71 Tahun Merdeka, Empat Desa di Tanjung Bunga Masih Terisolir

MINGGU, 17 JULI 2017

LARANTUKA — Selama 71 tahun negeri ini merdeka 4 desa yang berada di kecamatan Tanjung Bunga bisa dikatakan masih terisolir dan terkesan belum tersentuh pembangunan.

Rumah warga di desa Laton Liwo.
Desa Aransina, Laton Liwo, Laton Liwo 2 dan Patisirawalang yang berada di ujung timur pulau Flores tepatnya berada di kecamatan Tanjung Bunga ini sulit diakses jalan. Untuk menuju desa Laton Liwo saja butuh waktu 2 sampai 3 jam perjalanan menempuh jarak 28 kilometer dari Waiklibang ibukota kecamatan Tanjung Bunga.
Belum lagi untuk menjangkau hingga ke desa Patisirawalang yang merupakan desa terujung di timur pulau Flores. Daerah yang dikenal dengan nama Basira ini hanya bisa dijangkau lewat laut. Jalan tanah sejauh ± 9  kilometer dari desa Laton Liwo praktis tidak bisa dilewati.
Jalan menuju desa Laton Liwo yang sulit dilewati.
“Kapal motor pun hanya seminggu sekali berlayar dari Basira menuju Larantuka dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan mengitari ujung timur pulau Flores,” ujar Kanis Soge.
Kanis yang ditemui Cendana News, Sabtu (16/7/2016) mengakui, kesulitan ini yang menyebabkan warga desa Patisirawalang merasa belum merdeka. Dikatakannya, jalan yang dibuka dari Waiklibang menuju tanah kelahirannya terjadi tahun 2004 dan 2009 oleh aparat TNI AD.
“Tapi kalau musim hujan dan badai jalan otomatis tidak bisa dilewati dan perahu motor pun tidak bisa berlayar. Jadi kami otomatis tidak bisa kemana-mana terkurung saja di desa,” tuturnya.
Selain jalan, kepala desa Laton Liwo Gaspar Balik Belaja kepada Cendana News juga mengeluhkan tak ada fasilitas listrik dan jaringan telekomunikasi. Segala informasi dari dalam dan dari luar otomatis lumpuh.
“Bagaimana kami mau mengetahui perkembangan informasi dari kabupaten apalagi saat ini ada 3 warga kami disandera teroris kami tidak tahu perkembangannya,” sebutnya.
Gaspar mengakui, hampir setiap warga di keempat desa tersebut lebih memilih merantau ke Kalimantan atau ke Malaysia akibat buruknya infrastruktur di desa mereka. Komoditi pertanian dan perkebunan serta ternak sulit dijual ke luar wilayah mereka.
“Hampir semua warga di desa kami pernah merantau. Potensi kami miliki tapi percuma kalau hasil komoditi kami tidak bisa dijual ke luar. Kalau bisa dijual pun kami harus bayar biaya transportasi besar,” ungkapnya.
Gaspar tidak memungkiri, dengan adanya kasus penyanderaan oleh kelompok teroris Abu Shayaf di Filipina terhadap ketiga warga desanya selalu diberitakan media baik cetak, online maupun televisi dan dikenal dunia serta disambangi pejabat pemerintah.
“Mudah-mudahan dengan adanya pemberitaan media, presiden bisa merespon ketiadaan listrik, jaringan telekomunikasi dan memperbaiki akses jalan menuju empat desa yang terisolir,” harapnya.(Ebed de Rosary)
Lihat juga...