Jumardin Perancang Mesin Pemarut dan Penyaring Sagu

JUMAT, 21 JULI 2016

BALIKPAPAN — Tanaman sagu banyak ditemui di Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Tanaman sagu akan banyak terlihat sepanjang daerah aliran Sungai Kandilo.

Jumardin disamping miniatur mesin pemarut dan memegang Batang pohon sagu
Sejak dulu sagu menjadi salah satu makanan pokok masyarakat Belengkong. Kemudian berjalannya waktu. Pati sagu diolah menjadi bahan pembuat kue dan olahan lainnya oleh petani di Desa Pasir Belengkong.
Seperti apa pembuatan Pati sagu di Kecamatan Pasir Belengkong, batang yang sudah cukup tua diparut dengan alat parut manual dengan tenaga manusia dua orang. Kemudian hasil parutan dicampur dengan air dan diinjak-injak untuk memisahkan ampas dan Pati sagu. Selanjutnya disaring ampasnya dan air bercampur pati ditampung, dan diendapkan patinya, lalu air dibuang dan hanya tersisa pati sagu.
Jumardin, salah seorang warga Desa Pasir Belengkong yang sudah belasan tahun membuat pati sagu merasa ingin mencari sebuah alat yang mempermudah pekerjaan memarut dan menyaring sagu.
Akhirnya, di akhir tahun 2015 dan awal tahun 2016, Jumardin merancang sebuah alat-alat bekas yang bisa digunakan untuk merancang mesin pemarut dan penyaring sagu.
“Alat parut berbentuk bulat dengan penggerak mesin bisa digunakan untuk memarut batang sagu. Dengan alat ini setengah hari bisa menghasilkan 5-7 karung pati sagu. Kalo manual membutuhkan waktu dua hari untuk menghasilkan lima karung pati sagu,” terang pria kelahiran 1976 ini saat ditemui di pameran teknologi tepat guna di Dome Balikpapan, Kamis (21/7/2016).
Jumardin mengatakan keinginan untuk memudahkan dan mempercepat cara kerja pembuatan sagu menjadi hal utama dalam merancang alat tersebut.
Adapun cara kerja mesin pemarut dan penyaring sagu tersebut yakni, alat parut terbuka dan tertutup dengan ukuran 1/6 lebar batang sagu. Kemudian potongan sagu ditahan menggunakan kaki beralas sepatu. Posisi tersebut cukup aman karena Batang sagu yang diparut masih memiliki kulit Batang yang tebal sehingga aman bagi kaki operator.
“Hasil parutan ditampung dalam bak yang diisi air menggunakan mesin. Hasil parutan batang sagu dan air diaduk dengan baling-baling yang digerakkan dengan mesin sehingga ampas kasar sagu dan pati sagu terpisah,” beber pria berusia 40 tahun ini.
Selanjutnya ampas dan pati sagu yang masih bercampur air dikeluarkan pada alat saring yang digerakkan dengan mesin sehingga ampas kasar terlempar keluar.
Kemudian air pati sagu ditampung pada bak penampungan yang diberi kain saring halus untuk membuang ampas sagu halus yang masih terbawa pada air pati sagu.
Tahap akhir, air pati sagu diendapkan hingga terpisah antara Pati dan air. Selanjutnya air dibuang dan pati sagu dimasukkan ke dalam tempat.
Jumardin menyebutkan cara kerjanya tidak rumit karena lebih mudah dan mempercepat hasil yang diperoleh.
“Merakit alat ini terbilang mahal karena menghabiskan dana sekitar Rp 30 juta untuk pembelian alat, bahan dan lainnya,” ujarnya.
Namun biaya merakit mesin ini bersama-sama posyantek mitra Kecamatan Pasir Belengkong.
Mesin pemarut sagu ini bisa digunakan bersama pengrajin sagu. Hasil sampingan dari pengrajin sagu di Kecamatan tersebut diantaranya ampas sagu halus bisa digunakan untuk pakan ternak dan pupuk kompos bokashi.
Sementara kulit Batang sagu digunakan untuk kayu bakar. Daun sagunya dijadikan atap. Bahkan sagu nya bisa menjadi sajian kue untuk dihidangkan.
Pada kesempatan itu, Camat Paser Belengkong Hadi Ibnu Mansyah mengatakan mesin pemarut ini sangat bermanfaat bagi pengrajin sagu disekitarnya.
“Ikut dalam pameran teknologi tepat guna ini agar masyarakat juga tahu bahwa di kecamatan Paser ini ada mesin yang memarut sagu dan bisa mensejahterakan masyarakat sekitar,” tutupnya.(Ferry Cahyanti)
Lihat juga...