Nasib Perempuan Cermin Kondisi Masyarakat

SELASA, 14 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Masih adanya kesenjangan gender, membuat kesempatan berkiprah perempuan masih belum terbuka luas. Perempuan masih dinomor-duakan dan bahkan sebagian lagi masih banyak yang hanya dibebani oleh pekerjaan dapur. Padahal, persoalan perempuan adalah persoalan masyarakat, dan kondisi perempuan itu adalah cerminan kondisi umum masyarakat itu sendiri.

Yuni Satya Rahayu
Demikian kata pengantar Soekarno (Bung Karno), dalam karya bukunya Sarinah yang ditulisnya di Yogyakarta pada tahun 1947. Ungkapan itu ditulis Bung Karno untuk menunjukkan betapa besarnya arti kedudukan perempuan dalam susunan masyarakat, sehingga keberadaannya mewakili keadaan umum di masyarakat. Jika perempuan terkungkung dalam penindasan, maka berarti masyarakat pun keadaannya juga demikian.
Masalahnya sekarang, perempuan seringkali masih terjebak dalam peran domestik, sehingga lebih banyak terbebani oleh pekerjaan dapur seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dan merawat anak dan segudang pekerjaan rumah lainnya. Peran domestik menjadi beban perempuan, karena masih adanya relasi kuasa dalam rumah tangga. “Namun, ketika perempuan mencoba berkiprah di ranah publik, perempuan harus menghadapi masyarakat yang ternyata masih patriarkis”, demikian dikemukakan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DI Yogyakarta, Yuni Satya Rahayu, saat membuka Kursus Kader Politik Perempuan di Gedung DPP PDIP Yogyakarta, Selasa (14/6/2016).
Sementara itu, di bidang politik, partai politik pun juga menghadapi tantangan dengan belum terbangunnya sistem organisasi yang baik, sehingga kaderisasi di tubuh partai tak bisa berjalan baik, terutama dalam mengakomodasi peran perempuan untuk mengambil peluang politik secara lebih leluasa. Karenanya, DPP PDIP DIY berinisiatif membangun kader partai perempuan, yang diharapkan mampu memberdayakan peran perempuan secara lebih luas.
Melalui kursus kader perempuan dengan narasumber aktivis perempuan dan akademisi seperti DR. Nahiya, Sarimurti Dewi dan sejumlah tokoh partai dari Badan Pendidikan Dan Pelatihan (Badiklat) Eva Kusuma Sundari dan Ketua Badan Pendidikan Latihan Daerah (Badiklatda) DIY, Bayu Selaadji, peserta kursus akan dibekali dengan berbagai kemampuan agar bisa melakukan pendampingan dan advokasi terhadap berbagai persoalan perempuan dan anak. “Hal penting dari adanya kursus kader partai perempuan ini, kami ingin menjadi partai yang ramah perempuan dan rumah bagi perempuan”, ujar Yuni.
Namun demikian, Yuni pun juga meminta agar kaum perempuan melakukan otokritik. Bahwa, masih banyak pula perempuan yang belum memiliki keinginan untuk maju dan berkiprah di politik. Padahal, sebagaimana dikatakan Bung Karno dalam Buku Sarinah, peran perempuan sangat penting dalam mengisi pembangunan, sebagaimana pentingnya peran perempuan yang telah terbukti di zaman perjuangan kemerdekaan. 
Diakui Yuni, masih minimnya peran perempuan di bidang politik adalah masih banyaknya perempuan yang menganggap politik itu kotor dan masih adanya keraguan untuk berperan lebih luas di ranah publik. “Padahal, peran perempuan dalam memenuhi tuntutan budi nurani manusia perempuan atas ketidak-adilan ekonomi dan politik di tengah himpitan sistem liberalisme dan kapitalisme yang kian merangsek pula ke dalam wilayah domestik atau rumah tangga dan wilayah publik, iti sangat penting”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...