Panen Raya di Pesisir Barat Akibatkan Harga Komoditas Lada Hitam Anjlok

SENIN, 25 JULI 2016

LAMPUNG — Petani penanam komoditas rempah bumbu masakan jenis lada di sejumlah wilayah Kecamatan Bengkunat dan kecamatan lain wilayah Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung mengeluhkan anjloknya harga komoditas tersebut saat musim panen pada bulan Juli tahun ini. Menurut sejumlah petani di wilayah Pekon Way Heni Kecamatan Bengkunat, harga komoditas pertanian jenis lada hitam Lampung (Lampung black pepper) jatuh pada masa musim panen tahun ini, dari sebelumnya Rp 120.000-Rp 150.000 per kilogram menjadi hanya Rp95.000-Rp100.000 per kilogram.

Andoni, petani lada di Kecamatan Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat yang ditemui sedang memanen lada, mengatakan semenjak satu bulan ini sebagian petani sudah mulai panen. Panen tahun ini diperkirakan lebih baik dibanding tahun sebelumnya mengingat buah lada lebih lebat. Meski panen cukup baik sebagian besar petani lada mengeluhkan harga bumbu masakan yang lebih rendah dibanding masa panen sebelumnya.
“Kami berharap bisa menikmati panen raya. Tapi baru awal panen harga lada sudah jatuh hingga Rp 95.000-Rp 100.000 per kg. Padahal sebelum panen harga lada mencapai harga maksimal Rp 150.000 yang bisa kami gunakan untuk biaya sekolah pada awal tahun ajaran baru” ungkap laki laki yang juga menanam tanaman kopi di sela sela tanaman lada miliknya saat dikonfirmasi media Cendana News, Senin (26/7/2016)
Ia menerangkan pada awalnya warga desanya kebanyakan bertanam kopi jenis arabica dan robusta. Tapi karena harga kopi bertahun-tahun murah, mereka beralih menanam lada. Ketika lada mulai panen, harganya turun pula. Ia bahkan mengaku sempati sudah tidak bergairah lagi memasuki panen lada akibat harganya yang tak bersahabat. Meski harga anjlok namun ia mengaku masih bingung untuk mengambil keputusan mengganti dengan tanaman lain  yang harganya lebih baik.
Kepala Pekon Way Heni, Ismaun, mengakui, sejak harga kopi murah, banyak petani di daerahnya yang mengkonversi tanaman ke lada.
Meskipun konversi tersebut tidak menguntungkan bagi petani kopi yang beralih ke tanaman lada. Selain itu  agroklimat Pesisir Barat yang rata-rata ketinggiannya 500 meter di atas permukaan kurang cocok ditanami lada namun demikian petani banyak yang menanamnya. Akibatnya, cita rasa lada hitam yang dihasilkan kurang pedas, sehingga harganya lebih murah.
“Kita tidak bisa pungkiri masyarakat petani mengikuti trend menanam komoditas pertanian sesuai harga yang sedang baik namun saat anjlok tidak memiliki cadangan komoditas lain” ungkapnya.
Mengantisipasi kerugian lebih besar dengan melimpahnya panen tanaman lada, sejumlah petani sengaja melakukan penyimpanan lada dalam wadah kedap udara untuk dijual pada saat harga membaik. Tarnen,yang memiliki lahan seluas setengah hektar mengaku menjual sebagian lada hasil panennya untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian disimpan menunggu hasil membaik.
“Lada merupakan jenis komoditas yang bisa disimpan beberapa tahun asal ditangani dengan cara yang baik sehingga bisa disimpan menunggu harga membaik bagi petani” ungkap Tarnen.
Tarnen juga memilih menanam dan menjual lada hitam miliknya dengan alasan lada hitam memiliki cara penanganan lebih mudah dibandingkan dengan lada putih. Selain menggantungkan hasil komoditas lada Tarnen mengaku memiliki tanaman kopi jenis robusta yang bisa digunakan untuk pembuatan kopi bubuk dan dijual dalam bentuk kemasan.
Ia berharap harga komoditas pertanian jenis lada hitam akan kembali membaik bagi para petani terutama kebutuhan sebagian petani yang telah memasukkan anak anaknya memasuki tahun ajaran baru sekolah.
Pantauan Cendana News sebagian petani lada mendatangkan tanaman lada dari wilayah pedalaman Way Haru dan Way Heni yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Tampang Belimbing yang merupakan kawasan konservasi. Sebagian petani masih memanfaatkan sarana angkutan gerobak sapi untuk membawa komoditas pertanian ke sejumlah pasar tradisional untuk dijual.(Henk Widi)
Lihat juga...