SEKITAR KITA — Sampah-sampah plastik, kardus, kertas serta sampah lain bertebaran di sepanjang jalan lintas Sumatera, sungai, selokan serta pembuangan sampah menjadi barang yang dianggap tidak berharga lagi. Meski demikian barang-barang tersebut merupakan mata pencaharian bagi laki-laki asal Serang, Banten ini. Bagi Samsudin (30) barang barang yang sudah menjadi sampah tersebut merupakan sumber uang sangat berharga baginya dan keluarganya. Selain setiap hari mendorong gerobak untuk mengumpulkan sampah ia mengaku setiap hari juga menampung sampah berupa botol plastik, besi rongsok, kardus dari pemulung lain di penampungan sekaligus tempat tinggal yang berukuran 6×5 meter dan menumpang di tanah milik orang.
Sampah-sampah tersebut tidak saja menguntungkan bagi usahanya sebagai pengepul barang barang bekas atau sampah namun juga memberi keuntungan bagi setiap desa yang ikut menjadi bersih setelah sampah tersebut dikumpulkan. Awalnya laki laki lulusan sekolah menengah pertama (SMP) tersebut ikut sang kakak yang sudah merantau ke Lampung dari Banten sejak 10 tahun lalu. Kini sang kakak sudah menjadi penampung sampah dan rongsokan dalam jumlah besar dan langsung dikirim ke Jakarta untuk didaur ulang sementara dirinya sejak berkeluarga memilih menjadi pengepul kecil.
“Saya setiap hari mencari sampah memakai gerobak sementara istri di rumah menunggu penjual sampah yang juga mencari sampah dengan karung untuk ditimbang dengan harga berbeda beda” ungkap Samsudin sembari memilah-milah sampah yang layak didaur ulang di kontrakan miliknya saat berbincang dengan Cendana News, Sabtu (23/7/2016)
Sebagai ladang rejeki profesi yang dianggap tak mentereng tersebut justru digeluti oleh Samsudin dan sang istri,Yuni (29) dan kedua adiknya Samsul (20) dan Hasan (19) yang hanya lulusan SMP seperti dirinya. Ia mengaku terus menekuni usaha tersebut karena melihat sang kakak terlebih dahulu sukses dan memiliki tanah dan rumah tinggal tetap meski awalnya hanya sebagai pemulung sampah.
Ia bahkan mengakui untung dari menjadi pengepul sampah cukup lumayan besar sehingga ia dan adik-adiknya tidak terpikir untuk menekuni usaha lain. Menggeluti usaha mengumpulkan sampah layak daur ulang selama beberapa tahun diakuinya bisa digunakan untuk membeli truk bekas yang berguna menyetor barang rongsok yang telah disusun ke pengepul besar.
“Awalnya saya coba dulu ambil mobil untuk mengirim ke pengepul besar nantinya kalau sudah ada modal lagi saya ikuti jejak kakak yang langsung kirim ke Jakarta ke pabrik langsung” ungkap Samsudin.
Sepekan sekali dirinya mengaku melakukan penyetoran sampah berupa kertas kardus,botol plastik serta rongsokan lain rata-rata sebanyak 2-3 ton. Barang tersebut sebagian dikumpulkan olehnya bersama sang istri namun sebagian merupakan rongsokan yang dibeli dari pemulung lain.
Ia bahkan mengisahkan sangat terbantu dengan adanya beberapa pemulung lain yang menyetor sampah kepadanya. Seorang pemulung yang biasa menjual botol plastik kepadanya bahkan dalam dua pekan sekali berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp800-1juta dari penjualan botol bekas air mineral dan kardus. Keberadaan sampah dari pemulung lain menambah jumlah sampah yang akan disetor ke pengepul besar sehingga truk miliknya sekali angkut bisa membawa banyak rongsokan.
Sepanjang tahun 2016 Samsudin mengaku harga rongsokan atau sampah layak daur ulang cukup menurun diantaranya tahun sebelumnya jenis kertas kardus seharga Rp1.800 perkilogram namun kini hanya Rp 1.200. perkilogram. Sementara besi yang sebelumnya Rp5.000 perkilogram kini hanya dihargai Rp3.000 perkilogram. Berbagai jenis botol air mineral biasanya Rp2000 perbotol koni hanya rp 1500 perbotol. Sementara jenis logam semula seharga Rp70.000 perkilogram kini hanya mencapai Rp30.000 perkilogram dan alumunium semula seharga Rp10.000 perkilogram hanya menjadi Rp7.000 perkilogram.
“Semoga harga cepat bisa naik karena saat ini sampah rumah tangga dan masyarakat sudah banyak yang dikumpulkan dan dijual oleh setiap orang di rumah tidak seperti dulu” ungkapnya.
Kendala lain selain menurunnya harga yang dibeli oleh pengepul besar,ia mengaku profesi pemulung masih dianggap menjadi sebuah profesi yang dianggap warga sebagai profesi yang mengancam keamanan dengan sering hilangnya barang-barang di sekitar tempat tinggal. Beberapa perumahan bahkan memasang plang larangan pemulung beroperasi di sekitar perumahan. Akibatnya Samsudin dan rekan rekannya hanya beraktifitas di sepanjang jalan dan terkadang di sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah.
Pekerjaan yang dianggap tidak menghasilkan tersebut menurut Samsudin telah berhasil memberi penghidupan bagi keluarganya dan membuatnya bisa mencicil tanah kavling dengan uang muka Rp5juta. Tanah yang dibayar dengan cara mencicil tersebut rencananya akan menjadi tempat baginya mengumpulkan sampah dan rongsokan yang menjadi sumber mata pencahariannya. Meski meninggalkan Pulau Jawa ia mengaku senang bisa mencari penghasilan di perantauan untuk masa depannya. Apalagi ia yakin dengan masih banyaknya masyarakat yang senang membuang sampah plastik sembarangan di jalan merupakan berkat baginya menangguk jutaan rupiah.(Henk Widi)