Konsisten Pertahankan Musik Etnik, Tawa Tana Waiara Banjir Order

SABTU, 4 JUNI 2016

MAUMERE — Ina Nian Tanawawa, Ina Meteng Ami Gete. Amang Lero Wulang Reta, Amang Paok Ami Mosa ( Bumi yang kita pijak merupakan harapan besar bagi kita. Langit yang kita junjung memberi kita kesehatan ).
Itulah sepenggal lagu bahasa Sikka berjudul Ina Nian Tanawawa yang dinyanyikan sanggar musik kampung Tawa Tana, Waiara, saat menyambut peserta TdF di Sea World, Senin (16/5/2016).
Lagu Ina Nian Tana Wawa kembali dipopulerkan oleh sanggar musik kampung Tawa Tana lewat sentuhan arensemen yang diperbaharui. Lewat album rekaman ulang, lagu daerah Sikka ini coba kembali dihidupkan. Dalam setiap pentas pun, lagu ini selalu diperdengarkan oleh sanggar ini.
Yohanes Fernandes ketua sanggar Tawa Tana, Waiara yang ditemui usai pementasan mengatakan, sanggar Tawa Tana yang dibentuk tahun 2002 didirikan guna menggali kembali musik kampung Nian Sikka.
Meski berada di pusaran persaingan dengan grup musik modern yang mempergunakan peralatan canggih, hal ini tidak membuat Tawa Tana ciut nyali. Pangsa pasar musik tradisional masih diminati masyarakat kabupaten Sikka.
Yohanes optimis selama mereka menjiwai musik etnik dan terus mengasah kemampuan, model kesenian yang diusung Tawa Tana bisa memberikan penghidupan bagi anggotanya.
“Kalau musim kemarau saat banyak dilaksanakan pesta nikah atau sambut baru kami sampai kewalahan menanggapi permintaan pentas. Terpaksa kami hanya bisa melayani satu dua permintaan saja dalam sehari. Kadang bisa ada 5 sampai 6 permintaan pentas dalam waktu yang bersamaaan sehingga terpaksa kami tolak yang pesan belakangan,” kata Yohanes.
Selain panggilan pentas dari rumah ke rumah, Tawa Tana juga terlibat menghibur para wisatawan asing di hotel Sea World dan hoatel lainnya serta para tamu pemerintah yang berasal dari luar daerah.
Selain panggilan pentas dari rumah ke rumah, Tawa Tana juga terlibat menghibur para wisatawan asing di hotel Sea World dan hoatel lainnya serta para tamu pemerintah yang berasal dari luar daerah. Tawa Tana juga selalu ditanggap pihak swasta dan LSM saat menggelar acara.Selain di Sikka tambah Yohanes, Tawa Tana juga pernah manggung di Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Kalau di Sikka hampir menyeluruh. Semua daerah sudah disinggahi. Pada tahun 2010 Tawa Tana ungkapnya mendapatkan kehormatan sebagai salah satu kelompok musik etnik dari propinsi NTT yang turut mengambil bagian dalam acara Solo International Contemporary Etnic Music di Solo, Jawa Tengah.
“Grup musik etnik tidak banyak diminati karena memikul tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya yang bukan hanya nyaris punah tetapi juga yang sudah punah, dan itu jelas tidak mudah. Kami mencoba melakukan itu semampu kami,”imbuh Yohanes.
Untuk sekali pementasan, Tawa Tana meminta “Uang Sirih Pinang“  atau tarif 1 juta hingga 1,5 juta rupiah. Penentuan tarif pun kadang disesuaikan dengan jarak tempat pementasan dan lamanya waktu pementasan. Kadang besarnya tarif beber Yohanes bisa dibicarakan terlebih dahulu.Sanggar juga ucapnya tidak ingin membebani masyarakat yang sangat merindukan penampilan mereka.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...