Batik Tangerang : Bertutur Akhlak dan Menyatukan Perbedaan

SELASA, 19 JULI 2016

JAKARTA — Indonesia seolah tidak habisnya bertutur tentang kekayaan seni dan budaya masyarakatnya. Bahkan dari satu jenis karya seni atau budaya saja, Bangsa ini dapat bercerita tentang ribuan jenis seni budaya bernilai tinggi dari Sabang sampai Merauke. 
Diorama Busana tradisional Tangerang Yang merupakan perpaduan dengan busana Betawi (safari biru muda dan kebaya berikut kerudung merah muda)
Salah satunya adalah Batik nusantara, dimana saat orang bercerita tentang Batik maka ia dapat pula bercerita tentang masing-masing daerah yang ada dalam gugusan nusantara satu persatu. Hal ini karena semua daerah di Indonesia memiliki khasanah motif khasnya masing-masing, salah satunya dan yang sedang berkembang saat ini di Jakarta adalah Motif Batik khas Tangerang dari Provinsi Banten.
Tangerang merupakan Kota ketiga terbesar di wilayah Jabodetabek setelah Jakarta dan Bekasi. Selain itu terdapat pula Kabupaten Tangerang yang berbatasan di sebelah barat dengan Megapolitan Jakarta dengan Ibukota Kabupatennya Tigaraksa. Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang merupakan dua wilayah berbeda baik secara geografis maupun tatanan pemerintahannya, namun berhasil dipersatukan oleh sebuah karya seni dan budaya masyarakat lokal yang bernama Batik Tangerang. 
Contoh beberapa Motif Batik khas Tangerang di Anjungan Provinsi Banten TMII
Batik yang ada di Kota Tangerang maupun Kabupaten Tangerang adalah sama dari segi motif maupun nama serta kandungan nilai kearifan lokal didalamnya. Sama artinya dengan jika warga Kota Tangerang maupun Kabupaten Tangerang berbicara tentang Batik lokal maka mereka akan berbicara tentang Batik Khas Tangerang tanpa ada embel-embel kota maupun kabupaten didepannya.
Sama dengan masyarakat Baduy, maka masyarakat Tangerang memiliki banyak sekali karya seni budaya Batik Nusantara dengan motif-motif menarik. Berikut adalah motif-motif batik khas Tangerang :
1. Motif Relung Nyimas Melati, perpaduan warna biru, putih, dan merah, dimana wanita dan bunga melati menggambarkan sosok Pahlawan wanita Tangerang bernama Nyimas Melati sekaligus unsur tarian cokek sebagai sebuah tarian khas kota tangerang. Gambar berbentuk gelembung air mewakili letak geografis tangerang yang berada di aliran sungai cisadane.
2. Motif Sungai Cisadane, perpaduan warna hitam, hijau, dan putih, menggambarkan betapa aliran sungai cisadane berikut segala kekayaan yang terkandung didalamnya sangat berarti bagi kotaTtangerang.
3. Motif Perahu Naga, perpaduan warna merah muda, abu-abu, dan putih, menggambarkan lomba perahu naga yang sering diadakan oleh Pemerintah kota Tangerang maupun kabupaten Tangerang di sungai cisadane.
4. Motif tari cokek, perpaduan warna merah, biru muda, dan putih, menggambarkan tarian khas masyarakat Tangerang bernama tari cokek cisadane.
5. Motif Akhlakul Karimah, perpaduan warna merah, hitam, dan putih, dengan lafadz ‘Allah’ berbentuk ka’bah melambangkan motto hidup masyarakat Tangerang yang akhlakul karimah.
6. Motif Al-Adzom, perpaduan warna merah muda dan putih, menggambarkan wanita Tangerang sebagai wanita berakhlak serta mempunyai dasar religi yang kuat. 
7. Motif Tangerang Herang, perpaduan warna biru, merah, dan putih, menggambarkan sejarah perjuangan rakyat tangerang melalui Nyimas Melati di zaman kolonial Belanda, dan gambar kotak berjumlah sepuluh adalah simbol Pintu Air 10 yang merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kolonial Belanda di Tangerang.
Sandal Wanita dengan motif Batik khas Tangerang Nyimas Melati dan Perahu naga
Menyambangi ruang pameran UKM Asosiasi Industri Kreatif dan Pelaku Usaha Jalan Rajawali Tangerang, Cendana News bertemu dengan Sri Maryati Ketua UKM sekaligus warga Tangerang asli yang intens dalam mengangkat setiap sisi hasil seni dan kerajinan khas Tangerang. 
