RABU, 27 JULI 2016
SUMENEP — Memasuki musim tanam tembakau di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, rupanya antuasisme petani menanam ‘daun emas’ menurun drastis. Pasalnya dengan kondisi cuaca yang masih ekstrim membuat mereka khawatir tanaman garapannya gagal panen, akibatnya akan mengalami kerugian cukup besar.
![]() |
| Salah seorang petani berada di sawah sedang merawat tanaman tembakau |
Dengan kondisi musim kemarau basah para petani tembakau di ujung timur Pulau Madura para petani kebanyakan enggan menanam tembakau, selain kwalitas yang kurang baik cuaca yang tidak mendukung itu akan berdampak buruk terhadap bibit tembakau yang ditanam. Sebab apbila tanaman tembakau terlalu lama tergenang air hujan akan mati, sehingga petani harus kembali menanam ulang.
“Kalau ploting area tembakau pada tahun ini mencapai 21.923 Hektar, tetapi diprediksi yang digunakan petani untuk tanam tembakau hanya sekitar 14.000 Hektar. Seandainya dengan kondisi normal, maka ploting tersebut akan digunakan secara keseluruhan, jika kondisi seperti ini banyak petani yang tidak menanam tembakau,” kata Joko Suwarno, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, Rabu (27/7/2016).
Disebutkan, bahwa rendahnya antusiasme petani untuk menanam tembakau nantinya akan dapat berpengaruh terhadap tingginya harga tembakau, sebab ketika stok tembakau semakin sedikit kemungkinan besar harga akan tambah tinggi. Tetapi kondisi kemarau basah juga membuat petani menanggung resiko yang cukup tinggi, karena ketika terus menerus diguyur hujan, tanaman yang dikenal daun emas itu akan mati.
“Biasanya sekarang sudah memasuki musim kemarau, namun masih seringkali terjadi hujan, makanya banyak petani yang tidak tanam tembakau. Kalau berdasarkan informasi yang kami terima dari berbagai kecamatan antusiasme petani untuk tanam tembakau cukup rendah, sebab mereka tidak ingin menanggung kerugian cukup besar akibat cuaca yang tidak bersahabat,” jelasnya.
Para petani kebanyakan masih menunggu kondisi cuaca membaik untuk memulai menanam tembakau, namun ada juga sebagian yang memaksakan diri tetap menanam daun emas tersebut. Akibatnya tak jarang petani yang berulangkali menanam tembakau akibat tergenang air, sehingga modal yang dikeluarkan semakin lama tambah banyak. (M. Fahrul)