Pancasila Lemah, Akibat Kurang Tegasnya Pemerintah

RABU, 1 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Saat ini kelompok kanan dan kiri sudah bersatu dan menyerang negara berkembang termasuk Indonesia. Komunis sebagai salah satu paham kiri karena tidak menerima Pancasila, menggunakan kendaraan Hak Asasi Manusia (HAM). Sementara kelompok kanan seperti paham agama Islam yang dibungkus dengan kepentingan politik negara asalnya, menyerang dengan visi Negara Islam. 


Tokoh besar Nahdlatul Ulama dan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2004-2009, KH Hasyim Muzadi, mengatakan saat ini kekuatan barat dan timur sudah bersatu, dan menyerang negara berkembang termasuk Indonesia. Maka, sekarang ini kelompok kanan dan kiri datang bersamaan. Sementara itu, ketahanan nasional di dalam negeri sangat menurun. “Karena itu, perlu ada ketegasan negara untuk membingkai Pancasila. Bukan hanya untuk menyemai Pancasila, karena untuk apa penyemaian kalau hama-hama itu terus saja masuk ke Indonesia?”, tegasnya.
Kyai Hasyim yang ditemui usai memberi orasi bertema Pembudayaan Pancasila dalam penutupan Konggres Pancasila VIII di Balai Senat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Rabu (1/6/2016), juga mengatakan, setiap rejim di mana pun memang akan selalu menghadapi gangguan dari kelompok kiri dan kanan. Entah itu karena faktor ketergantungan, seperti hutang luar negeri atau lainnya. “Negara kita saat ini yang banyak bergantung pada Negara China melebihi ketergantungan negara kita di masa lalu, juga memberi pengaruh terhadap kondisi di dalam negeri sekarang ini”, jelasnya.
Kyai yang dikenal plural yang juga mantan Wakil Rais Aam PB NU periode 2010-2015 itu menilai, penegakkan Pancasila disebabkan lemahnya sistem akomodasi yang ada di Indonesia sehingga tidak bisa cepat mengambil keputusan. Salah satu penyebab lain juga kabinet pemerintahan yang masih pelangi. Ini ditambah lagi dengan gerakan internasional yang masuk sebagai gerakan yang tidak cocok dengan sistem yang sedang berjalan. “Ini harus diatasi secara bersama-sama dan tidak bisa satu satu”, ungkapnya.

Sementara berkenaan dengan paham agama dan Pancasila, pun Kyai Hasyim menegaskan sekali lagi, jika sejak 1984 Islam telah menerima Pancasila sebagai ideologi dan filsafat negara. Karenanya, semua agama harus bersatu di bawah Pancasila. “Tapi, setelah 2001 semua terbuka dan masuk angin. Berbagai macam ideologi transnasional masuk dan dibiarkan begitu saja”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...