Pengiriman Material Instalasi PLTS Terkendala Transportasi

SENIN, 25 JULI 2016

LAMPUNG — Harapan masyarakat Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing  Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung memperoleh pasokan energi listrik agaknya masih perlu menunggu lama. Pasalnya pendistribusian instalasi untuk proses pekerjaan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau solar cell di wilayah tersebut terkendala pendistribusian peralatan yang akan digunakan oleh masyarakat. 


Selain lokasi yang sangat jauh mencapai jarak 30 kilometer dari pusat Pekon Way Heni, akses menuju lokasi melalui medan berat sungai tanpa jembatan dan pesisir laut Samudera Hindia.
Salah seorang penanggung jawab peralatan yang akan dipasang sebagai proyek pembangunan PLTS, Andi, mengakui saat ini peralatan sementara diletakkan di salah satu halaman rumah warga Pekon Way Heni. Peralatan tersebut diantaranya rangka baja, pagar besi, plang nama proyek, kabel-kabel dalam gulungan yang masih dibiarkan tergeletak di lokasi awal.
“Awalnya kabel-kabel ini akan diangkut melalui jalur darat namun setelah melihat berat masing masing gulungan kabel mencapai enam ton sehingga sulit diangkat tapi masih akan dicarikan solusi pengangkutan lain,” ungkap Andi saat dikonfirmasi media Cendana News di Kecamatan Bengkunat Belimbing, Senin (25/7/2016).
Beberapa alat sudah dicoba dikerahkan diantaranya mobil dan gerobak namun akibat beban terlalu berat beberapa intalasi untuk pembangunan PLTS belum bisa didistribusikan. Sebagian warga bahkan menyayangkan pengiriman instalasi tersebut tanpa memperhatikan kearifan lokal masyarakat sekitar dalam cara pendistribusian yang masih menggunakan cara tradisional berupa gerobak yang ditarik sapi. Sementara beberapa peralatan hanya bisa didistribusikan melalui jalur lain yang akan bisa dikirim ke lokasi pembangunan PLTS.
Masyarakat Pekon Way Haru yang berada di Kecamatan Bengkunat Belimbing merupakan salah satu lokasi di kabupaten terbaru di Lampung yang belum menikmati fasilitas listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebagian besar masyarakat bahkan masih menggunakan energi terbarukan dari tenaga surya meski proses pemasangan membutuhkan biaya sekitar Rp3-4juta hingga rumah warga bisa dialiri listrik.
Menurut Andi dengan pekerjaan pembangunan PLTS terpusat 30 kWp tersebut merupakan bantuan dari Kementerian ESDM yang akan berguna untuk memberikan energi listrik lebih besar dibandingkan sebelumnya hanya dengan menggunakan solar cell sederhana.
“Jika dikalkulasikan maka peralatan yang akan dibangun bisa mengaliri listrik warga sehingga tidak kesulitan untuk menikmati aliran listrik” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan media Cendana News beberapa instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dari Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Direktorat Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia bahkan dibiarkan teronggok di tepi jalan tanpa mendapat naungan atau ditempatkan di sebuah lokasi khusus.
Selain memperoleh bantuan berupa instalasi PLTS masyarakat Way Heni yang sudah berpuluh-puluh tahun belum memperoleh aliran listrik mulai akan menerima aliran listrik. Bahkan hingga akhir bulan Juni ratusan tiang untuk penyaluran listrik dari jalur utama sepanjang beberapa kilometer sudah terpasang meski sebagian warga belum bisa memastikan kapan kabel listrik akan terpasang.
“Berdasarkan rencana sekitar bulan Oktober baru akan bisa dipasang kabel dan instalasi listrik PLN ke rumah kami” ungkap Andri salah satu warga Way Heni.
Selain sudah diperhatikan pemerintah dalam penyediaan aliran listrik, Andri mengaku setiap RT memperoleh bantuan sumur bor untuk beberapa rumah tangga yang ada di desa tersebut. Sumur bor sedalam 100 meter tersebut akan dimanfaatkan sebagian warga untuk memperoleh air bersih yang sulit diperoleh di wilayah tersebut.(Henk Widi)
Lihat juga...