pakan ternak fermentasi yang banyak melimpah di desanya. Ia berharap dengan banyaknya buku-buku sumbangan dari donatur bisa menambah wawasan masyarakat di desanya terutama anak-anak.
Terbaru,Rumah Baca Jalosi Sanak Negeri juga mendapat bantuan ratusan buku-buku dari Yayasan Transformasi Bangsa yang diwakili oleh Hindarso,Billy dan Supriyanto yang menyumbangkan buku buku pelajaran sekolah, buku bacaan tentang pertanian dan alat tulis bagi anak-anak di rumah belajar yang dikelolanya. Buku-buku tersebut menambah koleksi perpustakaan rumah baca Jalosi Sanak Negeri menjadi 200 buku.
“Sebagian besar masyarakat di sini adalah petani kakao dan sebagai referensi kami sumbangkan buku tentang pertanian terutama pemanfaatan kakao untuk meningkatkan ekonomi petani” ungkap Hindarso.
Selain buku-buku bacaan pelengkap perpustakaan rumah baca Jalosi Sanak Negeri, Yayasan Transformasi Bangsa juga memberikan bantuan alat pemotong kayu dan tempurung untuk pembuatan kerajinan tangan. Kedepan hasil kerajinan tangan akan dijual di lokasi wisata bendungan Batu Tegi yang juga menjadi lokasi wisata.
Ia berharap selain memberi pencerahan bagi siswa usia sekolah buku-buku pertanian bisa meningkatkan keahlian petani di wilayah tersebut dan bisa meminjam buku tersebut di Rumah Baca Jalosi Sanak Negeri.(Henk Widi)
Lihat juga...