Menpora Kukuhkan 458 Kader Pemuda Antinarkoba Se-Jabar

JUMAT, 3 JUNI 2016

BANDUNG — Sebanyak 458 kader pemuda antinarkoba se-Jawa Barat (Jabar) siap perangi ancaman narkoba di Indonesia. Mereka dikukuhkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi di Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (3/6/2016).

Para pemuda ini bertugas mensosialisasikan bahaya narkoba kepada masyarakat. Khususnya kepada teman sebaya, yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk,mencicipi benda terlarang itu. Mereka nantinya akan bekerjasama dengan pihak berwajib, baik itu dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) maupun Kepolisian.
“Program berikutnya mereka merekrut rekan sebaya menyadarkan masyarakat yang ada di masing-masing dan mereka akan bekerjasama dengan BNN dan Polisi untuk menyadarkan masyarakat,” tutur Imam.
Karena, keberadaan narkoba di Indonesia kian akut,  bahkan, ia menilai, sudah masuk ke Lembaga Pendidikan. Tentu saja hal ini membahayakan negara yang bertujuan mencetak anak muda sebagai calon pemimpin masa depan.
“Kalau BNN bergerak sendiri, Polisi bergerak sendiri kiranya kita tidak mempunyai kekuatan yang sempurna, kecuali kita libatkan masyarakat untuk melawan narkoba,” ucapnya.
Program ini ia istilahkan sebagai jihad. Dimana para kader akan mengajak masyarakat untuk menganggap narkoba sebagai musuh bersama. Imam menargetkan, kedepan bisa merekrut 37 kader untuk di Jabar.
“Terima kasih atas ketulusan saudara-saudara mau bersedia direkrut untuk jihad melawan narkoba. Ini jihad saudara-saudara,” ucapnya.
Diketahui, Jabar merupakan Provinsi pertama untuk dijadikan simulasi kegiatan antinarkoba ini. Setelah ini akan berlanjut merekrut kader pemuda di Jawa Tengah lalu di Jawa Timur. “Karena kita masih mengambil tiga contoh dulu di Pulau Jawa,” katanya.
Para kader memang tidak diberikan uang insentif alias gaji, hanya saja kelak akan ada dana pendamping untuk melakukan pelatihan kepada anak-anak di desa. Ia menyampaikan terima kasih, sebab cukup banyak pemuda yang antusias menjalankan program ini.
“Kurang lebih setiap desa itu Rp 10 juta, disitu semakin banyak lagi anak-anak kita yang menjadi juru bicara anti narkoba,” paparnya.
Menurutnya, Indonesia menjadi sasaran empuk bagi para pengedar narkoba. Teror dari sindikat internasional pun semakin marak terjadi di negeri ini. Imam berharap para pemuda tak gentar menghadapi situasi genting ini.
“Ke depan pemuda Indonesia harus berani secara terbuka, masiv melawan narkoba,” pungkasnya.(Rianto Nudiansyah) 
Lihat juga...