JUMAT, 3 JUNI 2016
SOLO — Marhaban ya Ramadhan atau selamat datang bulan Ramadhan, menjadi moment penting bagi umat islam untuk dapat kembali berjumpa dengan sebaik-baik bulan selama setahun. Namun sayangnya tidak semua umat islam menyambutnya dengan suka cita, dan gembira, karena disibukkan dengan bertambahnya kebutuhan selama puasa maupun lebaran.

“Mereka yang hanya disibukkan dengan bekerja untuk mencukupi kebutuhan baik saat ramadhan maupun lebaran, meskipun umat islam, berarti ia belum bisa memaknai bulan ramadhan sebagai bulan penuh barokah dan sebaik-baik bulan,” demikian papar KH Abdul Basyir dalam kutbah Jumat di Masjid Agung, Karanganyar, Jawa Tengah, kepada ribuan jemaah (3/6/16).
Diterangkan lebih lanjut, umat islam dalam menyambut bulan suci Ramadhan seharusnya dilakukan dengan suka cita, karena amalan di bulan puasa pahalanya lebih baik dari seribu bulan. “Bukan bulan Ramadhan dijadikan beban, karena harus mencukupi kebutuhan hingga melalaikan ibadah selama puasa,” tekannya.
Dijelaskan Imam Masjid Agung Karanganyar, kondisi inilah yang saat ini banyak dialami oleh umat islam di Indonesia. Sering kali lupa dengan hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan agama, demi untuk mencari hal-hal yang justru seharusnya hanya sebagai tambahan atau sekunder dalam menjalankan ibadah.
“Tugas kita adalah kembali untuk mengingatkan, jangan sampai hal-hal yang seharusnya hanya tambahan jadi melupakan yang wajib dan sunnah. Bekerja boleh tapi jangan sampai melalaikan puasa, atau bahkan tidak berpuasa” pesannya.
Ditambahkan khotib, bukankah Allah telah berfirman, barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena mengharap ridho-Nya, maka akan diampuni seluruh dosa-dosanya. Hadits-hadits Rosullullah SAW juga banyak yang menyebutkan keutamaan bulan ramadhan. Seperti barang siapa yang memberikan buka puasa, maka dia akan diampuni dosa-dosa dan dibebaskan dirinya dari siksa api neraka.
“Bahkan orang yang memberi makan untuk berbuka bagi yang berpuasa akan diberikan pahala sama seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa,” kutipnya.
Bulan ramadhan yang merupakan bulan penuh barokah, bulan magfiroh dan bulan dibebaskan dari api neraka (Ifkumminannar), harus dimaknai sebagai bulan penuh amal ibadah, bulan shodaqoh, yang pahalanya di bulan ini akan dilipat-gandakan. Maka dari itu umat islam harus memaksimalkan bulan yang sangat langka tersebut.
Diakhir khobah khitib berpesan, bulan ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi harus disambut dengan suka cita, dan dipersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Umat islam juga diminta untuk lebih memperbanyak amalan, ibadah, dan shodaqoh selama bulan puasa.
“Anggap saja bulan ramadhan yang kita temui ini yang terakhir kalinya. Maka dari itu, kita maksimalkan ibadah, sholat, ngaji dan ibadah lainnya. Semoga kita masih diberi umur panjang hingga bertemu kembali pada ramadhan yang akan datang, amin,” pungkas khotib dalam khotbah Jumat menjelang datangnya bulan puasa tahun ini. (Harun Alrosid).