Dengan PTT, Produktifitas Padi di Sleman Meningkat 1,2 Ton Per Hektar

KAMIS, 21 JULI 2016

YOGYAKARTA — Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DI Yogyakarta mengelar panen raya di lahan padi percontohan yang dilakukan dengan penerapan konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Dusun Karongan, Jogotirto, Berbah, Sleman, Kamis (21/7/2016). Dengan konsep PTT tersebut, produktifitas padi diklaim mampu meningkat sebanyak 1,2 Ton Per Hektar, dengan berbagai penghematan penggunaan air, waktu dan tenaga kerja.

Dengan lahan seluas 30 Hektar dan dikelola oleh Kelompok Tani Sedyo Maju, lahan padi di Dusun Karongan yang merupakan salah satu lahan percontohan berbasis PTT di Yogyakarta, terbukti mampu meningkatkan produktifitas padi menjadi sebesar 6,3 Ton Per Hektar. Jumlah ini lebih tinggi dari angka produktifitas padi yang dikelola secara konvensional yang hanya sebesar 5,3 Ton Per Hektar.
Kepala Seksi Kerjasama Dan Pelayanan BPTP DI Yogyakarta, DR. Arlyna Budi, P. SP. MP., saat ditemui di sela panen raya yang dihadiri pula oleh muspika setempat, menjelaskan, peningkatan produktifitas padi tersebut bisa dicapai dengan menerapkan PTT, meliputi penerapan teknologi pengairan basah kering atau Alternate Wetting and Drying (AWD), penggunaan mesin tanam atau transplanter dengan sistem tanam jajar legowo (jarwo transplanter) dan penggunaan varietas bibit unggul yang direkomendasikan, yaitu Inpari.

Selain mampu meningkatkan produktifitas padi, jelas Arlyna, penerapan PTT dengan sistem pengairan basah kering mampu menghemat air sebesar 15-30 Persen. Sedangkan penggunaan transplanter menjadi solusi bagi semakin langkanya tenaga kerja tanam padi yang selama ini menyebabkan musim tanam padi tak bisa dilakukan serempak. Selama ini, kata Arlyna, banyak petani harus menunggu tenaga kerja tanam yang sedang bekerja di tempat lain sehingga tanam padi tak bisa dilakukan bersamaan.
Tak hanya itu saja, lanjutnya, penggunaan transplanter juga mampu menghemat biaya tenaga kerja. Jika dengan tenaga kerja manusia dibutuhkan 10 orang, maka dengan transplanter hanya membutuhkan dua orang dan mampu melakukan proses tanam padi di lahan seluas 1.200 meterpersegi hanya dalam waktu 1 jam. Sedangkan dengan tenaga kerja manusia sebanyak 10 orang, menanam padi di lahan dengan luas yang sama membutuhkan waktu setengah hari, dari pagi hingga menjelang sore.
Dengan berbagai keunggulan konsep tanam padi PTT, Arlyna mengatakan, jika konsep tersebut akan diperkenalkan kepada semua petani dalam rangka meningkatkan produktifitas padi. Dijelaskan pula olehnya, PTT merupakan program penelitian yang sudah berlangsung selama 2 tahun, yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian yang di Yogyakarta dilakukan oleh BPTP DIY bekerjasama dengan International Rice Research Institut (IRRI).
Selain di Indonesia, kata Arlyna, program penelitian tersebut juga dilakukan di lima negara lain yaitu Myanmar, China, Vietnam, Thailand, dan Srilanka. “Di Indonesia sendiri penelitian dilakukan di Sumatera dan Yogyakarta dengan total luas lahan percontohan sebesar 76 Hektar melibatkan 100 petani di Sleman”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...