Jelang Masuk Sekolah, Penjahit Baju Kebut Pengerjaan Order Seragam

RABU, 13 JULI 2016

YOGYAKARTA — Pasca libur lebaran, Rabu (13/7/2016), sejumlah penjahit mulai bekerja mengebut penyelesaian order menjahit baju seragam sekolah. Pasalnya, tiga hari lagi pelajar setingkat Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas sudah mulai masuk. Karena itu, aktifitas di sejumlah tempat jahitan tampak begitu sibuk seperti yang terlihat di tempat jahit Dusun Kringinan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman.

Penjahit kebut pesanan baju seragam
Penjahit di kawasan Jalan Solo Kilometer 13, Kalasan, Dusun Kringinan, Anjar Sulistiyaningsih (40), saat ditemui di sela kesibukannya menjahit mengatakan, saat ini ada sebanyak 100 lebih baju dan celana seragam sekolah yang harus diselesaikannya dalam waktu tiga hari ke depan. Sementara, proses menjahitnya masih dilakukan secara manual dengan tenaga kerja 10 orang, sehingga pihaknya pun kini terpaksa menolak sejumlah order lainnya. 
“Kami memprioritaskan untuk menyelesaikan baju seragam sekolah, karena ordernya sudah masuk sejak seminggu sebelum lebaran”, ujarnya.
Anjar Sulistiyaningsih
Menurut Anjar, saat ini banyak orangtua lebih senang menjahitkan baju seragam anak-anaknya ketimbang membeli baju seragam yang banyak dijual di pasaran. Selain lebih pas di badan, menjahitkan baju juga dirasa lebih awet dan memuaskan. Sementara, bagi Anjar, banyaknya order itu menjadi rejeki tahunan yang selalu berulang pada setiap bulan Juli-Agustus. Namun, kata Anjar, banyaknya order tidak semua bisa diterima karena keterbasan kemampuan dalam pengerjaannya. 
“Maklum, kita memang bukan konveksi sehingga semua proses masih dilakukan satu persatu tanpa mesin”, pungkas Anjar.
Dengan proses manual itu, Anjar mengaku terpaksa menyiasatinya dengan mendahulukan baju seragam yang sifatnya wajib. Dijelaskan Anjar, setiap satu order baju seragam itu terdiri dari lima macam baju. Dari lima macam baju itu, Anjar mendahulukan macam baju yang wajib dikenakan pada hari-hari pertama masuk sekolah. Dengan demikian, semua kebutuhan konsumennya bisa terpenuhi.
Selain di bulan Juli dan Agustus, Anjar mengaku bisnis jahit baju juga ramai di bulan Mei dan September. Pada bulan-bulan itu, biasanya ada pesanan jahit baju seragam beberapa sekolah lain seperti sekolah pramugari, taman kanak-kanak dan kelompok ibu-ibu dari kampung sekitar. Tak ada kendala berarti yang dialami Anjar, karena meski harga benang jahit setiap tahun mengalami kenaikan harga, namun masih terhitung wajar. (koko)
Lihat juga...