KAMIS, 23 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Sejarah Islam di Indonesia lekat dengan sejarah perjalanan para wali. Beberapa masjid tua diyakini sebagai buktinya, segala adat tradisinya terus dilestarikan. Salah satunya, Masjid Sabilurrosyad di Dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul, yang dipercaya warga setempat dibangun oleh salah satu murid Sunan Kalijaga yang bernama Panembahan Bodo.

Berada di tengah pemukiman warga Dusun Kauman, Masjid Sabilurrosyad tampak megah dengan halaman luas dan pagar keliling yang kokoh. Arsitekturnya khas Jawa, dengan atap bertumpang dan mustaka masjid dari tanah liat yang masih asli dari zaman Sunan Kalijaga. Masjid Sabilurrosyad pada awalnya bernama Masjid Kauman, karena pada awal berdirinya banyak ulama, rois, atau kaum yang tinggal di sekitaran masjid.
Selain masih memiliki beberapa bagian bangunan masjid yang masih asli, di komplek masjid itu juga masih terdapat batu yoni peninggalan Panembahan Bodo. Juga jam bancet yang mulai ada di masa penjajahan Belanda. Beragam peninggalan masa lalu itu masih juga dilengkapi dengan riwayat masjid yang telah terbukukan dengan baik oleh pengurus masjid.
“Juga tradisi zaman Panembahan Bodo masih dilestarikan”, jelas Haryadi, salah satu takmir masjid setempat, Kamis (23/6/2016).
Dijelaskan Haryadi, riwayat Masjid Sabilurrosyad itu berawal dari kisah perjalanan Panembahan Bodo, ketika melakukan syiar Islam di Jawa. Panembahan Bodo, kata Haryadi, nama aslinya adalah Raden Trenggana. Cucu Adipati Terung I di zaman akhir Majapahit. Ia dijuluki Panembahan Bodo yang berarti bodoh, karena menolak meneruskan tahta Kadipaten Terung dan memilih keluar dari istana dan mengembara.
Dalam pengembaraannya itu, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga dan diperintahkan berguru kepada Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Lama berguru di Jatinom, Panembahan Bodo kemudian dinikahkan dengan salah satu putri Ki Ageng Gribig yang bernama Putri Kedupayung.
Setelah dianggap cukup ilmu, Panembahan Bodo diutus menyebarkan Islam di kawasan selatan. Pendek cerita, pada suatu ketika Panembahan Bodo mendengar suara gemuruh seperti derap ribuan prajurit di kejauhan. Ia kemudian mengejarnya sampai di Pantai Selatan dan ternyata suara itu hanya suara gemuruh ombak. Ia pun kemudian semakin dijuluki Bodo oleh Sunan Kalijaga.

Akibat peristiwa itu, Panembahan Bodo semakin ingin menyendiri untuk menyadari kebodohannya. Sunan Kalijaga kemudian menyuruhnya membangun masjid di tengah hutan pohon wijen. Diyakini, hutan itulah yang kini menjadi Dusun Kauman, dan masjid yang dibangun Panembahan Bodo tak lain adalah Masjid Sabilurrosyad. Karenanya, masjid yang dipercaya merupakan warisan murid Sunan Kalijaga itu dilestarikan. Termasuk juga tradisinya, yaitu makan bubur lauk sayur tempe yang diadakan selama Bulan Ramadhan ini.
[Koko Triarko]