RABU, 27 JULI 2016
MATARAM — Pengembangan dan peningkatan sektor pangan yang dicanangkan pemerintah baik pusat maupun daerah dalam rangka peningkatan swasembada pangan nasional selama ini dinilai masih diskriminatif dan hanya terfokus pada sektor pangan beras.

“Pengembangan pangan oleh pemerintah masih banyak terfokus pada beras, sementara jenis pangan lain seperti ubi, jagung maupun beberapa jenis komoditi pangan lain kurang diperhatikan, bahkan cendrung diabaikan” kata Dosen pertanian Universitas Mataram, Prof. Arif di acara semiloka nasional ketahanan pangan berbasis pangan lokal dengan Kementerian Pertanian di Mataram, Rabu (27/7/2016).
Bahkan ia mengatakan, kalau dilihat kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional, bukan lagi setengah hati, tapi lebih pantas disebut salah urus dan belum menjadi komitmen politik yang diimplementasikan dalam bentuk kebijakan.
Menurut Arif di Indonesia yang sebagian besar merupakan daerah agraris, banyak sekali terdapat berbagai jenis pangan lokal yang bisa dikembangkan menjadi pangan nasional, sehingga tidak bergantung pada beras semata.
“Ketergantungan sebagian besar masyarakat pada satu jenis komoditi pangan seperti beras inilah yang membuat impor tidak pernah bisa berhenti dilakukan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri” terangnya.
Sementara itu, Asmawati Raba, Dosen Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram mengungkapkan, selama ini pemerintah demikian gencar mendorong peningkatan swasembada pangan nasional dan pemberdayaan kepada petani, tapi ketika produksi pertanian melimpah, dari sisi pemasaran, petani cendrung kurang diperhatikan.
“Kalau ingin petani bisa menikmati kesejahteraan, maka kata kuncinya, selain harus ada pemasaran jelas, impor juga harus dihentikan” tutupnya.(Turmuzi)