Partisipasi Masyarakat Penting Dalam Pengembangan Pariwisata

SABTU, 9 JULI 2016

ENDE — Flores sebagai salah satu destinasi pariwisata yang akan dikembangkan Kementrian Pariwisata hendaknya memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar. Salah satu caranya yakni dengan melibatkan dan mendorong peran sertanya.
Untuk menggolkan hal ini, Swisscontact melalui program CBT (Community Based Tourism) menggarap potensi pariwisata yang ada di desa Waturaka kecamatan Kelimutu dengan mengedepankan peran serta warga desa.
“Pada prinsipnya CBT atau pariwisata berbasis masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan pariwisata dengan mengedepankan partisipasi dan peran aktif dari masyarakat,” ujar Local Facilitator untuk CBT dari Swisscontact Wisata, Ferdinandus Watu di Ende, Jumat (8/7/2016).
Dijelaskan, pariwisata berbasis masyarakat memberikan kesempatan dan peluang yang lebih besar untuk memaksimalkan berbagai poetansi yang ada di desa. CBT mengutamakan peran langsung dari masyarakat, keikutsertaaan masyarakat, mulai dari perencanaan, pelaksanan hingga evaluasi.
“Dalam konsep CBT dikedepankan  konsep pariwisata yang ramah lingkungan, mencipakan ruang bagi warga untuk memilihara, menjaga dan melastarikan apa yang menjadi potensi mereka,” terangnya.
Mantan wartawan Flores Bangkit ini menambahkan, melalui Pokdarwis (kelompok sadar wisata) desa wisata Waturaka pihaknya memberikan berbagai pendampingan dan pentrasferan skill dan pengetahuan  kepada masyarakat  berdasarkan kekuatan dan potensi yang ada di desa.
“Suatu yang menarik dari pariwisata berbasis masyarakat adalah  kita menyuguhkan sebuah pengalaman interaksi secara langusng antara pengunjung atau visitors dengan host atau tuan rumah,” terangnya.
Konsep yang dikembangkan papar pencinta lingkungan ini, yakni mengutamakan pengalaman, memberikan kesempatan seluasnya kepada wisatawan untuk mengalami hidup yang natural, original dengan masyarakat lokal.
 “Jika ditempat lain wisatawan makan di rumah makan, di Waturaka mereka bisa menikmati makanan bersama tuan rumah dengan cita rasa lokal dan bermalam di salah satu kamar yang disiapkan warga setempat atau homestay,” paparnya.
Aloysius Jira Loi, Kades Waturaka saat ditanyai Cendana News menyebutkan, sejak ada pendampingan dari Swisscontact, wisatawan mulai melirik. Desa Waturaka sudah bisa merangkak dan berusaha untuk berdiri.
“Pemerintah desa hanya menyediakan uang tapi menjalankan kegiatan perlu diberdayakan masyarakat. Kami sudah mengembangkan beberapa obyek wisata dan sedang menggali beberapa obeyk lainnya untuk dikembangkan,”sebut Loi.
Berbicara pariwisata sambungnya tentu tidak bisa dipisahkan dengan pertanian, keduanya harus jalan bersama. Untuk itu, potensi pertanian yang ada di Waturaka dikembangkan untuk menunjang pariwisata.
Aloysius Jira Loi
Pihak desa kata Loi berusaha sejauh kemampuan yang dimiliki dan dirinya selalu menyampaikan bahwa jika pemda Ende mempunyai kemauan baik seperti Swisscontact maka desa Waturaka tidak seperti ini, pasti pariwisatanya berkembang .
“Saat pertemuan dengan dinas Pariwisata, Kadis Pariwisata menegaskan setiap dinas membuat rencana kerja untuk membenahi kawasan penyangga Kelimutu,” terangnya.
Pemahaman warga di bidang pariwisata ungkap Loi, masih sangat minim sehingga pelu didampingi. Pihak desa tambahnya meminta agar bupati Ende bisa menginstruksikan dinas terkait agar membuat program agar desa-desa penyangga di sekitar Kelimutu bisa berkembang.
“Kami juga akan mengembangakn wisata ke uap panas dan ke Waturaka jika pemilik lahanya tahun ini bersedia merelakan lahanya dipergunakan. Paling tidak kebersamaan yang selama ini sudah dibangun terus kami jaga dan tingkatkan,” pungkasnya.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...