” Motif-motif Batik khas Tangerang jika ingin dicermati adalah banyak berbicara tentang Wanita, Kepahlawanan, dan Sandaran Kehidupan masyarakatnya,” Sri mengawali ulasannya.
” Bagaimana Nyimas Melati begitu gigih berjuang menentang penjajah Belanda tempo dulu, lalu bagaimana akhlak serta nilai-nilai kehormatan wanita begiutu dijunjung tinggi di Tangerang, dan begitu berharganya Sungai Cisadane bagi kami disini adalah bukti bagaimana kandungan nilai dibalik motif-motif Batik khas Tangerang sudah mencakup semua yang saya katakan sebelumnya,” Sri melanjutkan ulasannya.
Dalam perjalanan masyarakat Tangerang melintasi titian waktu, banyak terjadi pembauran etnis diantara mereka. Hal ini terjadi karena banyaknya etnis-etnis pendatang seperti Tionghoa, Betawi, Arab yang akhirnya menghasilkan keragaman khasanah budaya serta adat istiadat dari perpaduan tersebut. Salah satu contoh adalah dari pakaian adat khas Tangerang, mereka menggunakan kebaya wanita serta safari wanita sedikit menyerupai busana adat kebaya dan safari khas masyarakat Betawi atau disebut dengan Jakarta. 
Namun motif Batik khas Tangerang tetap hadir dengan menyertakan ciri motif lokal milik masyarakat Tangerang. Seperti beberapa motif yang bercerita tentang hal yang berasal dari luar wilayah Tangerang seperti motif Perahu naga (Tiongkok) dan motif Akhlakul Karimah (berlambang Ka’bah). Namun tetap semua itu tidak merubah apa yang menjadi ciri khas Batik Tangerang itu sendiri karena kontes Perahu naga diadakan di Sungai Cisadane kebanggaan masyarakat Tangerang, dan motif Akhlakul Karimah adalah bagaimana Agama menjadi filter bagi masyarakat Tangerang untuk bertumbuhkembang menjadi jiwa-jiwa yang menjunjung tinggi akhlak berdasarkan Agama atau kepercayaan yang dianutnya.
” Boleh dikatakan bertutur tentang pembauran etnis yang terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat Tangerang serta pembentukan nilai religi sebagai filter dari perubahan tatanan yang kemungkinan terjadi kedepannya. Dan yang paling membanggakan adalah Batik Tangerang turut mempersatukan warga Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang juga,” jelasnya.
Selain Batik, daerah Tangerang juga memiliki berbagai varian kerajinan tangan yang dapat diandalkan sebagai komoditas, contohnya batu akik, anyaman, serta beragam pernak-pernik cinderamata buatan pengrajin-pengrajin lokal Tangerang. UKM ASIPA pimpinan Sri Maryati terus berupaya untuk mempererat hubungan dengan pengrajin lokal khas Tangerang terkait Batik Tangerang dan kerajinan tangan lainnya.  
Melihat sepak terjang UKM ASIPA maka dapat dikatakan bahwa peran masyarakat adalah sangat besar dalam mengangkat hasil-hasil kreatifitas lokal sekitarnya. Akan seperti apa komoditas lokal masyarakat suatu daerah ditentukan bagaimana peran masyarakatnya untuk bersama-sama mengangkatnya hingga ke titik diinginkan. Sri Maryati bersama UKM ASIPA (Asosiasi Industri Kreatif dan Pelaku Usaha) sudah melakukannya dengan baik.
” dari masyarakat dan untuk masyarakat juga, seperti itulah sebenarnya dasar pemikiran pembentukan UKM ASIPA sejak awal berdirinya. Intinya sama-sama berkembang dengan saling mendukung satu sama lain,” pungkas Sri diakhir wawancara.
Bagi masyarakat yang ingin lebih mengenal bagaimana Batik Tangerang selengkapnya berikut kerajinan-kerajinan tangan apa saja yang menjadi andalan Tangerang dapat mengunjungi Anjungan Provinsi Banten Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Timur atau mengunjungi langsung ruang pameran di kantor UKM ASIPA jalan Rajawali, Tangerang.(Miechell Koagouw)
Lihat juga...