Lipatan Besi Ribuan Kali, Ciri Keris Era Majapahit

MINGGU, 26 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Sebagai benda seni bernilai artefak kuno, keris menjadi tak ternilai harganya. Selain langka, keris dengan ketuaan usianya namun dengan bentuk yang masih relatif utuh, membuat sebilah keris itu istimewa. Karenanya, tak ada nilai rupiah baku dalam setiap transaksi jual-beli keris.
Hal demikian seperti yang ada pada sebilah keris paling tua dari puluhan keris tua lain yang dipamerkan di Pendopo Jiwangga Spiritual Resort Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Minggu (26/6/2016). 
Keris tersebut adalah Keris Patrem berdapur Jalak dengan pamor beras wutah. Dapur adalah istilah untuk menyebut bentuk keris, dan pamor adalah istilah untuk menyebut ornamen yang ada pada bilah keris. Di zaman dahulu pamor atau motif keris yang berwarna putih keperakan itu dibuat dari batu meteor. Sedangkan, patrem, merupakan sebutan untuk jenis keris kecil atau pendek.
Menurut pemiliknya, Danu Handoko, keris patrem berdapur jalak miliknya merupakan buatan era Majapahit awal. Hal ini terlihat dari karakter besinya yaitu besi purosani dan jenis pamornya. Juga dari lipatan besi yang rapat dan padat, menunjukkan jika keris tersebut dibuat melalui ribuan kali lipatan besi. 
“Dan, hanya keris dari zaman Majapahit saja yang masih dibuat dengan proses lipatan besi sebanyak ribuan kali itu,” jelasnya.
Sementara, ciri umum lainnya dari keris dari era Majapahit, lanjut Danu, adalah ukurannya yang lebih kecil dari keris era sekarang. Keris patrem miliknya yang berluk tiga semakin membuatnya langka. Pasalnya, keris dari era Majapahit dengan luk tiga itu memang sangat jarang ditemukan. Berbeda dengan keris lain berluk tiga dengan asal zaman pembuatan Mataram Hamengku Buwono yang mudah ditemui.
Danu menjelaskan, keris patremnya itu diperoleh dari daerah Candi Penataran di Jawa Timur. Sedangkan terkait makna filosofi keris patrem berdapur jalak dengan luk tiga itu merupakan lambang tiga hal penting, yaitu cipta, rasa dan karsa. Sementara kata jangkung bermakna menjangkau atau meraih, sehingga keris tersebut bermakna perlambang kehidupan, bahwa untuk mencapai cita-cita dibutuhkan cipta, rasa dan karsa.

[Koko Triarko] 

Lihat juga...