SABTU, 9 JULI 2016
ENDE — Membludaknya wisatawan atau pengunjung yang berlibur dan menikmati keindahan danau 3 warna Keimutu di Kabupaten Ende Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur yang melegenda, memberikan berkah tersendiri bagi pedagang yang menjajakan barang di sekitar objek.
Penjual tenun ikat serta makanan dan minuman yang ditemui Cendana News, Maria Lero menyebutkan, dari Minggu (3/7/2016) sampai hari ini Kamis (7/7/2016) pengunjung terus membludak dan membeli barang dagangannya, ia bisa mengantongi keuntungan 300 hingga 400 ribu rupiah dalam satu hari.
“Sejak Minggu sampai hari ini, Kamis pengunjung selalu membludak. Mungkin karena libur lebaran dan juga libur sekolah jadi jumlahnya bisa tiga kali lipat,” ujarnya.
Maria menyebutkan, dagangan yang paling cepat laku yakni, minuman hangat yang disediakan, seperti kopi. Sementara untuk hasil kerajinan, seperti tenun ikat motif Lio baru laku 3 lembar saja.
“Banyak yang minta dibuatkan kopi karena mungkin cuacanya dingin. Tapi kalau tenun ikat paling yang beli hanya turis asing,” ungkapnya.
Maria mengaku menjual kopi segelas dengan harga 5 ribu rupiah sementara minuman energi dijual 10 ribu rupiah segelas.
Pedagang asal desa Pome lainnya, Mikael yang juga berjualan di tugu Kelimutu menjelaskan, untuk selendang tenun ikat dijual dengan harga 100 ribu rupiah, sementara sarung berkisara antara 500 sampai 700 ribu rupiah.
“Paling ramai setelah lebaran ini, apalagi saat bulan Agustus ketika digelar ritual adat memberi makan danau, kami menjual di pintu masuk,” bebernya.
Dirinya bersyukur diberi kesempatan untuk berjualan di temat ini bersama ke 4 temannya setiap hari namun mereka juga wajib menjaga kebersihan areal ini.
“Kalau pengunjung ramai,kami bisa dapat untung sampai 500 rbu rupiah sehari tapi kalau sepi paling cuma 50 ribu rupiah saja. Tapi saya bersyukur dan tetap berjualan disini meski terkadang sepi pembeli,”paparnya.
Sementara itu, penjual lainnya hanya terlihat di depan WC umum dekat danau Tiwu Ata Polo dan Tiiwu Nuamuri Ko’ofai yang hanya berjumlah 4 orang saja. Di tempat ini, penjual menggelar dagangan beragam.
Selain baju kaus tulisan bergambar Kelimutu yang dijual seharga 100 sampai 150 ribu rupiah, juga terdapat kain tenun yang digantung di tali yang diiikat di kedua batang kayu. Juga terdapat buah-buahan seperti jeruk Moni, strawbery asli Waturaka, pisang, kacang tanah dan air mineral.
“Saya beli selendang selain karena motifnya unik juga untuk menutupi leher karena cuaca disini sangat dingin,” tutur Monika Pewa seorang pengunjung asal Kupang saat ditemui Cendana News.
[Ebed De Rosary]