JUMAT, 24 JUNI 2016
LARANTUKA — Lodovikus Luis da Silva dan Bibiana Koten dua petani garam berumur 70-an tahun ini sejak sekitar tahun 1973 mulai memasak garam. Mengambil tempat persis di muara kali mati desa Lewolaga kecamatan Titehena kabupaten Flores Timur, suami isteri perantau asal kota Larantuka dan Tanjung Bunga ini tekun menjadi petani garam tradisional.

“Sejak jaman nenek kami, mereka sudah bekerja menjadi petani garam,” ujar Vikus saat ditemui Cendana News, Jumat (24/6/2016)
Lelaki dengan penglihatan yang mulai rabun ini tekun menjalani profesi ini walau hasil yang didapat hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Kami tidak berpendidikan jadi hanya bisa belerja seperti ini,” ucapnya lirih.
Dikisahkan Bibiana Koten isteri Vikus,awal memasak garam dilakukan dengan mengambil air laut yang berada di rawa kali mati berjarak 5meter sebelah utara rumahnya. Air tersebut pun disiram di tanah dan dibiarkan mengering. Tanah kering ini lanjutnya ditaruh diatas meja yang ditopang tiang segi empat beralaskan tikar dari anyaman daun gebang.
“Air laut kami ambil lalu siram di atasnya.Air yang menetes ke bawah ditampung di ember plastik,” papar Bibiana.
Air garam ini pun dimasak di dalam sebuah wadah sederhana yang dibuat dari drum aspal bekas yang dibersihkan dan dibentuk segi empat sepanjang 1,5 meter dan lebar 45 sentimeter.
Proses memasak garam berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Nyala api ikut menentukan cepat atau lambatnya proses ini. Bila kayu yang dipakai bagus garam bisa dihasilkan dalam waktu 8 sampai 9 jam, dan jika kayunya jelek butuh waktu 10 sampai 11 jam.
“Semuanya tergantung tanahnya, jika bagus maka hasilnya leih baik dan cepat masak,” sambung Vikus.
Biasanya di bulan Agustus dan September kualitas garam yang dihasilkan lebih baik. Warna garam lebih putih dan tidak kotor. Garam halus ini dijual sang anak yang sudah berkeluarga.
Penjualan garam dilakukan di desa sekitar Lewolaga seperti Eputobi, Wolo, Kanada hingga di pasar Boru kecamatan Wulanggitang setiap hari Senin.
“Kami sudah tua jadi tidak bisa jalan jauh, biar anak saja yang jual ke pasar kalau sudah banyak,” ucap Bibiana lirih.
Semua peralatan memasak garam masih seperti dahulu, sangat sederhana.Wadah meniriskan air garam berbentuk kerucut dinamakan Ohang sedangkan wadah menyaring garam yang sudah dimasak disebut Nome.

Terdapat 6 rumah di pantai Lewolaga dimana semuanya penghuninya berprofesi sebagai petani garam tradisional. Rumah beratap ilalang dan berdinding bambu belah (Keneka) yang ditinggali para petani garam ini tetap berbentuk seperti puluhan tahun silam.
“Dulu ada proyek tambak garam di pantai Lewolaga namun tidak berhasil dan sampai sekarang tidak terpakai lagi,” papar Bibiana.
Mereka mengakui pernah didatangi calon bupati dan anggota DPRD seraya dirayu untuk memilih mereka namun usai pemilu, bantuan ember yang dijanjikan tidak diberikan, hanya janji manis saja.
“Padahal kami hanya minta dibelikan ember untuk menampung air garam yang sudah disaring saja, tidak lebih,” ungkap Bibiana seperti memelas.
[Ebed De Rosary]