Sanggar Mutulo’o Kembali Giatkan Permaian Sato yang Memikat

SABTU, 9 JULI 2016

ENDE — Membanjirnya wisatawan ke danau Kelimutu merupakan peluang bagi desa sekitarnya termasuk desa Waturaka kecamatan Kelimutu kabupaten Ende. Warga desa mulai menggali potensi pariwisata termasuk adat budaya untuk dikembangkan.
Lewat Pokdarwis (kelompok sadar wisata) desa Waturaka menghidupkan sanggar seni budaya yang lama tidak aktif. Lewat suguhan tarian dan permainan musik tradisionalnya sanggar Mutulo’o ingin memperkenalkan budaya Waturaka.
“Sanggar kami menampilkan kolaborasi alat musik,tari dan lagu daerah yang unik.Alat musik Sato yang dimainkan hanya ada di tempat kami,’ ujar Robertus Lele, ketua sanggar di Ende, Jumat (8/7/2016).
Robert sapaannya yang ditemui Cendana News mengatakan, lewat kekhasan alat musik Sato yang dimainkan banyak wisatawan dan penonton tertarik dan kagum. Alat musik Sato dimainkan dengan perasaan tanpa kunci seperti gitar.
Keunggulan sanggar Mutulo’o jelas Robert selain alat musik Sato yang dimainkan, alat musik lainnya merupakan alat musik tradisional seperti Juk, Gendang, Suling dan Gambus.
Sanggar Mutulo’o beranggotakan 20 orang  tapi saat ini hanya 16 orang yang aktif. Mutulo.o terang Robert merupakan nama uap panas dekat dengan batu besar yang dinamakan Waturaka, batu berbentuk seperti mobil.
Sato dimainkan oleh 6 orang. Alat musik khas ini jelas Robert terbuat dari buah Maja yang berbentuk bulat, bambu dan ijuk, tali untuk meggosok senar. Tali senar mempergunakan tali senar pancing ikan atau senar gitar nomor 4.  
“Supaya bisa mengeluarkan bunyi, tali senar digosok dengan buah kenari. Main Sato pake perasaan tidak ada kuncinya sehingga sulit untuk dimainkan,” ujarnya.
Sebenarnya pemain Sato di sanggar ini banyak, tapi anak muda masih belajar dan ada yang  sudah mulai bisa main setelah dibimbing oleh pak Marsel selaku pelatih dan pencipta lagu. Kedepannya harap kordinator agro wisata di desa Waturaka ini, anak-anak muda yang akan meneruskan sanggar musik ini.
“Sudah ada 2 sanggar dimana satunya anak muda. Kami disini sudah dibagi tugas sehingga pak Marsel yang mengajar anak muda bermain musik sekalian menciptakan lagu,” ungkapnya.
Pementasan yang dilakukan sanggar Mutulo’o selain di desa karena ada permintaan dari wisatawan juga di penginapan atau hotel yanga ada di Moni serta diundang pemerintah kabupaten Ende untuk disuguhkan bagi tamu dari luar daerah dan masyarakat.
“Kalau tamu ingin menonton maka kami akan pentaskan. Kami main 2 jam dibayar 600 ribu rupiah,” jelasnya.
Jika pentas di penginapan atau hotel di Moni dan sekitarnya tarif yang dikenakan sebesar 1 juta rupiah untuk 2 jam pementasan. Tanggal 1 Juni 2016 saat hari Kesaktian Pancasila sanggar Mutulo’o diundang bermain di Ende dan dibayar 2 juta rupiah.
“Bulan Mei kemarin kami main di Woloara di depan tamu para alumni UI. Mereka tertarik dan meminta kami bermain di Jakarta tapi masih menunggu jadwal pastinya dari mereka,” ungkapnya bangga.
Saat pementasan sanggar Mutulo’o papar Robert, membawakan lagu-lagu daerah dan juga lagu-lagu dengan pesan lingkungan seperti menjaga kebersihan dan sampah.
Sanggar ini membuat membuat lagu tentang sampah supaya pemerintah bisa buka mata dan menggerakan aparatnya untuk membersihkan sampah karena turis asing sangat alergi dengan sampah plastik.
“Kami juga selalu memaminkan lagu tentang busung lapar dan saat pentas di Ende penonton meminta kami menyanyikan lagu itu berulangkali,” tutur lelaki periang ini.
Sanggar Mutulo’o terbentuk lewat keinginan luhur melestarikan adat budaya khususnya menampilkan kekhasan desa Waturaka lewat lagu ,alat musik, tari dan kain tenun yang dikenakan.
Pemain musik yang terdiri dari kaum lelaki mengenakan sarung, selendang dan ikat kepala dari tenun ikat motif khas Waturaka. Sementara para perempuan selaku penyanyi dan penari juga mengenakan sarung kain tenun, baju merah bersulam dan rambut disanggul.
Bagi Alexander Ware salah satu tokoh masyarakat Waturaka, Pokdarwis mengembangkan dan menghidupkan potensi wisata di desa Waturaka termasuk menampilkan seni budaya asli desa. Dirinya mengapresiasi kerja keras semua pihak dan Pokdarwis memperkenalkan Waturaka.
“Apa yang sudah dilakukan sudah bagus dan perlu ditingkatkan, tapi yang utama harus menjaga kebersamaan sehingga tidak ada kecemburuan sosial antara satu dan yang lain,” pesannya.
Pokdarwis juga sebut Alek, telah melaksanakan studi banding ke sanggar Bliran Sina di Watublapi kabupaten Sikka. Dengan studi banding ini pintanya, Pokdarwis bisa menerapkan jurus-jurus baru dalam melakukan promosi pariwisata.
“Perlu perbaikan manajemen dan masing-masing kelompok harus memperkuat kelompoknya sehingga Pokdarwis lebih berhasil,”pintanya.
Aloysius Jira Loi, kepala desa Waturaka meminta agar kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik antara berbagai pegiat pariwisata di desaWaturaka terus dipertahankan. Pemerintah desa Waturaka sangat mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan Pokdarwis. Waturaka sudah semakin terkenal berkat pariwisata dan pementasan seni budaya yang dikelola sanggar Mutulo’o.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...